Clecat mencatat bahwa rendahnya permukaan air sungai telah menyebabkan biaya transportasi makin mahal, pengiriman tertunda, jadwal ditunda, dan fleksibilitas produksi menurun.
"Kapal-kapal harus berlayar dengan muatan yang jauh lebih ringan dari biasanya agar kapal tidak tenggelam terlalu dalam ke dalam air," ujar Alexandre Charpentier, spesialis transportasi dari firma konsultan Roland Berger.
Apakah pembengkakan biaya logistik ini akan berdampak langsung pada harga barang bagi konsumen, semua itu bergantung pada seberapa lama gangguan ini terjadi, jenis barangnya, serta kemampuan perusahaan untuk menanggung atau meneruskan biaya tersebut.
Baca juga: Suhu Ekstrem dan Kekeringan Ancam Sektor Energi Nuklir Eropa
Clecat menekankan bahwa untuk berbagai barang curah, ongkos kirim merupakan bagian besar dari harga jual akhir. Jadi, jika kenaikan biaya ini berlangsung lama, dampaknya pasti akan terasa sampai ke tingkat konsumen.
Lebih lanjut, Charpentier menyampaikan bahwa masih terlalu dini untuk memprediksi seberapa besar kenaikan harga bagi masyarakat, tetapi ia memperingatkan bahwa perusahaan akan kesulitan jika harus menanggung seluruh biaya ekstra tersebut sendirian.
Mengingat ancaman kekeringan diperkirakan akan makin sering terjadi, para pengusaha kini mengandalkan kapal-kapal jenis baru yang lebih cocok untuk air dangkal, serta kombinasi transportasi darat seperti kereta api dan truk.
Namun, menurut Kistler, daya tahan jangka panjang sebenarnya sangat bergantung pada pengelolaan sumber daya air itu sendiri.
Di wilayah Prancis, pemerintah telah membangun serangkaian waduk dan saluran pengalih air di sepanjang Sungai Rhine untuk mengatur aliran air. Sebaliknya, di wilayah Jerman, sungai tersebut mengalir bebas tanpa hambatan dan sangat bergantung pada curah hujan.
Dengan solusi tersebut jumlah kapal yang melintas memang meningkat namun muatan yang dibawa masih sangat jauh dari batas maksimal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya