Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Cukup Hanya Hemat Energi, Teknologi Cerdas Kini Jadi Kunci Efisiensi Bangunan Berkelanjutan

Kompas.com, 30 Agustus 2026, 19:10 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebuah bangunan mungkin berhasil menekan konsumsi listrik. Namun, ketika sistem kelistrikan mengalami gangguan, penghematan tersebut bisa kehilangan makna jika aktivitas di dalam bangunan ikut terhenti.

Di sisi lain, penanganan gangguan membutuhkan waktu dan sumber daya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan bangunan tidak cukup diukur dari seberapa sedikit energi yang digunakan, tetapi juga dari seberapa andal sistem bekerja, seberapa cepat gangguan ditangani, serta seberapa baik aset dikelola sepanjang masa pakainya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian PT Robust Multilab Solusindo. Perusahaan ini bergerak di bidang desain, pengadaan, produksi, instalasi, serta pemeliharaan sistem dan furnitur laboratorium.

Elektrikal Manager PT Robust Multilab Solusindo Khodlin Mustofa mengatakan, terdapat tiga kebutuhan utama yang perlu diperhatikan dalam sistem kelistrikan, yakni efisiensi energi, keandalan sistem, dan kualitas daya.

Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting ketika sistem pengamanan listrik masih terpusat di satu lokasi.

“Dalam kondisi seperti itu, akses terhadap pengaman dapat menjadi kurang praktis ketika terjadi gangguan atau diperlukan penanganan cepat. Akibatnya, proses operasional berisiko ikut terganggu," ujar Mustofa saat dihubungi Kompas.com, Rabu (13/8/2026).

Persoalan semacam itu menunjukkan bahwa keberlanjutan bangunan tidak hanya berkaitan dengan berapa banyak listrik yang dikonsumsi.

Menurut Mustofa, sistem kelistrikan juga perlu mampu bekerja secara andal, aman, mudah dipantau, dan mendukung aktivitas di dalam bangunan dalam jangka panjang.

“Upaya meningkatkan aspek-aspek tersebut mungkin tidak selalu menghasilkan penghematan energi secara langsung. Namun, keandalan sistem, efisiensi operasional, dan pengelolaan aset tetap menjadi bagian penting dalam membangun gedung yang berkelanjutan,” jelas dia.

Tak cukup hanya hemat energi

Sektor bangunan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Menurut data Architecture 2030, bangunan menyumbang hampir 40 persen emisi karbon global. Sementara itu, US Environmental Protection Agency mencatat sekitar 30 persen energi yang digunakan di dalam gedung masih terbuang sia-sia akibat pengelolaan yang belum optimal.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan energi pada bangunan bukan semata-mata terletak pada besarnya konsumsi, tetapi juga pada bagaimana energi dikelola dan bagaimana sistem merespons perubahan kondisi.

Karena itu, upaya menciptakan bangunan berkelanjutan tidak cukup hanya dengan menghitung berapa kilowatt-jam listrik yang berhasil dikurangi.

Gedung yang hemat energi tetap menghadapi persoalan jika sistem kelistrikannya tidak andal, asetnya cepat rusak, atau pengelola harus mengeluarkan biaya besar untuk mempertahankan operasionalnya.

Pengelolaan aset menjadi titik penting untuk menghubungkan efisiensi energi dengan keandalan bangunanSchneider Electric Pengelolaan aset menjadi titik penting untuk menghubungkan efisiensi energi dengan keandalan bangunan

Praktisi di bidang keandalan sistem tenaga listrik dan manajemen aset Ragil Handito menjelaskan, keberlanjutan sebuah bangunan perlu dilihat dari bagaimana berbagai aset di dalamnya dikelola sepanjang lifecycle.

Sebab, panel listrik, UPS, sistem HVAC, serta berbagai peralatan pendukung lain memiliki karakteristik, umur, kondisi, dan tingkat risiko yang berbeda.

Aset yang kondisinya menurun, misalnya, dapat bekerja kurang efisien. Pada saat yang sama, risiko gangguan meningkat dan biaya pemeliharaan dapat menjadi lebih besar.

"Keberlanjutan bukan cuma bagaimana kita menggunakan energi lebih sedikit. Namun, bagaimana kita memastikan aset tersebut bekerja secara optimal, aman, reliable, dan dapat memberikan manfaat untuk jangka panjang," tegas lulusan Master of Science dari Korea National University of Transportation itu.

Dengan demikian, efisiensi energi dan keandalan tidak perlu ditempatkan sebagai dua tujuan yang terpisah. Keduanya justru saling berkaitan.

Baca juga: Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi

Artinya, ketika aset bekerja secara optimal, energi yang digunakan dapat lebih terukur. Sebaliknya, ketika kondisi peralatan menurun, performanya dapat ikut turun sehingga membutuhkan energi lebih besar untuk menghasilkan keluaran yang sama.

Oleh sebab itu, pengelolaan aset menjadi titik penting untuk menghubungkan efisiensi energi dengan keandalan bangunan.

Ubah data jadi strategi

Untuk mengetahui kondisi aset secara lebih akurat, pengelola bangunan membutuhkan lebih dari sekadar inspeksi berkala. Pada bangunan dengan sistem yang kompleks, data dapat membantu melihat berbagai parameter secara kontinu, mulai dari tegangan, arus, beban, suhu, power factor, hingga konsumsi energi.

Besarnya potensi data tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan. Sekitar 95,5 persen data yang dikumpulkan di industri konstruksi dan engineering masih belum digunakan untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Namun, Ragil menekankan bahwa digitalisasi bukan sekadar memasang sensor atau membuat dashboard. Hal terpenting adalah penggunaan data untuk mengambil keputusan.

Baca juga: UE Tindak Tegas 27 Negara Anggota Soal Aturan Bangunan Ramah Lingkungan

Misalnya, ketika konsumsi energi meningkat 10 persen, sistem seharusnya tidak berhenti pada informasi bahwa konsumsi telah naik. Pengelola perlu mencari tahu penyebabnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
LSM/Figur
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
Pemerintah
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Pemerintah
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau