KOMPAS.com - Kapal yang berlayar di sungai dan terusan menghasilkan sekitar seperempat dari total emisi karbon dioksida sektor pelayaran dunia, menurut penelitian baru yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change.
Padahal, melansir Phys, Rabu (12/8/2026) wilayah sungai dan saluran air ini ukurannya kurang dari 1 persen dari seluruh jalur pelayaran yang ada di bumi.
Mobil, pesawat, dan kapal laut besar memang menyumbang polusi transportasi yang sangat besar secara global. Namun hingga saat ini, belum ada perkiraan global yang detail mengenai emisi CO2 dari kapal-kapal yang beroperasi di sungai dan terusan.
Untuk mengisi kekosongan informasi tersebut, para peneliti di China menganalisis data secara mendalam. Mereka memeriksa sekitar 20 miliar catatan pelacakan kapal dari tahun 2019 hingga 2022. Dari data raksasa ini, mereka berhasil memetakan 12.289 sungai dan terusan yang aktif dilalui oleh lalu lintas kapal.
Baca juga: El Nino Bisa Surutkan Sungai Mahakam-Barito dan Ganggu Rantai Pasok Batu Bara
Namun, data pelacakan awal tersebut sebenarnya belum lengkap karena sinyal pelacak sering hilang di beberapa area sungai.
Selain itu, alat pelacak standar biasanya menghubungkan titik lokasi menggunakan garis lurus. Akibatnya, pada sungai yang berbelok-belok, kapal justru terlihat seolah-olah berlayar menembus daratan.
Untuk mengatasi masalah ini, tim peneliti merancang model pemetaan rute baru yang dapat merekam pergerakan kapal secara akurat di setiap tikungan sungai. Kemudian, mereka menggabungkan data pergerakan tersebut dengan spesifikasi teknis kapal untuk menghitung penggunaan bahan bakar dan total emisi gas buangnya.
Para peneliti menemukan bahwa pada tahun 2022, kapal di sungai menyumbang sekitar 164 juta metrik ton karbon dioksida. Angka itu setara dengan 24,7 persen dari total emisi seluruh sektor pelayaran dunia pada tahun tersebut.
Bahkan sepanjang tahun 2019 hingga 2022, emisi ini melonjak hampir dua kali lipat terutama dipicu oleh makin aktifnya lalu lintas kapal dan tingginya permintaan ekonomi, khususnya di wilayah Asia.
Sebagian besar emisi ini atau sekitar 69 persen berasal dari 20 sungai besar saja, termasuk Sungai Yangtze, Rhine, Mississippi, dan Danube.
Kapal kargo menjadi penyumbang polusi terbesar, yaitu mencakup sekitar dua pertiga dari total emisi CO2 kapal sungai.
Baca juga: Ada Kapal Pesiar Bertenaga Hidrogen Pertama di Dunia, Seperti Apa?
Secara alami, sungai sebenarnya juga melepaskan karbon dari pembusukan bahan organik dan kikisan tanah. Namun dalam riset ini, para penulis menemukan bahwa emisi buatan dari kapal sungai jumlahnya sudah mencapai sekitar 80 persen dari total pelepasan CO2 alami di sungai-sungai tersebut.
Studi ini juga menunjukkan bahwa emisi selalu berubah-ubah tergantung waktu serta kondisi air dan iklim setempat.
"Temuan ini menunjukkan bahwa emisi gas buang kapal sungai sangat dipengaruhi oleh gabungan antara permintaan ekonomi masyarakat dan kondisi air serta iklim," tulis peneliti dalam laporannya.
Karena aktivitas manusia dan proses alam sangat berhimpit di jalur air ini, tim peneliti menegaskan bahwa sungai yang bisa dilayari memiliki lingkungan karbon yang unik.
Oleh karena itu, sungai yang dapat dilayari merupakan lingkungan karbon campuran, di mana pertukaran gas antara sungai dan atmosfer terjadi berdampingan dengan emisi transportasi buatan manusia dalam jumlah yang hampir seimbang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya