Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

ADB Targetkan Rp 35 Triliun untuk Pemulihan Lahan di Asia-Pasifik

Kompas.com, 29 Agustus 2026, 11:33 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Bank Pembangunan Asia (ADB) bersama para mitranya meluncurkan program pendanaan kawasan yang bertujuan mengumpulkan dana minimal 2 miliar dolar AS (sekitar Rp35,4 triliun) hingga tahun 2035.

Dana ini akan digunakan untuk memulihkan lahan yang rusak dan memperkuat ketahanan terhadap kekeringan.

Melansir ESG News, Selasa (25/8/2026) program bernama Financing Investments and Eradicating Land Degradation and Desertification (FIELD) ini akan beroperasi di seluruh wilayah Asia dan Pasifik.

Program ini bertugas membantu pemerintah setempat merancang proyek, mengamankan pendanaan, hingga menjalankan program pemulihan lahan secara nyata.

ADB mengumumkan program FIELD ini dalam pertemuan tingkat menteri di Konferensi PBB tentang Penanganan Penggundulan Lahan (COP17 UNCCD) yang digelar di Ulaanbaatar.

"Kerusakan lahan dan penggurunan merupakan ancaman serius bagi ekosistem yang menopang kehidupan jutaan warga pedesaan serta pertumbuhan ekonomi di kawasan kita," kata Scott Morris, Wakil Presiden ADB untuk wilayah Asia Timur, Asia Tenggara, dan Pasifik.

"Dengan bekerja sama bersama para mitra dan memperbesar investasi pada lahan yang sehat serta produktif, ADB akan memimpin upaya untuk menjaga kelestarian alam, meningkatkan taraf hidup masyarakat, serta menjamin ketersediaan pangan dan air bagi semua orang," katanya lagi.

Baca juga: Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI

Mengubah kebutuhan pemulihan lahan jadi proyek investasi

Program FIELD dirancang untuk mengatasi salah satu hambatan utama dalam investasi alam skala besar yaitu mengubah masalah lingkungan menjadi proyek menarik yang bisa didanai oleh investor.

Program ini akan menggunakan berbagai cara pendanaan, seperti penggabungan modal, jaminan penekan risiko, dan instrumen pasar modal. Alat-alat ini bertujuan untuk menarik investor swasta agar mau ikut mendanai bersama pemerintah dan lembaga pembangunan.

Beberapa daftar proyek awal sudah disiapkan. Proyek ini mencakup pemulihan lahan dan hutan, serta pengelolaan daerah aliran sungai dan air.

Tantangan pencarian dana ini makin besar karena kekeringan, pengikisan tanah, dan penggunaan lahan yang merusak makin menekan lingkungan hidup di kawasan tersebut.

Menurut ADB, daerah lahan kering menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 40 persen penduduk Asia-Pasifik.

Kerusakan lahan ini mengancam hasil pertanian, keanekaragaman hayati, dan ketahanan ekonomi. Kerusakan ini juga menciptakan risiko besar bagi ketersediaan pangan dan air bersih, terutama bagi warga di pedesaan.

Padang rumput menjadi bagian penting dari masalah ini. Padang rumput mencakup 54 persen dari permukaan bumi dan menyimpan hingga 30 persen karbon tanah dunia. Namun, bantuan dana untuk mengelola dan memulihkan padang rumput secara berkelanjutan masih sangat terbatas.

Target 1 juta hektar pada tahun 2035

FIELD menargetkan sekitar 1 juta hektar lahan untuk dikelola secara berkelanjutan pada tahun 2035. Program ini diharapkan dapat mengurangi kerusakan lahan sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan, ketersediaan pangan, dan pasokan air bersih.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau