Karena itu, Indonesia saat ini lebih banyak berperan sebagai lokasi produksi bagi MYCL karena ketersediaan bahan baku dari sektor pertanian dan kehutanan.
Selain memanfaatkan limbah, salah satu keunggulan yang dikembangkan MYCL adalah aspek jejak karbon.
MYCL mengklaim biomaterial berbasis miselium yang diproduksinya memiliki karakter karbon negatif. Berdasarkan data teknis perusahaan, setiap square feet material dapat menghasilkan jejak karbon sekitar minus 12 kilogram CO2 ekuivalen.
Pada 2025, MYCL memanfaatkan 61,72 ton limbah biomassa dan menghindari sekitar 148,75 ton CO2e dari biomassa yang berpotensi dibakar atau digunakan sebagai mulsa.
MYCL juga meng-upcycle sekitar 1,70 ton limbah substrat kembali ke dalam rantai nilai.
Jika dibandingkan dengan produksi kulit hewan, biomaterial MYCL pada 2025 disebut mampu menghemat sekitar 39.887 liter air dan menurunkan emisi gas rumah kaca sekitar 27,5 ton CO2.
Angka-angka tersebut merupakan data teknis yang disampaikan MYCL mengenai dampak lingkungan dari material yang dikembangkannya.
Biomaterial berbasis miselium MYCL juga memiliki karakteristik yang memungkinkan material tersebut terurai secara alami setelah masa pakainya berakhir.
Ronaldiaz menjelaskan, jamur dalam material telah berhenti tumbuh setelah proses produksi dan pengaplikasian ke dalam produk selesai.
Namun, ketika masa pakai produk berakhir, material dapat dipotong menjadi bagian-bagian kecil dan dibuang ke tanah untuk terurai secara alami menjadi kompos.
Baca juga: 3 Ton Sampah Plastik Diangkut dari Pantai Liang Sulawesi Utara lewat Global Ocean Cleanup
“Jadi media tanam pun bisa. Tapi tenang saja, ini enggak bakal biodegrade ketika sedang dipakai,” ujar Ronaldiaz.
Menurut dia, karakteristik tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan material yang lebih berkelanjutan karena produk tidak berhenti menjadi limbah setelah digunakan.
MYCL kini mengembangkan sejumlah jenis material, mulai dari mycelium composite, mycelium leather, hingga seaweed biopolymer.
Hingga 2026, material tersebut telah dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk produk fesyen, insulasi bangunan, hingga aplikasi berbasis miselium untuk teknologi bernilai tambah tinggi.
Pengembangan tersebut dilakukan untuk memperluas pemanfaatan biomaterial sekaligus meningkatkan skala penggunaan bahan baku yang berasal dari limbah pertanian dan kehutanan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya