Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kota di Eropa Belum Maksimal Gunakan Ruang Hijau untuk Atasi Perubahan Iklim

Kompas.com, 29 Agustus 2026, 13:06 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com-Ruang terbuka hijau sebenarnya bisa menjadi kunci utama untuk membantu kota menghadapi dampak perubahan iklim. Namun, perannya masih sangat kecil dalam strategi penanganan iklim saat ini.

Hal ini terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Martin Luther University Halle-Wittenberg (MLU) dan Justus Liebig University Giessen (JLU), yang menganalisis strategi iklim dari 25 kota besar di Eropa.

Melansir Phys, Rabu (26/8/2026) dari sekitar 2.500 langkah penanganan yang diteliti oleh tim tersebut, hanya 11,6 persen yang melibatkan penggunaan ruang hijau dan ruang terbuka kota. Kota-kota tersebut masih berfokus utama pada cara mengurangi atau mencegah emisi gas rumah kaca.

Studi ini telah diterbitkan dalam jurnal Progress in Disaster Science.

Baca juga: Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas

Wilayah perkotaan menjadi area yang paling parah terdampak oleh badai, hujan lebat, dan gelombang panas karena bangunannya yang padat, jumlah penduduk yang banyak, serta banyaknya permukaan jalan yang dilapisi aspal atau semen.

Keberadaan ruang terbuka hijau dapat membantu meredakan dampak buruk tersebut dengan cara menyerap air hujan dan menurunkan suhu udara.

"Meskipun manfaat positif dari ruang terbuka hijau di perkotaan sudah sering diteliti dan sangat dikenal, pengetahuan ini belum diterapkan secara konsisten dalam dokumen strategi iklim di banyak kota besar di Eropa," kata Dr. Marcin Spyra, pengajar senior dari Institut Ilmu Kebumian dan Geografi di MLU.

Para peneliti menganalisis laporan perencanaan dari 25 ibu kota dan kota besar lainnya di Eropa. Tim mengelompokkan setiap langkah penanganan yang ada di dalam rencana tersebut berdasarkan jenis, tujuan, serta sejauh mana pemanfaatan ruang hijau dan ruang terbuka kota lainnya.

"Satu hal positif utamanya adalah bahwa aksi penanganan iklim sudah menjadi prioritas strategis di hampir semua rencana pembangunan kota, lengkap dengan berbagai jenis tindakan. Namun, analisis tersebut juga memperlihatkan bahwa sebagian besar rencana masih didominasi oleh langkah-langkah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang berbahaya," ujar Spyra.

"Jumlah tindakan yang bertujuan untuk melindungi diri dari dampak perubahan iklim yang mulai terasa memang makin meningkat. Ruang hijau tampil jauh lebih menonjol dalam strategi adaptasi) dibanding pada rencana yang hanya berfokus pada pengurangan emisi. Meski begitu, secara keseluruhan jumlahnya masih sangat sedikit," kata Dr. Victoria Dietze dari JLU.

Menurut tim peneliti, lebih banyaknya langkah pengurangan emisi dalam rencana iklim ini salah satunya disebabkan oleh target iklim Uni Eropa, yang memang berfokus utama pada penekanan emisi gas rumah kaca yang berbahaya.

Baca juga: Studi: Lebih Banyak Ruang Hijau Belum Tentu Mampu Redam Panas

Lebih lanjut, para peneliti mengatakan bahwa area yang dulunya diaspal, seperti tempat parkir, bisa memegang peran penting dalam mengatasi perubahan iklim jika ditata ulang.

"Keputusan tentang cara memanfaatkan ruang terbuka di perkotaan bukanlah hal yang sepele. Kita memang butuh perumahan, sekolah, dan akses transportasi, tetapi kita juga butuh keanekaragaman hayati serta ekosistem yang berfungsi dengan baik," kata Sina Hammermeister, yang melakukan penelitian ini sebagai bagian dari tesis magisternya di MLU.

Studi ini menganalisis dokumen laporan strategi kota, bukan pelaksanaan nyatanya di lapangan.

"Meski begitu, apa yang direncanakan oleh kota menjadi kunci utama dari tindakan yang akan mereka ambil. Tanpa adanya strategi, biasanya tidak akan ada pelaksanaan," tutup Spyra. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau