Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun

Kompas.com, 24 Agustus 2026, 19:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Emisi gas rumah kaca dari sawah telah meningkat dua kali lipat dalam 60 tahun terakhir.

Namun, perubahan praktis dalam cara bertani dapat memangkas emisi metana dan mendukung target iklim dunia tanpa mengurangi produksi pangan, ungkap tim ilmuwan yang dipimpin oleh Boston College dalam jurnal Nature Food.

Melansir Phys, Jumat (26/8/2026) beras menjadi makanan pokok bagi lebih dari separuh penduduk dunia, tetapi dampak iklim yang dihasilkannya terus membesar.

Sawah yang tergenang air melepaskan gas metana dan dinitrus oksida, yaitu dua jenis gas rumah kaca yang sangat kuat.

Seiring makin meningkatnya aktivitas pertanian padi di seluruh dunia, memahami dampak metana serta cara menguranginya tanpa mengganggu ketahanan pangan menjadi prioritas global.

"Tujuan kami adalah untuk memahami dampak iklim secara menyeluruh dari sistem pertanian padi tidak hanya metana, tetapi seluruh gas rumah kaca utama secara bersamaan serta menemukan langkah-langkah realistis untuk menguranginya," kata Profesor Hanqin Tian dari Boston College, penulis utama laporan sekaligus direktur Center for Earth System Science and Global Sustainability di Schiller Institute.

Baca juga: Sebagian Besar Emisi Pertanian Dunia Berasal dari Sawah dan Gambut

Sejak tahun 1960-an, emisi gas rumah kaca dari sawah telah berlipat ganda hingga mencapai sekitar 1,1 miliar ton setara karbon dioksida setiap tahunnya.

Para peneliti melaporkan bahwa metana adalah penyumbang terbesar, terutama di wilayah seperti Asia Timur. Sementara itu, benua Afrika kini mulai menjadi pusat emisi baru akibat meluasnya pembukaan lahan pertanian padi.

Gas metana menjadi perhatian yang sangat penting karena mempercepat pemanasan suhu bumi dalam jangka pendek. Hal ini menjadikan pengurangan metana sebagai fokus utama dalam aksi iklim global.

Penilaian menyeluruh dan faktor pemicu utama

Studi ini menyajikan penilaian global paling lengkap mengenai emisi gas rumah kaca dari padi hingga saat ini, yang mencakup perubahan metana, dinitrus oksida, dan karbon tanah dari tahun 1961 hingga 2020.

Sementara itu luas lahan pertanian padi dunia per tahun berkisar antara 160,8 juta hektar pada 2015 hingga 172,4 juta hektar pada 2024.

Para peneliti kemudian menggabungkan teknologi kecerdasan buatan yang dilatih menggunakan lebih dari 21.000 data pengamatan lapangan, model ekosistem berbasis proses, serta analisis data global.

Dengan memadukan berbagai pendekatan ini, peneliti menyampaikan bahwa tim berhasil mengukur total emisi, mengidentifikasi pemicu utama seperti perluasan lahan dan pengolahan sisa panen, serta menilai bagaimana strategi pengurangan emisi di masa depan dapat mendukung target iklim dunia termasuk target pemangkasan metana di bawah kesepakatan internasional.

Selain mengukur seberapa besar peran pertanian padi dalam menghasilkan emisi gas rumah kaca dunia khususnya metana, peneliti juga ingin mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan peningkatannya begitu cepat.

Yang tak kalah penting adalah memahami bagaimana emisi tersebut dapat dikurangi melalui perubahan praktis dalam pola bertani, serta sejauh mana pengurangan ini mampu mendukung target iklim dunia, seperti komitmen Global Methane Pledge yang telah diikuti oleh 159 negara.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau