Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AI Paling Efektif Bantu Pekerja Jika Dipadukan dengan Pengalaman

Kompas.com, 27 Agustus 2026, 21:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Saat perusahaan berlomba-lomba menerapkan kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja, penelitian baru menunjukkan bahwa pekerja mendapatkan manfaat AI paling besar ketika dipadukan dengan pengalaman, dan bukan dijadikan sebagai penggantinya.

Melansir Phys, Selasa (25/8/2026) studi berjudul "Human-Algorithm Collaboration in Gig Work: The Role of Experience, Skill Level, and Task Complexity" yang diterbitkan dalam Information Systems Research menemukan bahwa panduan berbasis AI mampu meningkatkan produktivitas, kualitas layanan, dan fleksibilitas kerja pada para pembelanja Instacart.

Pembelanja Instacart adalah orang-orang yang bertugas menerima pesanan lewat aplikasi, datang langsung ke toko kelontong atau supermarket, memilih dan mengambil barang dari rak, lalu mengemasnya untuk dikirimkan ke pembeli.

Para peneliti juga menemukan bahwa pengalaman kerja memegang peranan kunci dalam menentukan siapa yang paling diuntungkan oleh teknologi tersebut.

Baca juga: Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara

Dalam penelitian ini, para ahli melakukan eksperimen lapangan secara acak pada hampir 6.000 pembelanja Instacart di sekitar 160 toko  di Amerika Serikat.

Peserta kemudian dibagi secara acak untuk menerima rekomendasi navigasi dan lokasi produk berbasis AI saat menyelesaikan pesanan pelanggan. Cara ini dilakukan agar peneliti dapat mengukur dampak teknologi tersebut dalam kondisi kerja dunia nyata.

Hasilnya, pembelanja yang menggunakan panduan AI mengalami penurunan angka pengembalian barang sebesar 3,83 persen, yang meningkatkan kualitas pesanan, peningkatan kecepatan pengambilan barang sebesar 3,29 persen serta peningkatan produktivitas sebesar 3,16 persen.

Kenaikan sebesar 32,5 persen dalam kemampuan berbelanja di berbagai toko berbeda, memberikan fleksibilitas lebih bagi pekerja untuk mengambil pekerjaan yang ada.

Namun para peneliti juga menemukan bahwa pengalaman kerja menentukan seberapa efektif seseorang dalam mengoperasikan teknologi ini.

Pembelanja yang kurang berpengalaman cenderung terlalu bergantung pada sistem AI, tetapi hasilnya tidak selalu lebih baik.

Sebaliknya, pekerja yang lebih berpengalaman mampu memadukan rekomendasi AI dengan penilaian pribadi mereka sendiri, terutama saat menghadapi belanjaan yang rumit atau ketika beban kerja sedang menumpuk.

"Ada anggapan yang makin berkembang bahwa AI membuat persaingan jadi setara dengan mengurangi pentingnya keahlian," kata penulis studi Benjamin Knight, seorang peneliti di Maplebear Inc.

Temuan ini menunjukkan bahwa perusahaan bisa mendapatkan manfaat yang lebih besar dari penerapan AI di tempat kerja jika investasi teknologi tersebut diimbangi dengan pengembangan dan pelatihan karyawan.

"Perusahaan sering kali hanya fokus memasang AI yang lebih canggih," kata Dmitry Mitrofanov, salah satu penulis studi dan asisten profesor manajemen operasional di Boston College.

Baca juga: Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis

"Temuan kami menyarankan agar mereka memberikan perhatian yang sama besarnya dalam membina pekerja yang tahu cara menggunakannya secara efektif. Teknologi dan pengalaman manusia akan memberikan hasil terbaik jika berjalan bersamaan," terangnya.

Dampak dari temuan ini tidak hanya berlaku pada bisnis pengiriman belanjaan saja. Berbagai perusahaan di bidang ritel, logistik, pelayanan kesehatan, layanan pelanggan, dan industri lainnya makin gencar menggunakan AI untuk membantu para pekerja di baris depan.

Studi ini menunjukkan bahwa manfaat terbesar akan tercipta ketika alat-alat AI tersebut melengkapi keahlian manusia, bukan malah berusaha menggantikannya.

"AI memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan produktivitas, tetapi AI bukanlah pengganti keahlian manusia," kata Serguei Netessine, salah satu penulis studi sekaligus profesor di Wharton School, Universitas Pennsylvania.

"Perusahaan yang memadukan teknologi canggih dengan investasi pada pengembangan pekerja akan berada di posisi yang lebih unggul untuk meraih manfaat AI secara maksimal," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau