Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cegah Bencana Iklim, Kota-Kota di Dunia Mulai Beralih ke Solusi Berbasis Alam

Kompas.com, 21 Agustus 2026, 17:44 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Riset terbaru dari CDP mengungkapkan 55 persen kota dan daerah
di dunia kini memanfaatkan solusi berbasis alam untuk menghadapi perubahan iklim.

Riset berjudul ‘Nature for People and Places’ menganalisis data dari 1.005 kota dan daerah di 80 negara, yang dihuni oleh sekitar 1,32 miliar jiwa.

Melansir Edie, Kamis (20/8/2026) laporan menemukan bahwa mayoritas daerah tersebut telah menerapkan minimal satu solusi berbasis alam, seperti pemulihan ekosistem, pembangunan fasilitas hijau, hingga penanaman hutan kembali.

Selain itu, ditemukan pula bahwa 70 persen pemerintah daerah yang memiliki target penanganan iklim menjadikan solusi berbasis alam sebagai prioritas utama mereka.

Ancaman iklim 

CDP menemukan bahwa cuaca panas ekstrem, banjir perkotaan, dan hujan lebat menjadi ancaman iklim paling berbahaya yang dihadapi oleh pemerintah daerah saat ini.

Baca juga: Perubahan Iklim Bisa Bikin Tagihan Air Kota Naik Dua Kali Lipat

Misalnya saja, menurut laporan terbaru dari Walikota London dan Dewan Kota London, London berisiko mengalami kerugian hingga 36 miliar pound sterling setiap tahunnya pada 2050 akibat dampak perubahan iklim.

Kerugian ini mencakup penurunan produktivitas kerja, beban berlebih pada rumah sakit dan layanan darurat, gangguan bisnis, serta kerusakan fasilitas umum.

“Ada potensi kerja sama yang sangat besar antara aksi penanganan iklim dan penggunaan solusi alami. Di tengah anggaran pemerintah yang makin terbatas, pemerintah daerah harus bekerja lebih hemat dan efisien," ungkap Direktur Pusat Iklim ICLEI, Maryke van Staden.

“Mereka memiliki peluang untuk menciptakan solusi yang menguntungkan semua pihak dengan menggabungkan aksi penanganan iklim dan perlindungan alam. Taman dan ruang terbuka hijau membantu mendinginkan suhu kota. Atap dan dinding yang ditanami tumbuhan bisa menahan panas gedung. Pilihan aksi yang bisa dilakukan sangatlah banyak,” katanya lagi.

Pilihan solusi berbasis alam yang digunakan sendiri berbeda-beda di setiap wilayah tergantung risiko lingkungan yang dihadapi.

Pemerintah di Amerika Latin dan Afrika paling fokus pada pemulihan alam yang rusak. Pemerintah di Eropa dan Amerika Utara lebih fokus membangun fasilitas hijau seperti taman kota dan atap bernuansa tumbuhan.

Sementara itu, pemerintah daerah di Asia Tenggara, India, dan Jepang lebih fokus pada penanaman hutan kembali.

Data menunjukkan bahwa fokus pada kelestarian alam turut meningkatkan kesehatan masyarakat. Sebanyak 65 persen pemerintah daerah mencatat adanya manfaat kesehatan, mulai dari udara yang lebih bersih hingga kesehatan fisik dan mental yang lebih baik.

Hal ini secara langsung membantu mengatasi masalah kesehatan utama yang dikhawatirkan pemerintah, seperti penyakit jantung dan gangguan pernapasan.

Kendala anggaran daerah

Meskipun memiliki banyak manfaat, masih ada kekurangan dana yang besar untuk menjalankan proyek adaptasi iklim ini. Sebanyak 46 persen pemerintah daerah melaporkan bahwa keterbatasan anggaran menjadi penghambat utama mereka untuk melangkah lebih jauh.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau