Peneliti menemukan dua faktor utama yang memicu lonjakan emisi selama enam dekade terakhir. Pertama adalah perluasan lahan padi, penambahan area sawah baru, khususnya di negara-negara berkembang ini mendorong kenaikan total emisi dunia.
Baca juga: Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Faktor kedua adalah pengolahan sisa panen yang makin intensif. Kebiasaan membenamkan sisa jerami ke dalam tanah yang tergenang air dapat mempercepat pembentukan gas metana.
Secara wilayah, Asia Timur kembali mengalami kenaikan emisi metana akibat tingginya kebiasaan membenamkan jerami ke sawah. Sementara itu, Afrika menjadi pusat pertumbuhan emisi baru karena luas lahan padinya melonjak hingga 7 kali lipat dari tahun 1961 hingga 2024, mencapai 16,2 juta hektar.
Meski emisi terus naik, studi ini menunjukkan peluang untuk mengurangi emisi. Pengelolaan sawah yang lebih baik dapat memotong emisi hingga 10 persen tanpa menurunkan hasil panen.
Strategi utama yang bisa dilakukan antara lain mengatur pengairan sawah agar pembentukan metana berkurang, mengurangi pembenaman jerami berlebihan ke dalam tanah sawah serta meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk nitrogen.
"Ini adalah solusi praktis dan mudah diterapkan yang bisa langsung dipakai petani saat ini. Langkah ini memberikan jalan nyata bagi sektor pertanian untuk mendukung target iklim jangka pendek, termasuk target pemangkasan metana," ujar Susan Pan, wakil penulis studi sekaligus Profesor dari Boston College.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya