Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim

Kompas.com, 24 Agustus 2026, 13:19 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Gandum adalah salah satu tanaman pangan paling penting di dunia dan menjadi makanan pokok bagi miliaran orang.

Namun, ketika kelangkaan air melanda beberapa wilayah penghasil gandum terbesar di dunia secara bersamaan, dampaknya akan terasa hingga ke rak-rak supermarket dan toko roti.

Itulah kesimpulan dari penelitian internasional terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Earth's Future.

Melansir Phys, Kamis (21/8/2026) para peneliti menggabungkan data iklim, area produksi tanaman, dan harga komoditas global untuk mempelajari bagaimana kekeringan memengaruhi pasar gandum dunia.

Hasil temuannya sangat mengejutkan. Tingkat kelangkaan air yang parah saja dapat menjelaskan sekitar 74 persen dari naik-turunnya harga gandum dunia per tahun antara tahun 2000 dan 2021.

Baca juga: Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia

"Kita sudah tahu bahwa perubahan iklim memengaruhi hasil pertanian. Hal baru yang kami temukan di sini adalah bukti nyata hubungan antara kekeringan luas di berbagai belahan dunia dengan harga yang harus dibayar oleh konsumen dan pasar pangan," jelas Jørgen E. Olesen, profesor dan kepala Departemen Agroekologi di Aarhus University.

Dalam studinya, para peneliti membuat tolok ukur baru yang disebut Severe Water Scarcity (SWS) atau Kelangkaan Air Tingkat Parah. Indikator ini mengukur seberapa luas area lahan pertanian dunia yang mengalami kekeringan pada bulan-bulan saat tanaman paling membutuhkan air.

Dibandingkan hanya melihat kekeringan di satu wilayah saja, pendekatan ini mengamati apa yang terjadi ketika beberapa daerah penghasil pangan utama dilanda kekeringan secara bersamaan atau beruntun. Kejadian kekeringan yang saling menyambung ini diperkirakan akan makin sering terjadi akibat pemanasan global.

Salah satu temuan penting dari studi ini menunjukkan bahwa gandum memiliki dampak yang berbeda dari tanaman lain. Hubungan antara kelangkaan air dan lonjakan harga terbukti jauh lebih kuat pada gandum dibandingkan tanaman lainnya.

Harga yang melonjak seiring kenaikan suhu

Data historis menunjukkan bahwa rata-rata sekitar 5 persen dari total lahan gandum dunia mengalami kekeringan parah setiap tahunnya. Namun, angka ini makin melonjak akibat perubahan iklim.

Pada tahun-tahun yang sangat kering seperti 2000, 2010, 2012, dan 2020 luas lahan yang dilanda kekeringan parah bahkan menembus angka lebih dari 15 persen.

Tim peneliti kemudian menggunakan simulasi iklim untuk melihat bagaimana tren ini berkembang di masa depan. Studi tersebut menunjukkan bahwa kekeringan parah akan menyebar ke area pertanian gandum yang jauh lebih luas seiring terus naiknya suhu bumi.

Pada tingkat pemanasan global sekitar 2 derajat Celsius, simulasi memperkirakan harga gandum rata-rata akan mencapai sekitar 273 dolar AS per ton. Sementara jika pemanasan mencapai 3 derajat Celsius, angkanya melonjak menjadi sekitar 364 dolar AS per ton atau kira-kira tiga kali lipat dari harga gandum dunia pada tahun 2010.

"Gandum adalah salah satu tanaman pangan paling penting di dunia. Artinya, gangguan produksi akibat iklim bisa membawa dampak global secara cepat. Penelitian ini menunjukkan bahwa kita harus melihat bencana kekeringan sebagai tantangan internasional, bukan sekadar masalah lokal yang berdiri sendiri," ujar Olesen.

Baca juga: Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman Naturalisasi dari Amerika Latin

Para peneliti menegaskan bahwa kekeringan bukanlah satu-satunya pemicu naik-turunnya harga gandum. Biaya energi dan pupuk, jumlah cadangan gandum, kebijakan perdagangan, hingga konflik politik dunia juga memegang peranan penting.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau