KOMPAS.com - IPB University mengembangkan sorgum Bionusa sebagai varietas unggul untuk mendukung diversifikasi pangan sekaligus penyediaan pakan.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Desta Wirnas mengungkap, sorgum Bionusa berasal dari penggabungan karakter unggul dua varietas nasional, yaitu Numbu dan Samurai 2.
Sorgum varietas Numbu dikenal banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan dalam bentuk biji maupun tepung. Sedangkan sorgum varietas Samurai 2 memiliki karakter yang sesuai untuk kebutuhan pakan.
“Dengan menyilangkan Numbu dan Samurai 2, karakter yang sesuai untuk pangan dan pakan diharapkan dapat digabungkan dalam satu varietas,” ujar Desta, dilansir dari IPB University, Rabu (26/8/2026).
Selain memiliki fungsi ganda, sorgum varietas Bionusa juga dikembangkan untuk memperoleh potensi hasil yang tinggi. Berdasarkan hasil pengembangannya, sorgum varietas Bionusa memiliki potensi hasil biji hingga 5,79 ton per hektare.
Sorgum varietas Bionusa juga mempunyai potensi biomassa hijauan mencapai 45,5 ton per hektare. Untuk kadar nira, sorgum varietas Bionusa sebesar 14,17 persen.
Di sisi lain, sorgum varietas Bionusa juga memiliki keunggulan dalam hal adaptif terhadap berbagai kondisi lain. Sorgum memang tanaman yang mempunyai daya adaptasi yang luas, sehingga bisa dibudidayakan di lahan kering atau tegalan. Sorgum juga dapat dibudidayakan di lahan subur, dan bahkan lahan marginal.
Karakter adaptif tersebut menjadi salah satu peluang penting bagi pengembangan sorgum di Indonesia. Apalagi, pemanfaatan lahan kering dapat menjadi alternatif dalam memperluas basis produksi pangan dan pakan tanpa terlalu bergantung pada lahan persawahan.
Ia meyakini Indonesia berpeluang untuk menjadi salah satu produsen sorgum utama di kawasan Asia.
“Seharusnya Indonesia bisa menjadi produsen dan eksportir sorgum karena teknologi budi daya sudah tersedia, varietas sudah banyak dengan berbagai keunggulan, serta ketersediaan lahan yang cukup, terutama lahan kering,” ucapnya.
Dengan dukungan teknologi budi daya, varietas unggul, dan pemanfaatan lahan kering, kata dia, sorgum Bionusa berpotensi menjadi salah satu inovasi yang bisa memperkuat pengembangan tanaman ini sebagai komoditas pangan maupun pakan strategis di Indonesia.
Peneliti dari Pusat Studi Energi UGM, Irham mengatakan, hampir seluruh bagian sorgum (Sorghum bicolor) bisa dimanfaatkan. Misalnya, nira batang sorgum yang tinggi gula bisa jadi bahan baku bioetanol.
Biji sorgum bisa dimanfaatkan untuk bahan pangan pengganti beras atau terigu yang bebas gulten. Sementara itu, ampas batang sorgum dan daunnya bisa digunakan sebagai pakan ternak atau biomassa.
Dari segi potensi persaingan kepentingan antara pangan dengan energi atau bioetanol, kata dia, sorgum lebih bagus dibanding tebu dan singkong. Kepentingan bioetanol dari tebu bersaing dengan kebutuhan pangan, seperti gula. Bahkan, kepentingan bioetanol dari singkong harus berbagai produk pangan turunannya, terutama tapioka.
"Sorgum itu hampir tidak ada persaingan, kecuali nanti kalau pangan kita kurang," ujar Irham di Jakarta, Senin (8/12/2025).
Ketika ketersediaan pangan di Indonesia terjaga, potensi sorgum dapat diarahkan untuk bioetanol. Dari nira batang sorgum dapat menghasilkan sekitar 2.300 liter etanol/hektar per musim tanam, sedangkan dari biji sorgum sekitar 1.800 liter etanol per hektar per musim tanam.
Beberapa penelitian menunjukkan potensi hasil etanol dari sorgum manis per hektar sebenarnya bisa lebih banyak, tergantung varietasnya. Misalnya, varietas unggul bioguma (agritan) bisa menghasilkan 2.000-4.000 liter etanol/hektar dengan kadar gula kurang dari 15,5 persen, termasuk potensi biomassa mencapai 46-50 ton per hektar.
"Pangan kita sebenarnya sudah oke maka sorgum bisa kita konsentrasikan ke bioetanol, sorgum manis itu konversi ke bioetanol besar itu. Sorgum ini kan bisa dipakai untuk pangan juga dan nanti bio product-nya bisa untuk pakan ternak. Jadi, ternak dapat, manusianya dapat, bioetanol, energinya dapat," tutur Irham.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya