Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

135.793 Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Limbah B3, Pakar Ingatkan Risiko Pencemaran Air

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 09:31 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebanyak 135.793 atau 92,53 persen fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia belum melaporkan pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) melalui Sistem Pelaporan dan Evaluasi Digital (SPEED) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) sepanjang 2025.

Kondisi tersebut membuat pengelolaan sekitar 130.199,16 ton limbah B3 medis belum terlacak melalui sistem pelaporan pemerintah dan menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi pencemaran lingkungan, termasuk ekosistem perairan.

Pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Etty Riani mengatakan, limbah yang tidak dilaporkan tidak serta-merta berarti dibuang ke badan air. Namun, tidak adanya data pengelolaan membuat potensi risiko pencemaran menjadi sulit dipantau.

Baca juga: Penyedia Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Pengelolaan 130.199 Ton Limbah B3 ke KLH

"Jadi, saya sih tetap mengatakan bahwa walaupun tidak melaporkan, tidak berarti bahwa itu semuanya masuk ke dalam ekosistem perairan. Kendati demikian, potensi masuknya ke dalam perairan yang cukup besar," ujar Etty kepada Kompas.com, Selasa (18/8/2026).

Menurut Etty, salah satu kandungan yang perlu diwaspadai dari limbah medis adalah residu antibiotik. Zat tersebut dapat bertahan di lingkungan dalam periode tertentu karena memiliki waktu paruh (half-life) yang relatif panjang.

Artinya, ketika obat atau senyawa antibiotik masuk ke lingkungan, aktivitas kimianya tidak serta-merta hilang setelah obat tersebut kedaluwarsa. Residu yang sulit terurai berpotensi bertahan dan terakumulasi apabila pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik.

Residu antibiotik ganggu ekosistem

Jika residu antibiotik masuk ke badan air, dampaknya dapat dirasakan oleh mikroorganisme yang hidup di dalam ekosistem tersebut.

Etty menjelaskan, mikroorganisme yang memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem berpotensi terdampak. Sebaliknya, mikroorganisme yang mampu bertahan terhadap paparan antibiotik dapat berkembang dan menjadi resisten.

"Kalau yang mengandung residu antibiotik, tentu ini sangat membahayakan (terutama kalau) akhirnya yang bisa membantu kita hilang. Yang bandel dan akan merusak ekosistem itu justru resisten, menjadi kebal," tutur Etty.

Risiko tersebut juga dapat meluas melalui rantai makanan. Residu antibiotik yang masuk ke sungai atau laut berpotensi terpapar pada organisme perairan, termasuk ikan.

Jika ikan dari perairan yang tercemar kemudian dikonsumsi manusia, paparan terhadap residu antibiotik dapat terjadi melalui makanan.

"Kita akan terkontaminasi antibiotik bukan karena makan antibiotik, tapi karena mengonsumsi ikan. Antibiotik akan terakumulasi karena kan dia sulit urai. Half-life-nya tinggi ya, yang akhirnya akan mengakibatkan penumpukan di (dalam tubuh) manusia," ucap Etty.

Selain persoalan kontaminasi, keberadaan antibiotik di lingkungan juga dikhawatirkan mempercepat munculnya mikroorganisme yang resisten terhadap antibiotik.

Paparan antibiotik dalam konsentrasi tertentu dapat memberikan tekanan seleksi terhadap mikroorganisme. Mikroorganisme yang mampu bertahan dapat berkembang dan membawa mekanisme resistensi terhadap obat.

Baca juga: Bisnis Limbah B3 Berpeluang Tumbuh, KLH Minta Pengusaha Patuh Aturan

Kondisi tersebut berpotensi menyulitkan penanganan ketika mikroorganisme resisten menyebabkan infeksi pada manusia.

"Kalau terjadi infeksi, itu akan sulit diobati karena udah enggak mampu lagi dengan konsentrasi, misalnya jika dulu dengan 250 miligram sudah mati. Nah, sekarang sudah enggak mampu lagi, harus pakai 500 miligram. Ternyata enggak mampu lagi juga. Itu karena si bakterinya sudah resisten," ujar Etty.

130.199 ton limbah belum terlacak

Berdasarkan data SPEED KLH/BPLH, terdapat 146.751 fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia pada 2025.

Namun, hanya 10.958 fasilitas yang melaporkan pengelolaan limbah B3 melalui SPEED. Dengan demikian, sebanyak 135.793 fasilitas atau 92,53 persen belum tercatat melaporkan pengelolaan limbah B3 melalui sistem tersebut.

Dari seluruh fasilitas pelayanan kesehatan tersebut, potensi timbulan limbah B3 medis mencapai 190.656,61 ton.

Limbah yang tercatat melalui SPEED sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai 60.457,45 ton. Sementara itu, sebanyak 130.199,16 ton lainnya berasal dari fasilitas yang belum terlapor atau belum jelas pengelolaannya dalam sistem.

Direktur Pengelolaan Limbah B3 dan Non-B3 KLH/BPLH Amsor mengatakan, pengelolaan limbah medis merupakan bagian dari amanat Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Ia menekankan bahwa pelaporan melalui SPEED dibutuhkan untuk memastikan pengelolaan limbah B3 dapat dipantau dan dievaluasi.

Baca juga: KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya

"Pelaporan tersebut diperlukan untuk memperkuat data pengelolaan limbah sekaligus memudahkan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan pengelolaan limbah B3 di fasilitas pelayanan kesehatan," ujar Amsor, dilansir dari laman resmi KLH, Jumat (14/8/2026).

Menurut Amsor, pengelolaan limbah B3 medis berperan dalam mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan sekaligus melindungi kesehatan serta keselamatan manusia.

Karena itu, setiap fasilitas pelayanan kesehatan perlu memastikan limbah medis yang dihasilkan dikelola sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku.

KLH/BPLH juga akan memperkuat kapasitas, pengawasan, dan pelaporan pengelolaan limbah B3 bersama pemerintah daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Dengan pengelolaan dan pelaporan yang lebih tertib, pemerintah dapat mengetahui alur limbah medis sejak dihasilkan hingga dikelola. Keterlacakan tersebut menjadi penting untuk mencegah limbah B3 medis berakhir di lingkungan dan menimbulkan risiko pencemaran yang lebih luas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
'Long Service Award', Humanisasi di Tengah Era Transaksional
"Long Service Award", Humanisasi di Tengah Era Transaksional
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau