Bagi kota-kota di Asia Selatan yang masuk dalam kelompok yang makin mengering, efek ini akan memutarbalikkan pola yang terjadi sebelumnya. Riset WaterAid terdahulu menemukan bahwa sebagian besar kota tersebut sebenarnya terus makin basah selama empat dekade terakhir, dengan kejadian kekeringan yang makin sedikit dan hujan ekstrem yang makin sering.
Musim kering mungkin terdengar seperti kabar lega bagi wilayah yang sedang sering dilanda banjir. Namun, Katerina Michaelides, profesor dari University of Bristol, memperingatkan bahwa anggapan itu keliru karena mengabaikan seberapa lama fenomena ekstrem ini bisa bertahan.
"Dampak dari El Niño mungkin tidak hanya berlangsung selama satu tahun atau satu musim saja. Dampaknya bisa berkepanjangan. Bisa satu tahun, dua tahun, atau bahkan beberapa musim berturut-turut mengalami curah hujan di bawah normal, tergantung seberapa lama dan seberapa kuat El Niño itu bertahan," ujar Katerina Michaelides.
"Kecuali jika wilayah-wilayah tersebut memiliki peralatan yang memadai untuk mengelola dan menyimpan air dari musim hujan untuk digunakan saat kekeringan, kemarau panjang bukanlah hal yang baik. Terutama bagi daerah yang terbiasa menerima hujan musiman, di mana sektor pertanian dan penghidupan warga sangat bergantung pada pola cuaca yang teratur," terangnya lagi.
Baca juga: BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
Lebih lanjut Shakeel Hayat, spesialis perubahan iklim serta air, sanitasi, dan higiene di WaterAid Pakistan menambahkan kekacauan akibat krisis iklim yang membawa suhu ekstrem, kekeringan, dan banjir sudah lama berada di depan mata kita, namun fenomena 'super El Niño' tahun ini semakin meningkatkan risiko yang kita hadapi.
Hayat menyatakan bahwa ketahanan air telah menjadi isu yang berkaitan dengan ketahanan pangan, energi, kesehatan, dan ekonomi. Ia juga menyoroti memanen air hujan sebagai cara sederhana untuk mengurangi tekanan terhadap cadangan air tanah yang kian menipis. Solusinya ada, hanya tinggal investasinya.
Penelitian sebelumnya mencatat fenomena cuaca super El Niño dapat menyebabkan kerugian hingga 342 miliar dolar AS pada produksi pertanian global dan menimbulkan ancaman serius bagi 500 juta petani kecil di seluruh dunia.
Perkiraan nilai kerugian tersebut didasarkan pada 11 komoditas utama termasuk biji-bijian, minyak, kopi, kakao, produk susu, dan ternak yang diperkirakan akan mengalami penurunan hasil panen gabungan hingga 14 persen selama berlangsungnya fenomena cuaca ekstrem ini.
Berbagai lembaga bantuan juga memperingatkan bahwa krisis pangan global yang sebelumnya telah terpukul keras akibat merosotnya aliran bantuan luar negeri dari negara-negara kaya kini berisiko semakin memburuk akibat fenomena super El Niño.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya