JAKARTA, KOMPAS.com - Apa yang terjadi dengan seragam kurir yang sudah tidak terpakai?
Bagi J&T Express, seragam operasional bekas tidak harus berakhir sebagai limbah. Perusahaan logistik tersebut mengolahnya kembali melalui proses upcycling menjadi produk baru yang masih memiliki nilai guna.
Melalui program J&T Sustainability Impact Program (J&T SIP), J&T Express telah mengolah sekitar 146 kilogram (kg) limbah tekstil dari seragam operasional yang sudah tidak digunakan.
Upcycling merupakan proses mengolah barang bekas atau limbah menjadi produk baru yang memiliki nilai dan fungsi lebih tinggi.
Baca juga: Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Brand Manager J&T Express Herline Septia mengatakan, program tersebut menjadi salah satu upaya perusahaan untuk mengurangi limbah sekaligus memperpanjang masa guna material dari kegiatan operasional.
"Makanya, kami baru saja mulai menjalankan program upcycle seragam-seragam operasional. Kira-kira bagaimana menjadi barang yang akan bermanfaat, barang yang tetap punya nilai dari seragam-seragam bekas operasional kami," ujar Herline dalam media gathering, Rabu (26/8/2026).
Berdasarkan perhitungan program, pengolahan 146 kg limbah tekstil tersebut diperkirakan dapat mencegah pelepasan sekitar 1,25 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) ke atmosfer.
Angka tersebut setara dengan emisi perjalanan mobil berbahan bakar bensin sejauh sekitar 5.000 kilometer.
Dalam pelaksanaannya, J&T Express menggandeng Liberty Society, organisasi berbasis kemitraan sosial, untuk mengolah seragam bekas tersebut menjadi produk baru.
Program tersebut tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga menggabungkan aspek lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
J&T Express melibatkan komunitas perempuan dari kelompok marginal sebagai tenaga kerja produktif. Mereka mendapatkan pelatihan sekaligus kesempatan kerja untuk menjahit dan menghasilkan produk dari material hasil upcycling.
Program J&T SIP pertama kali dijalankan di Sulawesi Selatan dan kemudian diperluas ke empat provinsi lainnya.
Herline mengatakan, perusahaan berharap model serupa dapat dikembangkan dalam skala yang lebih luas pada masa mendatang.
Menurut dia, keberlanjutan menjadi bagian dari upaya J&T Express untuk membangun bisnis yang tidak hanya bertumbuh, tetapi juga memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat.
"J&T itu visinya sebenarnya sangat sederhana, ingin jadi perusahaan yang sehat dan berkelanjutan," tutur Herline.
Selain mengolah seragam bekas, J&T Express juga tengah menyiapkan strategi untuk mengurangi limbah plastik yang berasal dari kemasan paket.
Herline mengatakan, persoalan kemasan menjadi perhatian karena perusahaan logistik berada dalam rantai distribusi barang yang menggunakan berbagai jenis kemasan.
"Sebenarnya, kami sangat-sangat perhatian dengan sampah bungkus paket. Karena meskipun penghasil utama bukan dari logistik, tetapi kami terlibat di lingkaran itu. Setidaknya, yang bisa kami lakukan untuk mengurangi minimal, atau ikut bertanggung jawab," ujar Herline kepada Kompas.com seusai acara.
Menurut dia, J&T Express masih mencari material alternatif yang dapat menggantikan plastik tanpa mengurangi aspek keamanan pengiriman.
Baca juga: Praktik Baik Rumah Maggot, dari Sampah Jadi Penggerak Ekonomi Sirkular
Perusahaan sebelumnya telah memperkenalkan kantong plastik berbahan singkong sebagai salah satu alternatif yang lebih ramah lingkungan. Namun, penggunaannya belum dapat diterapkan secara menyeluruh.
Pasalnya, material berbahan singkong tersebut belum memiliki karakteristik yang sesuai untuk seluruh jenis pengiriman. J&T Express tetap harus mempertimbangkan kekuatan kemasan serta keamanan paket selama proses distribusi.
"Jadi, kami masih harus mencari tahu dari sisi operasional maupun keterlibatan publik. Inginnya bertanggung jawab bersama dengan masyarakat, dengan pelanggan kami," kata Herline.
Selain mencari material pengganti, perusahaan juga mempertimbangkan skema penggunaan kembali kemasan untuk mengurangi timbulan sampah.
Dalam menentukan strategi tersebut, J&T Express perlu mempertimbangkan biaya investasi, tambahan proses operasional, serta karakteristik masing-masing jenis limbah.
Perusahaan juga pernah melakukan riset mengenai kemungkinan mendaur ulang *bubble wrap*. Namun, rencana tersebut belum dilanjutkan karena volume limbah *bubble wrap* yang berasal dari kegiatan operasional dinilai belum cukup besar.
"Jadi, target yang ingin kami lakukan di tahun depan sebenarnya sampah paket. Tapi ini PR (pekerjaan rumah) yang sangat luar biasa besar karena transaksinya juga besar," ujar Herline.
J&T Express juga berencana melibatkan pelanggan dan masyarakat dalam upaya mengurangi limbah kemasan.
Salah satu pendekatan yang tengah dipertimbangkan adalah membuat kampanye yang mendorong masyarakat bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan dari aktivitas pengiriman.
Perusahaan mempertimbangkan penggunaan mekanisme insentif atau poin sebagai pemicu agar pelanggan turut berpartisipasi dalam pengurangan sampah.
Selain aspek lingkungan, J&T Express juga menjalankan program keberlanjutan di bidang ekonomi melalui Jawara Lokal J&T Express yang dilaksanakan bersama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Baca juga: Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Program tersebut ditujukan untuk memperkuat ekosistem UMKM dan membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
UMKM terpilih mendapatkan dukungan permodalan sebesar Rp 15 juta, subsidi diskon biaya pengiriman J&T Express hingga 30 persen, serta akses promosi untuk memperluas jangkauan pasar.
Berbagai inisiatif tersebut menjadi bagian dari arah keberlanjutan J&T Express yang mencakup aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Herline mengatakan, perusahaan ingin memastikan pertumbuhan bisnis juga diikuti dengan upaya memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan.
"Kalau kita bilang secara keseluruhan, 11 tahun ini kita bukan mengukur seberapa besar J&T sudah, tapi lebih ke seberapa lebih baik lagi kita bisa melayani dan memberikan layanan yang lebih baik di Indonesia," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya