KOMPAS.com - Kulit semangka selama ini kerap dianggap sebagai limbah dan dibuang setelah daging buah dikonsumsi. Padahal, bagian putih kulit semangka atau rind mengandung serat, pektin, dan sejumlah senyawa bioaktif yang berpotensi dimanfaatkan lebih lanjut.
Berdasarkan profil nutrisi United States Department of Agriculture (USDA), setiap 50 gram kulit semangka mentah mengandung sekitar 10 kalori, 1 gram serat pangan, 140 miligram kalium, dan 4 miligram vitamin C.
Potensi tersebut membuka peluang pemanfaatan semangka secara lebih utuh sekaligus menjadi bagian dari upaya mengurangi limbah pangan.
Baca juga: Dari Petani Tanah Datar, Energi Kalimantan Tumbuh untuk Ketahanan Pangan
Guru Besar Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Budi S. Daryono mengatakan, kandungan kulit semangka berbeda dengan daging buah karena kedua bagian tersebut memiliki struktur dan fungsi jaringan yang berbeda.
Menurut dia, bagian putih kulit semangka memiliki komponen penyusun dinding sel. Serat dan pektin menjadi salah satu komponen yang menonjol, selain sejumlah senyawa bioaktif.
"Perbedaan kandungan serat dan mineral antara kulit dan daging buah lebih tepat dipahami sebagai konsekuensi dari perbedaan struktur dan fungsi kedua jaringan tersebut, bukan sebagai indikasi bahwa salah satu bagian secara keseluruhan lebih bergizi daripada bagian lainnya," ujar Budi, dilansir dari laman resmi UGM, Jumat (28/8/2026).
Budi mengatakan, pemanfaatan kulit semangka sebagai bahan pangan tidak bisa dilakukan dengan menganggap semua varietas semangka memiliki karakter yang sama.
Sejumlah penelitian terhadap beberapa kultivar semangka menunjukkan adanya perbedaan kandungan serat, gula, protein, senyawa fenolik, aktivitas antioksidan, hingga karakter fisikokimia pada bagian kulit.
Perbedaan juga ditemukan pada kandungan senyawa bioaktif, seperti fenolik dan citrulline, yang tidak selalu memiliki pola yang sama dengan kandungan pada daging buah.
"Ketika kulit semangka mulai dipertimbangkan sebagai bahan pangan, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa 'kulit semangka bisa dimakan', tetapi juga perlu mengetahui semangka yang mana dan bagaimana bahan tersebut diproduksi," kata Budi.
Menurut dia, karakter kulit yang berbeda antarkultivar justru membuka peluang untuk mengembangkan pemanfaatan yang disesuaikan dengan karakter masing-masing varietas.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep whole-fruit utilization, yakni memanfaatkan sebanyak mungkin bagian dari suatu buah sesuai dengan karakter dan potensinya.
Pemanfaatan kulit semangka sebagai pangan sebenarnya bukan hal baru. Di sejumlah negara, bagian tersebut telah dimanfaatkan untuk membuat pickle maupun manisan.
Meski memiliki potensi sebagai bahan pangan, Budi mengingatkan aspek keamanan tetap harus menjadi perhatian.
Kulit semangka merupakan bagian terluar buah yang bersentuhan langsung dengan lingkungan. Karena itu, kemungkinan adanya residu pestisida perlu diperhitungkan sebelum kulit semangka diolah dan dikonsumsi.
Baca juga: Dorong Akselerasi Hijau, Dompet Dhuafa Luncurkan Kebun Pangan Madaya di PTGL Sukabumi
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya