Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 19:03 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Para pemimpin perusahaan kini kesulitan membuktikan bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) benar-benar bisa diandalkan untuk memberikan hasil bisnis yang nyata.

Hal tersebut terungkap dalam sebuah laporan terbaru dari lembaga riset HFS Research dan perusahaan IT, TCS, yang menyurvei lebih dari 100 pimpinan eksekutif di Amerika Serikat dan Kanada.

Melansir ESG Dive, Senin (18/8/2026) laporan tersebut menunjukkan bahwa hanya 1 dari 3 eksekutif yang merasa AI konsisten memberikan hasil yang sesuai harapan, tetap terkendali, serta mendapatkan kepercayaan dari pemerintah, pelanggan, dan pimpinan perusahaan.

Sementara itu, hanya 1 dari 4 eksekutif yang memiliki aturan pengawasan yang cukup untuk mengembangkan AI ke seluruh bagian perusahaan, dan hanya 1 dari 6 yang berani memercayakan pekerjaan penting pada AI secara mandiri.

Baca juga: Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI

“Beberapa tahun terakhir kita sibuk bertanya apakah kita bisa mulai memakai alat-alat ini. Sekarang, pertanyaan yang lebih sulit adalah apakah kita benar-benar bisa bergantung padanya,” kata Dana Daher, pemimpin riset di HFS Research.

Kehati-hatian CEO perusahaan terapkan AI

Kemampuan bisnis untuk mengandalkan AI kini mulai dipertanyakan. Para bos perusahaan menjadi lebih berhati-hati dalam menerapkannya karena biaya AI yang makin membengkak, lambatnya pekerja dalam mengadopsi teknologi ini, serta aturan pemerintah yang terus berubah.

Menurut riset perusahaan oleh SAP yang dirilis Juli lalu, meskipun AI membantu karyawan mendapatkan ide dan terhubung dengan pelanggan, teknologi ini tidak selalu menghemat waktu atau uang. Harga layanan yang tidak pasti dan banyaknya vendor yang terpecah-pecah juga makin menambah beban biaya.

Kurangnya pemahaman karyawan tentang cara kerja AI turut membuat perusahaan mengambil langkah yang lebih realistis. Riset dari Forrester menemukan bahwa hanya 16 persen pekerja kantor yang benar-benar memahami cara menggunakan AI.

Namun, kepercayaan terhadap AI tetap paling tinggi jika ada manusia yang tetap mengawasi, menurut laporan riset HFS.

Laporan tersebut menyatakan bahwa memiliki AI yang andal bukan berarti bebas dari kesalahan, melainkan seberapa cepat perusahaan bisa mendeteksi, menjelaskan, dan mengendalikan kesalahan tersebut.

Baca juga: Kepedulian Lingkungan Perusahaan Berdampak Positif pada Performa Finansial

Strategi pengawasan manusia yang jelas sangat penting untuk membangun AI yang andal dan mencegah gangguan bisnis, kata Daher.

“Anda harus melatih pekerjanya dan menentukan apa saja tanggung jawab mereka,” ujar Daher.

Selain memiliki strategi pengawasan manusia yang jelas, membangun sistem AI yang dapat dipercaya juga membutuhkan penilaian berdasarkan hasil bisnis yang nyata, bukan sekadar angka teknis. Sayangnya, laporan menunjukkan bahwa perusahaan lebih sering memantau indikator teknis daripada dampak nyata ke bisnis.

Terakhir, seiring AI menjadi semakin rumit, para bos perusahaan makin sulit menjelaskan bagaimana AI mengambil suatu keputusan. Karena itu, tata kelola yang ketat menjadi sangat penting.

“Ada keraguan besar soal kepercayaan yang terjadi saat ini: kita diminta menggunakan AI di setiap bagian kerja dan kehidupan, tetapi kita tidak paham bagaimana AI bisa menghasilkan jawaban tersebut,” tambah Daher.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau