Editor
KOMPAS.com - Upaya memutus rantai penularan tuberkulosis (TBC) tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan. Keluarga dan masyarakat perlu dilibatkan untuk mengenali gejala, mengetahui riwayat kontak, serta mendorong pemeriksaan sejak dini.
Hal tersebut menjadi fokus Universitas Pakuan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) “Keluarga Tangguh Lawan TBC” di Kelurahan Pasirjaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, pada 18-19 Agustus 2026.
Program yang mendapat dukungan pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026 itu melibatkan sekitar 100 warga Pasirjaya.
Baca juga: Kemenkes Targetkan Vaksinasi TBC Dimulai Bertahap pada 2029
Kegiatan tersebut menggabungkan edukasi TBC, penemuan kasus dan tracing, Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta pemberdayaan keluarga dan masyarakat.
Ketua Tim Pelaksana PKM Universitas Pakuan, Lusi Agus Setiani mengatakan, pengendalian TBC perlu dimulai dari lingkungan terdekat masyarakat, terutama keluarga.
“Penanganan TBC tidak cukup hanya ketika pasien sudah datang ke fasilitas kesehatan. Keluarga perlu memahami gejala, mengenali faktor risiko, mengetahui riwayat kontak, dan memahami kapan harus mencari pertolongan,” ujar Lusi dalam keterangan resmi, Kamis (20/7/2026).
Menurut dia, keterlibatan keluarga penting karena lingkungan tersebut menjadi salah satu tempat terdekat untuk mengenali perubahan kondisi kesehatan anggota keluarga.
Perguruan tinggi, kata Lusi, dapat berperan dengan membawa pengetahuan dan hasil pengembangan ilmu agar lebih mudah diterapkan di tengah masyarakat.
“Kami ingin pendekatan akademik tidak berhenti di ruang kelas atau penelitian, tetapi dapat diterapkan sesuai kebutuhan masyarakat. Karena itu, program ini kami bangun melalui kolaborasi dengan pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat,” katanya.
Dalam kegiatan ini, masyarakat mendapatkan edukasi mengenai gejala TBC, cara mencegah penularan, pentingnya mengenali kontak dengan pasien TBC, serta langkah yang perlu dilakukan ketika terdapat anggota keluarga yang memiliki gejala atau faktor risiko.
Kegiatan juga diintegrasikan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang didukung Dinas Kesehatan Kota Bogor dan UPTD Puskesmas Pancasan. Penguatan tracing TBC juga menjadi bagian dari program.
Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menemukan kasus lebih awal dan mencegah penularan di lingkungan keluarga.
Pada programini masyarakat juga mendapatkan edukasi mengenai pemanfaatan tanaman obat dan jamu sebagai bagian dari pemeliharaan kesehatan berbasis potensi lokal.
Lusi menegaskan, edukasi mengenai jamu tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengobatan TBC.
“Kami ingin masyarakat memiliki literasi yang tepat. Jamu dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pemeliharaan kesehatan, tetapi tidak menggantikan pengobatan TBC. Pasien TBC tetap harus mengikuti tata laksana dan obat yang diberikan oleh tenaga kesehatan,” jelasnya.
Menurut Lusi, kegiatan berbasis potensi lokal tersebut juga diharapkan dapat menjaga keterlibatan masyarakat setelah program PKM berakhir.
Baca juga: Pakar Kesehatan: WC Tanpa Septic Tank di Jakarta Bisa Memperparah TBC-Polio
Lusi mengatakan, kolaborasi lintas sektor dibutuhkan karena pengendalian TBC tidak hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga pengetahuan keluarga, perilaku, lingkungan, serta kemampuan masyarakat mengenali risiko penularan.
Pemerintah dan fasilitas pelayanan kesehatan berperan dalam menyediakan layanan pemeriksaan serta tindak lanjut. Sementara itu, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pendidikan, pengembangan pengetahuan, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat.
“Ketika keluarga memahami risikonya, kader memiliki kemampuan untuk mengedukasi, masyarakat berani memeriksakan diri, dan fasilitas kesehatan dapat melakukan tindak lanjut, maka upaya pengendalian TBC menjadi lebih kuat,” kata Lusi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya