KOMPAS.com - Saat perusahaan berlomba-lomba menerapkan kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja, penelitian baru menunjukkan bahwa pekerja mendapatkan manfaat AI paling besar ketika dipadukan dengan pengalaman, dan bukan dijadikan sebagai penggantinya.
Melansir Phys, Selasa (25/8/2026) studi berjudul "Human-Algorithm Collaboration in Gig Work: The Role of Experience, Skill Level, and Task Complexity" yang diterbitkan dalam Information Systems Research menemukan bahwa panduan berbasis AI mampu meningkatkan produktivitas, kualitas layanan, dan fleksibilitas kerja pada para pembelanja Instacart.
Pembelanja Instacart adalah orang-orang yang bertugas menerima pesanan lewat aplikasi, datang langsung ke toko kelontong atau supermarket, memilih dan mengambil barang dari rak, lalu mengemasnya untuk dikirimkan ke pembeli.
Para peneliti juga menemukan bahwa pengalaman kerja memegang peranan kunci dalam menentukan siapa yang paling diuntungkan oleh teknologi tersebut.
Baca juga: Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
Dalam penelitian ini, para ahli melakukan eksperimen lapangan secara acak pada hampir 6.000 pembelanja Instacart di sekitar 160 toko di Amerika Serikat.
Peserta kemudian dibagi secara acak untuk menerima rekomendasi navigasi dan lokasi produk berbasis AI saat menyelesaikan pesanan pelanggan. Cara ini dilakukan agar peneliti dapat mengukur dampak teknologi tersebut dalam kondisi kerja dunia nyata.
Hasilnya, pembelanja yang menggunakan panduan AI mengalami penurunan angka pengembalian barang sebesar 3,83 persen, yang meningkatkan kualitas pesanan, peningkatan kecepatan pengambilan barang sebesar 3,29 persen serta peningkatan produktivitas sebesar 3,16 persen.
Kenaikan sebesar 32,5 persen dalam kemampuan berbelanja di berbagai toko berbeda, memberikan fleksibilitas lebih bagi pekerja untuk mengambil pekerjaan yang ada.
Namun para peneliti juga menemukan bahwa pengalaman kerja menentukan seberapa efektif seseorang dalam mengoperasikan teknologi ini.
Pembelanja yang kurang berpengalaman cenderung terlalu bergantung pada sistem AI, tetapi hasilnya tidak selalu lebih baik.
Sebaliknya, pekerja yang lebih berpengalaman mampu memadukan rekomendasi AI dengan penilaian pribadi mereka sendiri, terutama saat menghadapi belanjaan yang rumit atau ketika beban kerja sedang menumpuk.
"Ada anggapan yang makin berkembang bahwa AI membuat persaingan jadi setara dengan mengurangi pentingnya keahlian," kata penulis studi Benjamin Knight, seorang peneliti di Maplebear Inc.
Temuan ini menunjukkan bahwa perusahaan bisa mendapatkan manfaat yang lebih besar dari penerapan AI di tempat kerja jika investasi teknologi tersebut diimbangi dengan pengembangan dan pelatihan karyawan.
"Perusahaan sering kali hanya fokus memasang AI yang lebih canggih," kata Dmitry Mitrofanov, salah satu penulis studi dan asisten profesor manajemen operasional di Boston College.
Baca juga: Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
"Temuan kami menyarankan agar mereka memberikan perhatian yang sama besarnya dalam membina pekerja yang tahu cara menggunakannya secara efektif. Teknologi dan pengalaman manusia akan memberikan hasil terbaik jika berjalan bersamaan," terangnya.
Dampak dari temuan ini tidak hanya berlaku pada bisnis pengiriman belanjaan saja. Berbagai perusahaan di bidang ritel, logistik, pelayanan kesehatan, layanan pelanggan, dan industri lainnya makin gencar menggunakan AI untuk membantu para pekerja di baris depan.
Studi ini menunjukkan bahwa manfaat terbesar akan tercipta ketika alat-alat AI tersebut melengkapi keahlian manusia, bukan malah berusaha menggantikannya.
"AI memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan produktivitas, tetapi AI bukanlah pengganti keahlian manusia," kata Serguei Netessine, salah satu penulis studi sekaligus profesor di Wharton School, Universitas Pennsylvania.
"Perusahaan yang memadukan teknologi canggih dengan investasi pada pengembangan pekerja akan berada di posisi yang lebih unggul untuk meraih manfaat AI secara maksimal," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya