KOMPAS.com - Upaya pemulihan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, pasca-kebakaran sejak Senin (3/8/2026), perlu mempertimbangkan aspek kehati-hatian dan menerapkan pendekatan berbasis pada kondisi ekosistem.
Salah satunya, melalui restorasi pasif dengan memberikan kesempatan bagi alam untuk menunjukkan kemampuan pemulihannya terlebih dahulu.
“Satu hal yang paling penting: jangan terburu-buru melakukan penanaman massal (restorasi aktif). Sering kali orang menganggap setelah kebakaran, solusinya harus langsung ditanami pohon banyak-banyak,” ujar Guru Besar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB), Endah Sulistyawati, dilansir dari laman resmi ITB, Selasa (18/8/2026).
Baca juga: Lahan 1.120 Hektar Hangus, BPBD Jatim Dikebut Siapkan Embung Antisipasi Karhutla Bromo
Menurut Endah, pengelola perlu terlebih dahulu memantau proses pemulihan alami. Pertandanya adalah kemunculan kembali rumput dan anakan pohon sebelum menentukan bentuk intervensi yang diperlukan.
Ia menganggap, pendekatan ini penting lantaran setiap ekosistem memiliki karakteristik yang berbeda. Penanaman pohon berkayu secara massal di kawasan TNBTS yang secara alami merupakan savana, justru berpotensi mengubah karakter ekosistem tersebut.
“Kalau kita langsung intervensi dengan menanam, apalagi jika yang ditanam adalah pohon berkayu massal di area yang sejatinya savana, kita malah mengubah ekosistem savana menjadi hutan,” tutur Endah.
Ia menilai, karakter savana di kawasan TNBTS erat kaitannya dengan dinamika api yang berlangsung secara alami di wilayah tersebut.
Maka dari itu, pemulihan kawasan perlu mempertimbangkan karakter ekologis asli agar intervensi yang dilakukan tidak justru mengubah fungsi dan struktur ekosistem.
Kemampuan ekosistem untuk memulihkan diri dikenal sebagai resiliensi atau daya lenting ekosistem dan berlangsung melalui proses suksesi. Ketika curah hujan kembali membasahi kawasan TNBTS, benih-benih rumput yang masih tersedia di dalam tanah berpotensi kembali berkecambah dan membantu memulihkan tutupan vegetasi secara alami.
Dalam jangka panjang, kebakaran yang terjadi secara berulang bisa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi proses seleksi alam dan adaptasi spesies. Misalnya, ekosistem kayu putih (Eucalyptus urophylla) di Timor yang memiliki kulit batang sangat tebal, sehingga mampu bertahan dari kobaran api.
Menurut Endah, api memberikan keuntungan ekologis bagi spesies yang mempunyai kemampuan adaptasi terhadap kebakaran. Misalnya, mengurangi keberadaan spesies pesaing di sekitarnya.
Selain memberikan kesempatan bagi ekosistem untuk memulihkan diri, kata dia, terdapat beberapa langkah penting yang perlu dilakukan pasca kebakaran. Di antaranya, melakukan asesmen untuk mengetahui kondisi dan luasan kawasan TNBTS yang terdampak.
Pemetaan spasial berbasis teknologi satelit bisa dipakai untuk mengidentifikasi sebaran area terbakar secara lebih akurat. Kemudian, data tersebut digunakan sebagai dasar dalam menentukan kebijakan pengelolaan dan pemulihan kawasan TNBTS.
Ia juga menggarisbawahi urgensi memperhatikan potensi gangguan terhadap sistem hidrologi. Hilangnya vegetasi penutup lahan dapat memengaruhi kemampuan tanah dalam menahan dan menyerap air ketika musim hujan tiba di mana kondisi ini berpotensi meningkatkan limpasan air risiko longsor di kawasan lereng Bromo.
Baca juga: Kebakaran Bromo Padam, Posko Penanganan Resmi Ditutup Setelah 16 Hari
“Pihak taman nasional wajib memastikan tidak ada lagi aktivitas yang memicu percikan api, terutama saat musim kemarau di mana vegetasi sedang berada pada kondisi yang paling rentan untuk terbakar,” tutur Endah.
Ia menganggap, pemahaman karakteristik api dan ekosistem yang terbakar dapat menentukan respons maupun strategi pemulihan kawasan TNBTS.
Secara ekologis, kata dia, terjadinya kebakaran bergantung pada tiga unsur utama. Yaitu, bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di kawasan alam, seperti TNBTS, bahan bakar tersebut berasal dari biomassa yang terdapat di permukaan tanah, seperti daun, bunga, buah, atau kayu.
Selama musim kemarau, biomassa tersebut menjadi lebih kering, sehingga semakin mudah terbakar. Apalagi, ekosistem savana memiliki karakteristik terbuka dengan paparan panasnya tinggi dan angin bisa menyebar sangat cepat, meski biomassa-nya tergolong sedikit dibandingkan hutan lebat.
Kondisi ini membuat api dapat menyebar dengan cepat ketika percikan api mengenai vegetasi yang kering. Oleh karena itu, karakteristik lanskap dan kondisi vegetasi perlu menjadi pertimbangan penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran.
Dalam perspektif ekologi, api merupakan salah satu bentuk gangguan (disturbance) terhadap dinamika ekosistem. Ketika terjadi gangguan, ekosistem pada dasarnya memiliki kemampuan untuk merespons dan memulihkan diri.
Namun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap memberikan dampak langsung terhadap komponen ekosistem, terutama tumbuhan yang tidak dapat berpindah untuk menghindari api.
Baca juga: Bromo Ditutup, Omzet Pengusaha Jeep Wisata di Malang Turun hingga 40 Persen
Hilangnya vegetasi akibat kebakaran dapat mengurangi tempat berlindung sekaligus sumber pakan bagi satwa liar. Imbasnya, satwa liar terdorong untuk berpindah mencari ruang yang lebih aman.
“Apabila satwa liar memiliki waktu yang cukup, mereka akan berupaya melarikan diri. Persoalannya adalah, apakah masih tersedia ruang aman bagi mereka untuk berlindung? Jika tidak, mereka terpaksa memasuki kawasan pemukiman penduduk,” ucapnya.
Migrasi satwa ke kawasan yang berdekatan dengan aktivitas manusia berpotensi memicu kenaikan risiko konflik antara manusia dan satwa. Ini memperparah dampak karhutla yang dapat mengancam fasilitas pariwisata dan permukiman warga yang berada di sekitar kawasan terdampak.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya