Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Investasi Hijau Tumbuh, EBUS Berkelanjutan Capai Rp 85,15 Triliun

Kompas.com, 29 Agustus 2026, 18:40 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Minat investor terhadap instrumen investasi berkelanjutan di Indonesia menunjukkan tren positif. Hal ini tercermin dari nilai berbagai instrumen keuangan berkelanjutan yang terus bertumbuh hingga pertengahan 2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi mengatakan, total akumulasi penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) berlandaskan keberlanjutan telah mencapai Rp 85,15 triliun per Juni 2026.

Sementara itu, reksa dana berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) mencatatkan nilai aset di bawah pengelolaan atau Asset Under Management (AUM) sebesar Rp 8,49 triliun pada periode yang sama.

Baca juga: Limbah Pertanian di Lampung Berpotensi Jadi Investasi Hijau dan Ekonomi Sirkular

Adapun Bursa Karbon Indonesia, meski masih berada pada tahap awal pengembangan, telah membukukan akumulasi nilai transaksi sebesar Rp 93,89 miliar dengan 155 pengguna hingga Juli 2026.

"Saat ini pasar modal kita juga menyediakan berbagai produk investasi maupun pendanaan berlandaskan keberlanjutan," ujar Hasan dalam Seremoni Pembukaan Perdagangan dalam rangka Peluncuran dan Sosialisasi Penetapan Saham Berbasis Hijau BEI, Jumat (28/8/2026).

Menurut Hasan, penguatan ekosistem keuangan berkelanjutan ke depan akan didukung oleh payung hukum yang lebih komprehensif.

Dalam waktu dekat, pemerintah akan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pengembangan Keuangan Berkelanjutan sebagai aturan turunan dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

Salah satu poin penting dalam PP tersebut adalah pembentukan Komite Keuangan Berkelanjutan.

Komite tersebut akan menjadi wadah koordinasi tingkat tinggi yang beranggotakan Kementerian Keuangan, OJK, dan Bank Indonesia.

"Tentunya nanti bersama berbagai pemangku kepentingan di tanah air, komite ini akan mengembangkan dan semakin melengkapi ekosistem keuangan berkelanjutan melalui berbagai kebijakan yang akan mendukung pengembangan keuangan berkelanjutan," tutur Hasan.

Dorong saham berbasis hijau

Penguatan ekosistem investasi berkelanjutan juga dilakukan melalui peluncuran IDX Green Equity Designation oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hasan mengatakan, inisiatif tersebut sejalan dengan Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan Indonesia 2024-2030 yang telah diluncurkan OJK.

Peta jalan tersebut menjadi acuan strategi pengembangan pasar modal berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan.

Peluncuran IDX Green Equity Designation merupakan salah satu program prioritas dalam pilar pertama roadmap tersebut, yakni mendorong penggunaan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) dalam praktik pasar modal.

"Kami memandang bahwa inisiatif ini adalah langkah yang sangat strategis yang tentu sejalan dengan arah pengembangan keuangan berkelanjutan di OJK, terutama dalam rangka memperkuat ekosistem dan menghadirkan peran sentral pasar modal kita dalam mendukung pembiayaan, penggalangan dana, dan juga menawarkan alternatif investasi yang baik pada kegiatan yang terkait dengan ekonomi hijau," ucapnya.

Menurut Hasan, IDX Green Equity Designation berpotensi meningkatkan visibilitas perusahaan tercatat yang memiliki kegiatan ekonomi hijau maupun perusahaan yang sedang menjalani transisi menuju ekonomi hijau.

Selain itu, penetapan tersebut diharapkan dapat memperkuat transparansi dan kredibilitas informasi terkait keberlanjutan di pasar modal.

Baca juga: Prabowo Teken Perpes 110 Tahun 2025, Disebut Bisa Percepat Investasi Hijau

OJK juga berharap semakin banyak perusahaan tercatat yang berpartisipasi sehingga pilihan instrumen investasi hijau bagi investor semakin beragam.

Buka akses pendanaan

Hasan menilai, kriteria praktik bisnis berkelanjutan kini menjadi salah satu indikator penting bagi kreditur dan investor global dalam menyalurkan modal.

Karena itu, keberadaan IDX Green Equity Designation diharapkan dapat membantu memperluas akses pendanaan bagi perusahaan tercatat.

"Satu sisi, perusahaan akan semakin dikenal dan mudah mendapatkan akses pendanaan. Di sisi lain, bagi investor, penetapan ini menjadi acuan dan referensi investasi, terutama dalam pembentukan reksa dana atau indeks berbasis saham berkelanjutan," ujar Hasan.

Bagi emiten yang telah memenuhi kriteria, Hasan mengimbau agar segera melakukan sertifikasi melalui pihak independen yang ditunjuk.

Sementara bagi perusahaan yang belum memenuhi kriteria, BEI memberikan ruang untuk menyusun rencana transisi agar kegiatan bisnis mereka dapat semakin berorientasi pada aspek lingkungan dan sosial.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau