Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot

Kompas.com, 25 Agustus 2026, 10:05 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment menunjukkan bahwa kenaikan suhu air laut dapat menurunkan kemampuan jangka panjang tumbuhan bawah air dalam menyimpan karbon secara signifikan.

Melansir Phys, Kamis (20/8/2026) hal tersebut terungkap setelah para ilmuwan dari Leibniz Centre for Tropical Marine Research (ZMT) meneliti bagaimana suhu air yang lebih hangat memengaruhi karbon organik terlarut yang dilepaskan oleh padang lamun dan alga laut.

Karbon organik terlarut ini sendiri berperan penting dalam penyimpanan karbon jangka panjang.

Hasilnya memperlihatkan bahwa saat suhu naik, porsi karbon organik terlarut yang mampu bertahan lama mengalami penurunan yang drastis.

Temuan mereka menunjukkan bahwa kenaikan suhu air yang sedikit saja sudah mampu mengubah kandungan dan sifat karbon terlarut yang dilepaskan oleh padang lamun yang diteliti.

Baca juga: Peneliti BRIN Ingatkan Ancaman Pada Ekosistem Padang Lamun akibat Reklamasi

Penyimpanan karbon di laut makin berkurang

Padang lamun dan alga menyerap karbon dioksida dari udara untuk mendukung pertumbuhan serta proses hidupnya. Sebagian dari karbon ini diubah menjadi bagian tubuh tumbuhan, seperti daun dan akar.

Sebagian lagi tersimpan di dasar laut hingga berabad-abad atau ribuan tahun, sementara sisanya dilepaskan ke dalam air sebagai karbon organik terlarut.

Sebagian dari zat terlarut ini dengan cepat diurai oleh mikroorganisme. Namun, ada pula bagian yang sangat tahan terhadap pembusukan sehingga mampu bertahan di dalam laut selama berminggu-minggu, bertahun-tahun, bahkan hingga ratusan tahun.

Bentuk karbon yang tahan lama inilah yang justru turun drastis dalam eksperimen bertemperatur tinggi. Saat suhu air naik sebesar 4 derajat Celsius, jumlah karbon yang sulit terurai berkurang rata-rata sekitar 28 persen.

Di saat yang sama, porsi senyawa karbon yang mudah diurai oleh mikroorganisme justru melonjak tajam. Setelah 60 hari, sebagian besar dari karbon yang mudah terurai ini sudah habis membusuk.

"Padang lamun dan hutan kelp selama ini dianggap sebagai penyerap karbon alami. Jika laut terus memanas, kemampuan keduanya untuk menyimpan karbon dalam jangka panjang bisa jauh lebih kecil dari yang kita perkirakan sebelumnya," jelas penulis utama, Alba Yamuza-Magdaleno dari University of Cádiz.

Hal ini sangat penting karena banyak model perkiraan iklim selama ini menganggap ekosistem bawah air ini mampu menyerap karbon dioksida dari udara secara permanen dalam jumlah besar.

Para peneliti juga membandingkan jumlah karbon organik terlarut yang tahan lama dengan karbon yang tersimpan di dasar laut. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua proses tersebut sama-sama penting dan memiliki daya tampung yang setara.

Selama ini, sebagian besar penelitian hanya berfokus pada karbon yang tersimpan di dalam endapan lumpur laut. Penelitian baru ini membuktikan bahwa karbon organik terlarut juga memegang peran yang sangat besar.

Pentingnya padang lamun bagi ekosistem

Ekosistem pesisir seperti padang lamun, hutan mangrove, dan rawa asin dianggap sebagai penampung karbon alami yang sangat penting, yang sering disebut sebagai ekosistem "karbon biru". Ekosistem ini memegang peran kunci dalam menyerap karbon dioksida dari udara dan menyimpannya dalam jangka panjang.

Baca juga: Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau