"Kami tidak melihat adanya tanda bahwa kepuasan karyawan terhadap makanan kantin lebih rendah di kantor yang menyajikan makanan berbasis nabati dibandingkan kantor yang tidak menyajikannya, selama hari khusus makanan vegetarian tidak lebih dari satu hari dalam seminggu. Ini menunjukkan bahwa sebagian penolakan tersebut mungkin hanya reaksi spontan saja,” kata Lund.
Baca juga: Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Oleh karena itu, para peneliti percaya bahwa banyak tempat kerja yang sebenarnya punya peluang untuk mengubah menu kantin mereka menjadi lebih ramah lingkungan.
“Saat ini kami sedang meneliti lebih lanjut sejauh mana perubahan menu ini bisa diterapkan tanpa menimbulkan rasa tidak puas yang berkepanjangan,” ujar Lund.
“Kita juga harus ingat bahwa kelezatan makanan kantin itu sendiri bisa mengubah cara pandang orang-orang yang tadinya menolak,” tambah Hansen.
“Jika hidangan berbasis nabati dibuat lezat dan menggugah selera, serta pengunjung kantin yang tadinya ragu mendapatkan pengalaman makan yang menyenangkan, sikap mereka bisa berubah. Ini berarti bisnis katering dan penyedia makanan punya peran kunci untuk mengubah menu kantin yang ramah lingkungan menjadi pengalaman makan yang positif,” ungkap Hansen lagi.
Para peneliti dari Universitas Copenhagen juga menghitung jejak karbon dari pilihan makan siang yang disediakan oleh perusahaan katering Jespers Torvekøkken.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa makan siang vegetarian rata-rata memiliki jejak karbon 60 persen lebih rendah dibandingkan makan siang yang mengandung daging.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya