KOMPAS.com - Emisi gas rumah kaca dari sawah telah meningkat dua kali lipat dalam 60 tahun terakhir.
Namun, perubahan praktis dalam cara bertani dapat memangkas emisi metana dan mendukung target iklim dunia tanpa mengurangi produksi pangan, ungkap tim ilmuwan yang dipimpin oleh Boston College dalam jurnal Nature Food.
Melansir Phys, Jumat (26/8/2026) beras menjadi makanan pokok bagi lebih dari separuh penduduk dunia, tetapi dampak iklim yang dihasilkannya terus membesar.
Sawah yang tergenang air melepaskan gas metana dan dinitrus oksida, yaitu dua jenis gas rumah kaca yang sangat kuat.
Seiring makin meningkatnya aktivitas pertanian padi di seluruh dunia, memahami dampak metana serta cara menguranginya tanpa mengganggu ketahanan pangan menjadi prioritas global.
"Tujuan kami adalah untuk memahami dampak iklim secara menyeluruh dari sistem pertanian padi tidak hanya metana, tetapi seluruh gas rumah kaca utama secara bersamaan serta menemukan langkah-langkah realistis untuk menguranginya," kata Profesor Hanqin Tian dari Boston College, penulis utama laporan sekaligus direktur Center for Earth System Science and Global Sustainability di Schiller Institute.
Baca juga: Sebagian Besar Emisi Pertanian Dunia Berasal dari Sawah dan Gambut
Sejak tahun 1960-an, emisi gas rumah kaca dari sawah telah berlipat ganda hingga mencapai sekitar 1,1 miliar ton setara karbon dioksida setiap tahunnya.
Para peneliti melaporkan bahwa metana adalah penyumbang terbesar, terutama di wilayah seperti Asia Timur. Sementara itu, benua Afrika kini mulai menjadi pusat emisi baru akibat meluasnya pembukaan lahan pertanian padi.
Gas metana menjadi perhatian yang sangat penting karena mempercepat pemanasan suhu bumi dalam jangka pendek. Hal ini menjadikan pengurangan metana sebagai fokus utama dalam aksi iklim global.
Studi ini menyajikan penilaian global paling lengkap mengenai emisi gas rumah kaca dari padi hingga saat ini, yang mencakup perubahan metana, dinitrus oksida, dan karbon tanah dari tahun 1961 hingga 2020.
Sementara itu luas lahan pertanian padi dunia per tahun berkisar antara 160,8 juta hektar pada 2015 hingga 172,4 juta hektar pada 2024.
Para peneliti kemudian menggabungkan teknologi kecerdasan buatan yang dilatih menggunakan lebih dari 21.000 data pengamatan lapangan, model ekosistem berbasis proses, serta analisis data global.
Dengan memadukan berbagai pendekatan ini, peneliti menyampaikan bahwa tim berhasil mengukur total emisi, mengidentifikasi pemicu utama seperti perluasan lahan dan pengolahan sisa panen, serta menilai bagaimana strategi pengurangan emisi di masa depan dapat mendukung target iklim dunia termasuk target pemangkasan metana di bawah kesepakatan internasional.
Selain mengukur seberapa besar peran pertanian padi dalam menghasilkan emisi gas rumah kaca dunia khususnya metana, peneliti juga ingin mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan peningkatannya begitu cepat.
Yang tak kalah penting adalah memahami bagaimana emisi tersebut dapat dikurangi melalui perubahan praktis dalam pola bertani, serta sejauh mana pengurangan ini mampu mendukung target iklim dunia, seperti komitmen Global Methane Pledge yang telah diikuti oleh 159 negara.
Peneliti menemukan dua faktor utama yang memicu lonjakan emisi selama enam dekade terakhir. Pertama adalah perluasan lahan padi, penambahan area sawah baru, khususnya di negara-negara berkembang ini mendorong kenaikan total emisi dunia.
Baca juga: Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Faktor kedua adalah pengolahan sisa panen yang makin intensif. Kebiasaan membenamkan sisa jerami ke dalam tanah yang tergenang air dapat mempercepat pembentukan gas metana.
Secara wilayah, Asia Timur kembali mengalami kenaikan emisi metana akibat tingginya kebiasaan membenamkan jerami ke sawah. Sementara itu, Afrika menjadi pusat pertumbuhan emisi baru karena luas lahan padinya melonjak hingga 7 kali lipat dari tahun 1961 hingga 2024, mencapai 16,2 juta hektar.
Meski emisi terus naik, studi ini menunjukkan peluang untuk mengurangi emisi. Pengelolaan sawah yang lebih baik dapat memotong emisi hingga 10 persen tanpa menurunkan hasil panen.
Strategi utama yang bisa dilakukan antara lain mengatur pengairan sawah agar pembentukan metana berkurang, mengurangi pembenaman jerami berlebihan ke dalam tanah sawah serta meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk nitrogen.
"Ini adalah solusi praktis dan mudah diterapkan yang bisa langsung dipakai petani saat ini. Langkah ini memberikan jalan nyata bagi sektor pertanian untuk mendukung target iklim jangka pendek, termasuk target pemangkasan metana," ujar Susan Pan, wakil penulis studi sekaligus Profesor dari Boston College.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya