Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Putus Rantai TBC, Universitas Pakuan Perkuat Deteksi Dini di Bogor

Kompas.com, 21 Agustus 2026, 09:00 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - Upaya memutus rantai penularan tuberkulosis (TBC) tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan. Keluarga dan masyarakat perlu dilibatkan untuk mengenali gejala, mengetahui riwayat kontak, serta mendorong pemeriksaan sejak dini.

Hal tersebut menjadi fokus Universitas Pakuan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) “Keluarga Tangguh Lawan TBC” di Kelurahan Pasirjaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, pada 18-19 Agustus 2026.

Program yang mendapat dukungan pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026 itu melibatkan sekitar 100 warga Pasirjaya.

Baca juga: Kemenkes Targetkan Vaksinasi TBC Dimulai Bertahap pada 2029

Kegiatan tersebut menggabungkan edukasi TBC, penemuan kasus dan tracing, Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta pemberdayaan keluarga dan masyarakat.

Ketua Tim Pelaksana PKM Universitas Pakuan, Lusi Agus Setiani mengatakan, pengendalian TBC perlu dimulai dari lingkungan terdekat masyarakat, terutama keluarga.

“Penanganan TBC tidak cukup hanya ketika pasien sudah datang ke fasilitas kesehatan. Keluarga perlu memahami gejala, mengenali faktor risiko, mengetahui riwayat kontak, dan memahami kapan harus mencari pertolongan,” ujar Lusi dalam keterangan resmi, Kamis (20/7/2026).

Menurut dia, keterlibatan keluarga penting karena lingkungan tersebut menjadi salah satu tempat terdekat untuk mengenali perubahan kondisi kesehatan anggota keluarga.

Perguruan tinggi, kata Lusi, dapat berperan dengan membawa pengetahuan dan hasil pengembangan ilmu agar lebih mudah diterapkan di tengah masyarakat.

“Kami ingin pendekatan akademik tidak berhenti di ruang kelas atau penelitian, tetapi dapat diterapkan sesuai kebutuhan masyarakat. Karena itu, program ini kami bangun melalui kolaborasi dengan pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat,” katanya.

Perkuat deteksi dini TBC

Dalam kegiatan ini, masyarakat mendapatkan edukasi mengenai gejala TBC, cara mencegah penularan, pentingnya mengenali kontak dengan pasien TBC, serta langkah yang perlu dilakukan ketika terdapat anggota keluarga yang memiliki gejala atau faktor risiko.

Kegiatan juga diintegrasikan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang didukung Dinas Kesehatan Kota Bogor dan UPTD Puskesmas Pancasan. Penguatan tracing TBC juga menjadi bagian dari program.

Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menemukan kasus lebih awal dan mencegah penularan di lingkungan keluarga.

Libatkan masyarakat dan potensi lokal

Pada programini masyarakat juga mendapatkan edukasi mengenai pemanfaatan tanaman obat dan jamu sebagai bagian dari pemeliharaan kesehatan berbasis potensi lokal.

Lusi menegaskan, edukasi mengenai jamu tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengobatan TBC.

“Kami ingin masyarakat memiliki literasi yang tepat. Jamu dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pemeliharaan kesehatan, tetapi tidak menggantikan pengobatan TBC. Pasien TBC tetap harus mengikuti tata laksana dan obat yang diberikan oleh tenaga kesehatan,” jelasnya.

Menurut Lusi, kegiatan berbasis potensi lokal tersebut juga diharapkan dapat menjaga keterlibatan masyarakat setelah program PKM berakhir.

Baca juga: Pakar Kesehatan: WC Tanpa Septic Tank di Jakarta Bisa Memperparah TBC-Polio

Lusi mengatakan, kolaborasi lintas sektor dibutuhkan karena pengendalian TBC tidak hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga pengetahuan keluarga, perilaku, lingkungan, serta kemampuan masyarakat mengenali risiko penularan.

Pemerintah dan fasilitas pelayanan kesehatan berperan dalam menyediakan layanan pemeriksaan serta tindak lanjut. Sementara itu, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pendidikan, pengembangan pengetahuan, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat.

“Ketika keluarga memahami risikonya, kader memiliki kemampuan untuk mengedukasi, masyarakat berani memeriksakan diri, dan fasilitas kesehatan dapat melakukan tindak lanjut, maka upaya pengendalian TBC menjadi lebih kuat,” kata Lusi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau