KOMPAS.com - Microsoft secara drastis memangkas pembelian kredit pengurangan karbon (carbon removal) pada tahun 2026. Hal ini terjadi karena pengeluaran untuk teknologi kecerdasan buatan (AI) mengubah prioritas modal perusahaan sekaligus meningkatkan tekanan pada target iklimnya.
Melansir ESG News, Senin (17/8/2026) hingga pertengahan Juli, perusahaan hanya membeli 8,55 juta ton kredit pengurangan karbon. Menurut perhitungan BloombergNEF, jumlah tersebut turun sekitar 80 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Penurunan ini membuat Microsoft berada di jalur penurunan tahunan pertamanya dalam pembelian carbon removal sejak tahun 2023. Perusahaan ini mulai masuk ke pasar tersebut pada tahun 2020 dan sejak saat itu menjadi pembeli korporat paling dominan.
Perubahan ini terjadi seiring langkah Microsoft mempercepat pengeluaran untuk pusat data dan infrastruktur AI. Investasi tersebut meningkatkan kebutuhan listrik secara drastis, di saat pasokan energi rendah karbon dan teknologi pengurangan karbon masih sangat terbatas.
Baca juga: Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Jejak karbon Microsoft sendiri naik 25 persen pada tahun lalu, menurut laporan keberlanjutan terbaru mereka. Meningkatnya kebutuhan energi untuk AI menjadi salah satu penyebab utama kenaikan tersebut.
Kondisi ini menciptakan ketegangan yang makin besar antara pesatnya ekspansi infrastruktur AI dan komitmen perusahaan untuk memotong emisi.
Microsoft dilaporkan sempat menghentikan sementara beberapa pembelian kredit carbon removal awal tahun ini karena pertimbangan keuangan. Pada saat itu, perusahaan menyatakan bahwa program carbon removal mereka belum berakhir.
Dalam tanggapan resminya Microsoft menyampaikan bahwa pembelian carbon removal tetap menjadi salah satu bagian dari strategi dekarbonisasi mereka yang lebih luas.
“Setiap penyesuaian yang kami lakukan adalah bagian dari pendekatan yang terukur, bukan perubahan pada ambisi kami,” kata juru bicara Microsoft.
Microsoft tetap menjadi peserta terbesar di pasar carbon removal sukarela. Perusahaan ini menyumbang hampir separuh dari seluruh transaksi yang terjadi sepanjang tahun 2026.
Sejak tahun 2020, Microsoft telah membeli 41 persen dari total penyerapan karbon dioksida secara global, menurut data dari BloombergNEF.
Besarnya skala bisnis Microsoft membuat penurunan pembelian ini berdampak luas, tidak hanya pada strategi iklim internal mereka sendiri.
Penjualan kredit carbon removal global tercatat hanya mencapai 18 juta ton hingga pertengahan Juli. Angka ini turun 66 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
“Selain ukuran pembeliannya yang sangat besar, langkah Microsoft selama ini menjadi sinyal penting bagi perusahaan lain bahwa investasi di carbon removal itu bernilai,” kata Layla Khanfar, analis BNEF yang mengamati pasar tersebut.
“Jika Microsoft mundur, itu juga mengirimkan pesan buruk dan perusahaan lain bisa makin enggan untuk menggantikan posisinya sebagai pelopor,” tambahnya.
Risiko bagi sektor ini sangat besar karena banyak teknologi penyerapan karbon yang harganya masih mahal dan durabilitas komersialnya belum matang.
Para ilmuwan iklim berulang kali mengingatkan bahwa pemotongan emisi secara drastis harus diimbangi dengan penyerapan karbon dioksida skala besar. Pada pertengahan abad ini, miliaran ton karbon mungkin perlu diserap dari atmosfer setiap tahunnya.
Teknologi seperti penangkapan udara langsung masih sangat mahal untuk diterapkan secara massal. Oleh karena itu, pembeli dari kalangan perusahaan memegang peran pendanaan yang sangat penting untuk kepastian pendapatan pengembang proyek selagi teknologinya terus berkembang.
Microsoft bukan satu-satunya pembeli carbon removal dari kalangan perusahaan.
Frontier, sebuah koalisi carbon removal yang beranggotakan Stripe, Anthropic, dan Alphabet, berkomitmen mengucurkan dana sebesar 915 juta dolar AS pada bulan Juni untuk mendukung proyek-proyek penyerapan karbon baru.
Pengeluaran tersebut menunjukkan bahwa pasar kini makin bervariasi, meskipun pengaruh Microsoft masih sangat besar.
Baca juga: Ekspansi Pusat Data AI Bikin Emisi Karbon Microsoft Melonjak 25 Persen
“Masyarakat perlu melihat lebih dari sekadar aktivitas Microsoft saat menilai kondisi pasar ini,” kata Lee Bostock, pendiri Vuelta Carbon, sebuah perusahaan perdagangan dan penasihat pasar karbon.
“Saya percaya pasar ini berkembang ke arah yang positif dan menjanjikan, tetapi penjual dan pembeli harus realistis dengan tahap perkembangan pasar saat ini,” paparnya lagi.
Bagi para pemimpin perusahaan dan investor, pergeseran strategi Microsoft memperlihatkan tantangan tata kelola yang lebih besar. Strategi iklim yang dibuat saat anggaran infrastruktur masih kecil kini makin tertekan akibat pesatnya investasi di bidang AI.
Masalah ini tidak hanya dialami oleh Microsoft. Perusahaan penyedia pusat data raksasa kini mengucurkan modal sangat besar untuk infrastruktur komputer, padahal di saat yang sama mereka punya target iklim yang makin tinggi.
Bagi sektor carbon removal, kondisi ini membawa risiko sekaligus peluang. Pasar yang tidak bergantung pada satu pembeli saja akan jauh lebih kuat.
Namun, sebelum permintaan dari perusahaan lain meluas secara signifikan, perubahan strategi pembelian Microsoft akan terus memengaruhi pendanaan proyek, penerapan teknologi, dan kepercayaan pasar di sektor ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya