KOMPAS.com - Bank Pembangunan Asia (ADB) bersama para mitranya meluncurkan program pendanaan kawasan yang bertujuan mengumpulkan dana minimal 2 miliar dolar AS (sekitar Rp35,4 triliun) hingga tahun 2035.
Dana ini akan digunakan untuk memulihkan lahan yang rusak dan memperkuat ketahanan terhadap kekeringan.
Melansir ESG News, Selasa (25/8/2026) program bernama Financing Investments and Eradicating Land Degradation and Desertification (FIELD) ini akan beroperasi di seluruh wilayah Asia dan Pasifik.
Program ini bertugas membantu pemerintah setempat merancang proyek, mengamankan pendanaan, hingga menjalankan program pemulihan lahan secara nyata.
ADB mengumumkan program FIELD ini dalam pertemuan tingkat menteri di Konferensi PBB tentang Penanganan Penggundulan Lahan (COP17 UNCCD) yang digelar di Ulaanbaatar.
"Kerusakan lahan dan penggurunan merupakan ancaman serius bagi ekosistem yang menopang kehidupan jutaan warga pedesaan serta pertumbuhan ekonomi di kawasan kita," kata Scott Morris, Wakil Presiden ADB untuk wilayah Asia Timur, Asia Tenggara, dan Pasifik.
"Dengan bekerja sama bersama para mitra dan memperbesar investasi pada lahan yang sehat serta produktif, ADB akan memimpin upaya untuk menjaga kelestarian alam, meningkatkan taraf hidup masyarakat, serta menjamin ketersediaan pangan dan air bagi semua orang," katanya lagi.
Baca juga: Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Program FIELD dirancang untuk mengatasi salah satu hambatan utama dalam investasi alam skala besar yaitu mengubah masalah lingkungan menjadi proyek menarik yang bisa didanai oleh investor.
Program ini akan menggunakan berbagai cara pendanaan, seperti penggabungan modal, jaminan penekan risiko, dan instrumen pasar modal. Alat-alat ini bertujuan untuk menarik investor swasta agar mau ikut mendanai bersama pemerintah dan lembaga pembangunan.
Beberapa daftar proyek awal sudah disiapkan. Proyek ini mencakup pemulihan lahan dan hutan, serta pengelolaan daerah aliran sungai dan air.
Tantangan pencarian dana ini makin besar karena kekeringan, pengikisan tanah, dan penggunaan lahan yang merusak makin menekan lingkungan hidup di kawasan tersebut.
Menurut ADB, daerah lahan kering menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 40 persen penduduk Asia-Pasifik.
Kerusakan lahan ini mengancam hasil pertanian, keanekaragaman hayati, dan ketahanan ekonomi. Kerusakan ini juga menciptakan risiko besar bagi ketersediaan pangan dan air bersih, terutama bagi warga di pedesaan.
Padang rumput menjadi bagian penting dari masalah ini. Padang rumput mencakup 54 persen dari permukaan bumi dan menyimpan hingga 30 persen karbon tanah dunia. Namun, bantuan dana untuk mengelola dan memulihkan padang rumput secara berkelanjutan masih sangat terbatas.
FIELD menargetkan sekitar 1 juta hektar lahan untuk dikelola secara berkelanjutan pada tahun 2035. Program ini diharapkan dapat mengurangi kerusakan lahan sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan, ketersediaan pangan, dan pasokan air bersih.
Fokus program ini tidak hanya pada pendanaan semata. FIELD akan memberikan hibah dan pendampingan teknis kepada negara-negara berkembang anggota ADB. Bantuan tersebut mencakup pembuatan kebijakan, pelatihan keterampilan, dan wadah berbagi pengetahuan tingkat regional.
Inisiatif ini akan berjalan sebagai jalur khusus pemulihan lahan dan ketahanan kekeringan di bawah Nature Solutions Finance Hub milik ADB. Wadah yang lebih luas ini mengumpulkan para mitra keuangan dan teknis untuk memperbesar investasi lingkungan hidup di seluruh Asia dan Pasifik.
Program FIELD juga sejalan dengan Rencana Aksi Lingkungan ADB dan komitmen dana senilai 40 miliar dolar AS (sekitar Rp708 triliun) untuk memperbarui sistem pangan di kawasan ini hingga tahun 2030.
Bagi pemerintah, program ini memberikan jalur mudah untuk menghubungkan kebijakan lahan dengan pembuatan proyek dan pendanaannya. Bagi investor, program ini membuka peluang investasi ramah lingkungan yang lebih terstruktur di wilayah yang sebelumnya sulit mengembangkan proyek skala besar.
Baca juga: Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Dukungan awal untuk program FIELD datang dari berbagai pihak, termasuk UNCCD, Qatar Fund for Development, dan Middle East Green Initiative.
Para mitra yang sudah bergabung di Nature Solutions Finance Hub juga ikut terlibat. Mereka antara lain Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), Uni Eropa, OPEC Fund, Kementerian Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, serta lembaga kerja sama Jerman (GIZ).
Target dana sebesar 2 miliar dolar AS ini menempatkan pemulihan lahan sebagai bagian dari upaya besar untuk menjadikan kelestarian alam sebagai bidang investasi yang menguntungkan.
Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada kemampuan FIELD mengubah cita-cita kebijakan menjadi proyek yang layak didanai bisnis, serta menarik modal dari pihak swasta ke sektor yang selama ini hanya mengandalkan uang pemerintah.
Bagi kawasan Asia dan Pasifik, pendanaan ini tidak hanya penting untuk lingkungan, tetapi juga untuk perekonomian. Lahan yang rusak mengganggu sektor pertanian, pasokan air bersih, dan mata pencaharian warga desa. Oleh karena itu, ketahanan lahan kini menjadi isu yang makin penting bagi pemerintah, perusahaan, dan para investor di seluruh wilayah tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya