Studi ini juga menyoroti bahwa karhutla dan pembakaran terkendali di alam liar menghasilkan lebih banyak senyawa kimia pencemar yang sebelumnya tidak banyak diperhitungkan.
Setiap tahun, karhutla membakar area vegetasi yang sangat luas. Proses ini melepaskan uap air, abu, serta senyawa kimia berbasis karbon ke atmosfer. Sebagian dari senyawa ini berbentuk gas yang mudah menguap atau dikenal sebagai volatile organic compounds (VOCs).
Senyawa-senyawa ini hanya berubah menjadi gas pada suhu tertentu dan lebih mudah membentuk partikel halus di udara, yang sangat berbahaya jika terhirup.
Namun, IVOCs dan SVOCs sering diabaikan dalam studi emisi kebakaran hutan, dengan jumlah sangat banyak dan struktur kimia beragam, yang mana membuat pengukurannya menjadi rumit. Banyak studi sebelumnya hanya berfokus pada VOCs yang lebih mudah diamati.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya