Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 10:29 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Upaya pemulihan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, pasca-kebakaran sejak Senin (3/8/2026), perlu mempertimbangkan aspek kehati-hatian dan menerapkan pendekatan berbasis pada kondisi ekosistem.

Salah satunya, melalui restorasi pasif dengan memberikan kesempatan bagi alam untuk menunjukkan kemampuan pemulihannya terlebih dahulu.‎

‎“Satu hal yang paling penting: jangan terburu-buru melakukan penanaman massal (restorasi aktif). Sering kali orang menganggap setelah kebakaran, solusinya harus langsung ditanami pohon banyak-banyak,” ujar Guru Besar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB), Endah Sulistyawati, dilansir dari laman resmi ITB, Selasa (18/8/2026).

Baca juga: Lahan 1.120 Hektar Hangus, BPBD Jatim Dikebut Siapkan Embung Antisipasi Karhutla Bromo

‎Menurut Endah, pengelola perlu terlebih dahulu memantau proses pemulihan alami. Pertandanya adalah kemunculan kembali rumput dan anakan pohon sebelum menentukan bentuk intervensi yang diperlukan.

Ia menganggap, pendekatan ini penting lantaran setiap ekosistem memiliki karakteristik yang berbeda. Penanaman pohon berkayu secara massal di kawasan TNBTS yang secara alami merupakan savana, justru berpotensi mengubah karakter ekosistem tersebut.

‎“Kalau kita langsung intervensi dengan menanam, apalagi jika yang ditanam adalah pohon berkayu massal di area yang sejatinya savana, kita malah mengubah ekosistem savana menjadi hutan,” tutur Endah.

‎Ia menilai, karakter savana di kawasan TNBTS erat kaitannya dengan dinamika api yang berlangsung secara alami di wilayah tersebut.

Maka dari itu, pemulihan kawasan perlu mempertimbangkan karakter ekologis asli agar intervensi yang dilakukan tidak justru mengubah fungsi dan struktur ekosistem.

‎Kemampuan ekosistem untuk memulihkan diri dikenal sebagai resiliensi atau daya lenting ekosistem dan berlangsung melalui proses suksesi. Ketika curah hujan kembali membasahi kawasan TNBTS, benih-benih rumput yang masih tersedia di dalam tanah berpotensi kembali berkecambah dan membantu memulihkan tutupan vegetasi secara alami.

‎Seleksi alam

‎Dalam jangka panjang, kebakaran yang terjadi secara berulang bisa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi proses seleksi alam dan adaptasi spesies. Misalnya, ekosistem kayu putih (Eucalyptus urophylla) di Timor yang memiliki kulit batang sangat tebal, sehingga mampu bertahan dari kobaran api.

‎Menurut Endah, api memberikan keuntungan ekologis bagi spesies yang mempunyai kemampuan adaptasi terhadap kebakaran. Misalnya, mengurangi keberadaan spesies pesaing di sekitarnya.

‎Selain memberikan kesempatan bagi ekosistem untuk memulihkan diri, kata dia, terdapat beberapa langkah penting yang perlu dilakukan pasca kebakaran. Di antaranya, melakukan asesmen untuk mengetahui kondisi dan luasan kawasan TNBTS yang terdampak.

‎Pemetaan spasial berbasis teknologi satelit bisa dipakai untuk mengidentifikasi sebaran area terbakar secara lebih akurat. Kemudian, data tersebut digunakan sebagai dasar dalam menentukan kebijakan pengelolaan dan pemulihan kawasan TNBTS.

‎Ia juga menggarisbawahi urgensi memperhatikan potensi gangguan terhadap sistem hidrologi. Hilangnya vegetasi penutup lahan dapat memengaruhi kemampuan tanah dalam menahan dan menyerap air ketika musim hujan tiba di mana kondisi ini berpotensi meningkatkan limpasan air risiko longsor di kawasan lereng Bromo.

Baca juga: Kebakaran Bromo Padam, Posko Penanganan Resmi Ditutup Setelah 16 Hari

‎‎“Pihak taman nasional wajib memastikan tidak ada lagi aktivitas yang memicu percikan api, terutama saat musim kemarau di mana vegetasi sedang berada pada kondisi yang paling rentan untuk terbakar,” tutur Endah.

‎Memahami karakteristik ekosistem savana

‎Ia menganggap, pemahaman karakteristik api dan ekosistem yang terbakar dapat menentukan respons maupun strategi pemulihan kawasan TNBTS.

‎Secara ekologis, kata dia, terjadinya kebakaran bergantung pada tiga unsur utama. Yaitu, bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di kawasan alam, seperti TNBTS, bahan bakar tersebut berasal dari biomassa yang terdapat di permukaan tanah, seperti daun, bunga, buah, atau kayu.

‎Selama musim kemarau, biomassa tersebut menjadi lebih kering, sehingga semakin mudah terbakar. Apalagi, ekosistem savana memiliki karakteristik terbuka dengan paparan panasnya tinggi dan angin bisa menyebar sangat cepat, meski biomassa-nya tergolong sedikit dibandingkan hutan lebat.

‎Kondisi ini membuat api dapat menyebar dengan cepat ketika percikan api mengenai vegetasi yang kering. Oleh karena itu, karakteristik lanskap dan kondisi vegetasi perlu menjadi pertimbangan penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran.

‎Dalam perspektif ekologi, api merupakan salah satu bentuk gangguan (disturbance) terhadap dinamika ekosistem. Ketika terjadi gangguan, ekosistem pada dasarnya memiliki kemampuan untuk merespons dan memulihkan diri.

‎Namun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap memberikan dampak langsung terhadap komponen ekosistem, terutama tumbuhan yang tidak dapat berpindah untuk menghindari api.

Baca juga: Bromo Ditutup, Omzet Pengusaha Jeep Wisata di Malang Turun hingga 40 Persen

‎Hilangnya vegetasi akibat kebakaran dapat mengurangi tempat berlindung sekaligus sumber pakan bagi satwa liar. Imbasnya, satwa liar terdorong untuk berpindah mencari ruang yang lebih aman.

‎“Apabila satwa liar memiliki waktu yang cukup, mereka akan berupaya melarikan diri. Persoalannya adalah, apakah masih tersedia ruang aman bagi mereka untuk berlindung? Jika tidak, mereka terpaksa memasuki kawasan pemukiman penduduk,” ucapnya.

‎Migrasi satwa ke kawasan yang berdekatan dengan aktivitas manusia berpotensi memicu kenaikan risiko konflik antara manusia dan satwa. Ini memperparah dampak karhutla yang dapat mengancam fasilitas pariwisata dan permukiman warga yang berada di sekitar kawasan terdampak.

‎

‎

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau