Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia

Kompas.com, 24 Agustus 2026, 11:05 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Beberapa kota terbesar di Asia diperkirakan akan mengalami kekeringan berbulan-bulan, sementara kota lainnya justru terancam dilanda banjir saat fenomena cuaca "Super El Niño" terjadi akhir tahun ini.

Menurut penelitian, ancaman cuaca ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah.

Melansir Independent, Rabu (19/8/2026) analisis dari lembaga WaterAid bersama para akademisi dari Universitas Bristol dan Cardiff meneliti data curah hujan selama 44 tahun di 12 kota di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Hasilnya menunjukkan bahwa semakin kuat fenomena El Niño, semakin pasti pola curah hujan di kota-kota tersebut bergeser drastis dari batas normal.

Uniknya, para peneliti menemukan bahwa dampak yang terjadi di tiap kota bisa sangat bertolak belakang. Beberapa kota terseret ke arah kekeringan parah, sementara kota lain yang jaraknya mungkin hanya beberapa ratus kilometer malah dihantam banjir besar.

Baca juga: Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total Great Barrier Reef Akibat El Nino

Cuaca ekstrem yang bertolak belakang

Analisis WaterAid mengungkapkan Jakarta dan Surabaya, Phnom Penh di Kamboja, Bangkok di Thailand, Kuala Lumpur di Malaysia, serta Mumbai di India semuanya menjadi lebih kering saat El Niño menguat. Makin kuat fenomena El Niño yang terjadi, makin parah tingkat kekeringan di kota-kota tersebut.

Sebaliknya, Shanghai dan Hangzhou di China serta Colombo di Sri Lanka justru menjadi jauh lebih basah dan sering dilanda hujan. Sementara itu, Faisalabad dan Karachi di Pakistan serta Dhaka di Bangladesh yang berada di antara dua zona tersebut bisa berubah sangat kering atau sangat basah. Hal ini membuat pemerintah di sana makin sulit melakukan persiapan.

El Niño dimulai dari memanasnya suhu permukaan Samudra Pasifik yang akhirnya memindahkan kelembapan udara ke seluruh bumi. Hal inilah yang memicu banjir di beberapa wilayah dan kekeringan di wilayah lain, tergantung lokasinya.

Fenomena ini terjadi setiap lima hingga sepuluh tahun sekali, dan kekuatannya diukur dari seberapa jauh kenaikan suhu permukaan laut dibanding kondisi normal.

Hal yang membuat tahun ini berbeda adalah skala fenomenanya yang sangat besar, hingga dijuluki sebagai "Super El Niño". Badan meteorologi dan para peneliti di seluruh dunia kini berada dalam siaga tinggi karena El Niño kali ini menguat dengan kecepatan yang tidak biasa dan bisa mengacak-acak seluruh pola cuaca.

Suhu air laut diperkirakan bisa naik hingga 3,6 derajat C di atas normal. Angka ini jauh melampaui rekor tertinggi sebelumnya sebesar 2,75 derajat C yang terjadi pada El Niño tahun 2015-2016.

Belum pernah ada catatan sejarah yang mendekati perkiraan kali ini, sehingga para peneliti mengaku belum bisa memastikan seberapa parah dampak pastinya.

"Di bawah ancaman Super El Niño yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, kita memasuki wilayah yang sama sekali baru karena tidak ada rekor sejarah sejelas dan sebesar yang diprediksikan sekarang," ujar para peneliti.

Baca juga: Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino

"Tentu ada ketidakpastian soal seberapa besar kekuatannya. Namun, arah dampaknya jauh lebih pasti. Wilayah yang biasanya rawan kekeringan hampir dipastikan akan mengalami kekeringan parah, dan wilayah yang rawan banjir hampir dipastikan akan dihantam banjir besar," tulis para peneliti.

"Saat kita memasuki situasi seperti Super El Niño, artinya perbedaan suhu permukaan laut sudah sangat ekstrem. Jadi, kita memperkirakan pergerakan kelembapan udara dalam jumlah yang sangat besar ke arah tertentu di seluruh bumi. Akibatnya, beberapa tempat berpotensi besar mengalami banjir parah, sementara tempat lain berisiko tinggi dilanda kekeringan," kata Michael Singer, profesor dari Cardiff University sekaligus salah satu ilmuwan utama.

Bagi kota-kota di Asia Selatan yang masuk dalam kelompok yang makin mengering, efek ini akan memutarbalikkan pola yang terjadi sebelumnya. Riset WaterAid terdahulu menemukan bahwa sebagian besar kota tersebut sebenarnya terus makin basah selama empat dekade terakhir, dengan kejadian kekeringan yang makin sedikit dan hujan ekstrem yang makin sering.

Dampak berkepanjangan

Musim kering mungkin terdengar seperti kabar lega bagi wilayah yang sedang sering dilanda banjir. Namun, Katerina Michaelides, profesor dari University of Bristol, memperingatkan bahwa anggapan itu keliru karena mengabaikan seberapa lama fenomena ekstrem ini bisa bertahan.

"Dampak dari El Niño mungkin tidak hanya berlangsung selama satu tahun atau satu musim saja. Dampaknya bisa berkepanjangan. Bisa satu tahun, dua tahun, atau bahkan beberapa musim berturut-turut mengalami curah hujan di bawah normal, tergantung seberapa lama dan seberapa kuat El Niño itu bertahan," ujar Katerina Michaelides.

"Kecuali jika wilayah-wilayah tersebut memiliki peralatan yang memadai untuk mengelola dan menyimpan air dari musim hujan untuk digunakan saat kekeringan, kemarau panjang bukanlah hal yang baik. Terutama bagi daerah yang terbiasa menerima hujan musiman, di mana sektor pertanian dan penghidupan warga sangat bergantung pada pola cuaca yang teratur," terangnya lagi.

Baca juga: BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau

Lebih lanjut Shakeel Hayat, spesialis perubahan iklim serta air, sanitasi, dan higiene di WaterAid Pakistan menambahkan kekacauan akibat krisis iklim yang membawa suhu ekstrem, kekeringan, dan banjir sudah lama berada di depan mata kita, namun fenomena 'super El Niño' tahun ini semakin meningkatkan risiko yang kita hadapi.

Hayat menyatakan bahwa ketahanan air telah menjadi isu yang berkaitan dengan ketahanan pangan, energi, kesehatan, dan ekonomi. Ia juga menyoroti memanen air hujan sebagai cara sederhana untuk mengurangi tekanan terhadap cadangan air tanah yang kian menipis. Solusinya ada, hanya tinggal investasinya.

Penelitian sebelumnya mencatat fenomena cuaca super El Niño dapat menyebabkan kerugian hingga 342 miliar dolar AS pada produksi pertanian global dan menimbulkan ancaman serius bagi 500 juta petani kecil di seluruh dunia.

Perkiraan nilai kerugian tersebut didasarkan pada 11 komoditas utama termasuk biji-bijian, minyak, kopi, kakao, produk susu, dan ternak yang diperkirakan akan mengalami penurunan hasil panen gabungan hingga 14 persen selama berlangsungnya fenomena cuaca ekstrem ini.

Berbagai lembaga bantuan juga memperingatkan bahwa krisis pangan global yang sebelumnya telah terpukul keras akibat merosotnya aliran bantuan luar negeri dari negara-negara kaya kini berisiko semakin memburuk akibat fenomena super El Niño.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau