KOMPAS.com - Beberapa kota terbesar di Asia diperkirakan akan mengalami kekeringan berbulan-bulan, sementara kota lainnya justru terancam dilanda banjir saat fenomena cuaca "Super El Niño" terjadi akhir tahun ini.
Menurut penelitian, ancaman cuaca ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah.
Melansir Independent, Rabu (19/8/2026) analisis dari lembaga WaterAid bersama para akademisi dari Universitas Bristol dan Cardiff meneliti data curah hujan selama 44 tahun di 12 kota di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Hasilnya menunjukkan bahwa semakin kuat fenomena El Niño, semakin pasti pola curah hujan di kota-kota tersebut bergeser drastis dari batas normal.
Uniknya, para peneliti menemukan bahwa dampak yang terjadi di tiap kota bisa sangat bertolak belakang. Beberapa kota terseret ke arah kekeringan parah, sementara kota lain yang jaraknya mungkin hanya beberapa ratus kilometer malah dihantam banjir besar.
Baca juga: Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total Great Barrier Reef Akibat El Nino
Analisis WaterAid mengungkapkan Jakarta dan Surabaya, Phnom Penh di Kamboja, Bangkok di Thailand, Kuala Lumpur di Malaysia, serta Mumbai di India semuanya menjadi lebih kering saat El Niño menguat. Makin kuat fenomena El Niño yang terjadi, makin parah tingkat kekeringan di kota-kota tersebut.
Sebaliknya, Shanghai dan Hangzhou di China serta Colombo di Sri Lanka justru menjadi jauh lebih basah dan sering dilanda hujan. Sementara itu, Faisalabad dan Karachi di Pakistan serta Dhaka di Bangladesh yang berada di antara dua zona tersebut bisa berubah sangat kering atau sangat basah. Hal ini membuat pemerintah di sana makin sulit melakukan persiapan.
El Niño dimulai dari memanasnya suhu permukaan Samudra Pasifik yang akhirnya memindahkan kelembapan udara ke seluruh bumi. Hal inilah yang memicu banjir di beberapa wilayah dan kekeringan di wilayah lain, tergantung lokasinya.
Fenomena ini terjadi setiap lima hingga sepuluh tahun sekali, dan kekuatannya diukur dari seberapa jauh kenaikan suhu permukaan laut dibanding kondisi normal.
Hal yang membuat tahun ini berbeda adalah skala fenomenanya yang sangat besar, hingga dijuluki sebagai "Super El Niño". Badan meteorologi dan para peneliti di seluruh dunia kini berada dalam siaga tinggi karena El Niño kali ini menguat dengan kecepatan yang tidak biasa dan bisa mengacak-acak seluruh pola cuaca.
Suhu air laut diperkirakan bisa naik hingga 3,6 derajat C di atas normal. Angka ini jauh melampaui rekor tertinggi sebelumnya sebesar 2,75 derajat C yang terjadi pada El Niño tahun 2015-2016.
Belum pernah ada catatan sejarah yang mendekati perkiraan kali ini, sehingga para peneliti mengaku belum bisa memastikan seberapa parah dampak pastinya.
"Di bawah ancaman Super El Niño yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, kita memasuki wilayah yang sama sekali baru karena tidak ada rekor sejarah sejelas dan sebesar yang diprediksikan sekarang," ujar para peneliti.
Baca juga: Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
"Tentu ada ketidakpastian soal seberapa besar kekuatannya. Namun, arah dampaknya jauh lebih pasti. Wilayah yang biasanya rawan kekeringan hampir dipastikan akan mengalami kekeringan parah, dan wilayah yang rawan banjir hampir dipastikan akan dihantam banjir besar," tulis para peneliti.
"Saat kita memasuki situasi seperti Super El Niño, artinya perbedaan suhu permukaan laut sudah sangat ekstrem. Jadi, kita memperkirakan pergerakan kelembapan udara dalam jumlah yang sangat besar ke arah tertentu di seluruh bumi. Akibatnya, beberapa tempat berpotensi besar mengalami banjir parah, sementara tempat lain berisiko tinggi dilanda kekeringan," kata Michael Singer, profesor dari Cardiff University sekaligus salah satu ilmuwan utama.
Bagi kota-kota di Asia Selatan yang masuk dalam kelompok yang makin mengering, efek ini akan memutarbalikkan pola yang terjadi sebelumnya. Riset WaterAid terdahulu menemukan bahwa sebagian besar kota tersebut sebenarnya terus makin basah selama empat dekade terakhir, dengan kejadian kekeringan yang makin sedikit dan hujan ekstrem yang makin sering.
Musim kering mungkin terdengar seperti kabar lega bagi wilayah yang sedang sering dilanda banjir. Namun, Katerina Michaelides, profesor dari University of Bristol, memperingatkan bahwa anggapan itu keliru karena mengabaikan seberapa lama fenomena ekstrem ini bisa bertahan.
"Dampak dari El Niño mungkin tidak hanya berlangsung selama satu tahun atau satu musim saja. Dampaknya bisa berkepanjangan. Bisa satu tahun, dua tahun, atau bahkan beberapa musim berturut-turut mengalami curah hujan di bawah normal, tergantung seberapa lama dan seberapa kuat El Niño itu bertahan," ujar Katerina Michaelides.
"Kecuali jika wilayah-wilayah tersebut memiliki peralatan yang memadai untuk mengelola dan menyimpan air dari musim hujan untuk digunakan saat kekeringan, kemarau panjang bukanlah hal yang baik. Terutama bagi daerah yang terbiasa menerima hujan musiman, di mana sektor pertanian dan penghidupan warga sangat bergantung pada pola cuaca yang teratur," terangnya lagi.
Baca juga: BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
Lebih lanjut Shakeel Hayat, spesialis perubahan iklim serta air, sanitasi, dan higiene di WaterAid Pakistan menambahkan kekacauan akibat krisis iklim yang membawa suhu ekstrem, kekeringan, dan banjir sudah lama berada di depan mata kita, namun fenomena 'super El Niño' tahun ini semakin meningkatkan risiko yang kita hadapi.
Hayat menyatakan bahwa ketahanan air telah menjadi isu yang berkaitan dengan ketahanan pangan, energi, kesehatan, dan ekonomi. Ia juga menyoroti memanen air hujan sebagai cara sederhana untuk mengurangi tekanan terhadap cadangan air tanah yang kian menipis. Solusinya ada, hanya tinggal investasinya.
Penelitian sebelumnya mencatat fenomena cuaca super El Niño dapat menyebabkan kerugian hingga 342 miliar dolar AS pada produksi pertanian global dan menimbulkan ancaman serius bagi 500 juta petani kecil di seluruh dunia.
Perkiraan nilai kerugian tersebut didasarkan pada 11 komoditas utama termasuk biji-bijian, minyak, kopi, kakao, produk susu, dan ternak yang diperkirakan akan mengalami penurunan hasil panen gabungan hingga 14 persen selama berlangsungnya fenomena cuaca ekstrem ini.
Berbagai lembaga bantuan juga memperingatkan bahwa krisis pangan global yang sebelumnya telah terpukul keras akibat merosotnya aliran bantuan luar negeri dari negara-negara kaya kini berisiko semakin memburuk akibat fenomena super El Niño.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya