Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai

Kompas.com, 25 Agustus 2026, 08:55 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Kapal yang berlayar di sungai dan terusan menghasilkan sekitar seperempat dari total emisi karbon dioksida sektor pelayaran dunia, menurut penelitian baru yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change.

Padahal, melansir Phys, Rabu (12/8/2026) wilayah sungai dan saluran air ini ukurannya kurang dari 1 persen dari seluruh jalur pelayaran yang ada di bumi.

Mobil, pesawat, dan kapal laut besar memang menyumbang polusi transportasi yang sangat besar secara global. Namun hingga saat ini, belum ada perkiraan global yang detail mengenai emisi CO2 dari kapal-kapal yang beroperasi di sungai dan terusan.

Untuk mengisi kekosongan informasi tersebut, para peneliti di China menganalisis data secara mendalam. Mereka memeriksa sekitar 20 miliar catatan pelacakan kapal dari tahun 2019 hingga 2022. Dari data raksasa ini, mereka berhasil memetakan 12.289 sungai dan terusan yang aktif dilalui oleh lalu lintas kapal.

Baca juga: El Nino Bisa Surutkan Sungai Mahakam-Barito dan Ganggu Rantai Pasok Batu Bara

Namun, data pelacakan awal tersebut sebenarnya belum lengkap karena sinyal pelacak sering hilang di beberapa area sungai.

Selain itu, alat pelacak standar biasanya menghubungkan titik lokasi menggunakan garis lurus. Akibatnya, pada sungai yang berbelok-belok, kapal justru terlihat seolah-olah berlayar menembus daratan.

Untuk mengatasi masalah ini, tim peneliti merancang model pemetaan rute baru yang dapat merekam pergerakan kapal secara akurat di setiap tikungan sungai. Kemudian, mereka menggabungkan data pergerakan tersebut dengan spesifikasi teknis kapal untuk menghitung penggunaan bahan bakar dan total emisi gas buangnya.

Lonjakan emisi global

Para peneliti menemukan bahwa pada tahun 2022, kapal di sungai menyumbang sekitar 164 juta metrik ton karbon dioksida. Angka itu setara dengan 24,7 persen dari total emisi seluruh sektor pelayaran dunia pada tahun tersebut.

Bahkan sepanjang tahun 2019 hingga 2022, emisi ini melonjak hampir dua kali lipat terutama dipicu oleh makin aktifnya lalu lintas kapal dan tingginya permintaan ekonomi, khususnya di wilayah Asia.

Sebagian besar emisi ini atau sekitar 69 persen berasal dari 20 sungai besar saja, termasuk Sungai Yangtze, Rhine, Mississippi, dan Danube.

Kapal kargo menjadi penyumbang polusi terbesar, yaitu mencakup sekitar dua pertiga dari total emisi CO2 kapal sungai.

Baca juga: Ada Kapal Pesiar Bertenaga Hidrogen Pertama di Dunia, Seperti Apa?

Secara alami, sungai sebenarnya juga melepaskan karbon dari pembusukan bahan organik dan kikisan tanah. Namun dalam riset ini, para penulis menemukan bahwa emisi buatan dari kapal sungai jumlahnya sudah mencapai sekitar 80 persen dari total pelepasan CO2 alami di sungai-sungai tersebut.

Studi ini juga menunjukkan bahwa emisi selalu berubah-ubah tergantung waktu serta kondisi air dan iklim setempat.

"Temuan ini menunjukkan bahwa emisi gas buang kapal sungai sangat dipengaruhi oleh gabungan antara permintaan ekonomi masyarakat dan kondisi air serta iklim," tulis peneliti dalam laporannya.

Karena aktivitas manusia dan proses alam sangat berhimpit di jalur air ini, tim peneliti menegaskan bahwa sungai yang bisa dilayari memiliki lingkungan karbon yang unik.

Oleh karena itu, sungai yang dapat dilayari merupakan lingkungan karbon campuran, di mana pertukaran gas antara sungai dan atmosfer terjadi berdampingan dengan emisi transportasi buatan manusia dalam jumlah yang hampir seimbang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
LSM/Figur
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
Pemerintah
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Pemerintah
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau