Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 14:53 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Satelit yang lebih canggih, perangkat lunak pelacak yang lebih pintar, serta puluhan tahun perjanjian dan aturan, semuanya belum mampu menghentikan maraknya praktik illegal fishing skala besar.

Melansir Earth, Senin (17/8/2026) sebuah analisis baru yang luas menunjukkan bahwa hal ini bukanlah kebetulan atau kegagalan teknologi. Penyebab utamanya adalah seluruh sistem perikanan global saat ini secara tidak langsung memang membuat bisnis praktik ikan ilegal tetap menguntungkan.

Riset tersebut dipimpin oleh Philippe Le Billon dan Rashid Sumaila dari University of British Columbia (UBC).

“Praktik illegal fishing bukanlah kegiatan pinggiran biasa, melainkan bagian dari sistem ekonomi perikanan dunia. Hal ini terjadi karena lemahnya pengawasan, subsidi yang merusak, struktur perusahaan yang tidak transparan, serta rantai pasok internasional yang rumit,” kata Le Billon.

“Praktik illegal fishing tetap menguntungkan karena risikonya rendah sedangkan hasilnya sangat besar,” tambahnya.

Baca juga: BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal

“Meskipun teknologi pendeteksi makin canggih, penegakan hukum dan pertanggungjawabannya masih sangat tertinggal, terutama bagi armada kapal industri besar yang beroperasi jauh dari jangkauan publik,” terangnya lagi.

Keuntungan yang fantastis

Angka di balik keuntungan bisnis tersebut sangat fantastis.

Praktik penangkapan ikan skala industri yang ilegal dan tidak dilaporkan menyumbang sekitar 8 hingga 15 persen dari total tangkapan laut dunia yang bernilai 6,2 miliar hingga 12,2 miliar dolar AS setiap tahunnya.

Meskipun kegiatan ini terjadi di mana-mana, dampaknya sama sekali tidak merata. Sekitar dua pertiga dari nilai perdagangan ilegal tersebut berasal dari Afrika Barat, Asia Timur, dan Asia Tenggara.

Wilayah-wilayah ini adalah tempat di mana penegakan hukum cenderung paling lemah, padahal sektor perikanan bukan sekadar industri sampingan, melainkan tumpuan utama pangan dan lapangan kerja warga lokal.

Sementara itu, sebagian besar hasil laut yang ditangkap secara ilegal tersebut justru berakhir di meja makan masyarakat Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur, pasar-pasar terkaya di dunia.

“Dampak buruk terhadap lingkungan dan masyarakat sebagian besar ditanggung oleh negara-negara berkembang di kawasan pesisir, sementara keuntungan ekonominya mengalir ke tempat lain,” jelas Sumaila.

Ikan hasil curian masuk ke rantai pasok

Ikan hasil tangkapan ilegal tidak hanya hilang begitu saja di pasar gelap. Ikan-ikan ini sengaja "dicuci" agar bisa masuk ke dalam rantai pasok yang sama dengan ikan yang ditangkap secara sah.

Baca juga: Populasi Ikan Kakatua Menurun, IPB Ingatkan Ancaman bagi Terumbu Karang dan Pesisir

Praktik memindahkan hasil tangkapan antar kapal di tengah laut, memalsukan dokumen, memalsukan label jenis ikan, dan mencampur ikan ilegal dengan ikan legal membuat ikan curian dengan mudah lolos melewati pelabuhan, pabrik pengolahan, hingga penjual eceran tanpa ada yang menyadarinya.

Pengawasan pelabuhan yang lemah, penegakan aturan internasional yang tidak merata, serta ketiadaan transparansi mengenai pemilik asli kapal membuat praktik curang ini menjadi sangat mudah dilakukan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau