“Apakah terjadi perubahan okupansi? Apakah jam operasional berubah? Apakah sistem HVAC bekerja lebih berat? Atau, terdapat peralatan yang performanya mulai menurun?” Ragil mencontohkan.
Dengan kata lain, data konsumsi energi perlu dikaitkan dengan data kondisi aset dan data operasional.
"Data itu hanya alat, yang paling penting tetap decision-making," ujar Ragil.
Pendekatan berbasis data juga memungkinkan perubahan pola pemeliharaan. Jika sebelumnya peralatan diperbaiki setelah mengalami kerusakan, pengelola kemudian dapat beralih ke preventive maintenance berdasarkan jadwal. Tahap berikutnya adalah condition-based maintenance, yakni menentukan tindakan berdasarkan kondisi aktual aset.
Dengan data historis yang cukup, perubahan temperatur, getaran, pola beban, atau parameter kelistrikan tertentu dapat menjadi indikasi awal adanya penurunan kondisi. Dengan begitu, tim dapat melakukan inspeksi sebelum kerusakan benar-benar terjadi.
Tujuan akhirnya bukan membuat sistem pemeliharaan menjadi semakin rumit, melainkan membuat keputusan pemeliharaan menjadi lebih tepat dan sesuai pada waktunya.
Pendekatan berbasis data tersebut pada akhirnya perlu ditopang oleh perangkat yang mampu mengumpulkan, mengukur, dan mengendalikan kondisi sistem secara aktual.
Gambaran mengenai penerapannya dapat dilihat dari pengalaman PT Robust Multilab Solusindo dalam mengelola sistem kelistrikan pada laboratorium dan pabrik.
Baca juga: SIG Gandeng BRIN Kembangkan Material Bangunan Rendah Emisi
Untuk menjawab kebutuhan terhadap sistem yang lebih andal, Robust menggunakan sejumlah perangkat Schneider Electric, antara lain perangkat pengaman listrik, kontaktor, serta perangkat pengukuran daya, seperti PowerLogic Meter. Produk yang digunakan juga mencakup beberapa perangkat pengaman, seperti CVS dan NSX.
Menurut Mustofa, solusi tersebut dipilih karena kebutuhan terhadap sistem pengamanan listrik yang lebih andal sekaligus mudah diperoleh dan didukung dalam proses pemeliharaan.
"Produk Schneider juga membantu mengamankan instalasi dari kebakaran,” kata Mustofa.
Perlindungan tersebut, lanjut dia, memang tidak secara langsung berdampak pada efisiensi. Namun, ketika kebakaran dapat dicegah, potensi kerugian besar akibat kerusakan instalasi, terhentinya operasional, dan biaya pemulihan juga dapat diminimalkan.
Setelah penerapan solusi cerdas tersebut, perubahan yang paling terasa berada pada sisi operasional. Sistem menjadi lebih mudah dioperasikan, gangguan listrik lebih jarang terjadi, dan proses troubleshooting dapat dilakukan lebih cepat.
Baca juga: Pengelolaan Terukur dan Berkelanjutan, UOB Plaza Raih Sertifikat Bangunan Hijau GBCI
Mustofa juga menilai bahwa kemudahan tersebut berdampak pada efisiensi operasional karena sistem tidak membutuhkan pengawasan khusus secara terus-menerus.
Hal serupa juga terlihat dalam implementasi Building Management System (BMS) di SMC RS Telogorejo, Semarang, Jawa Tengah.
Rumah sakit tersebut mengimplementasikan BMS melalui platform EcoStruxure Building Operation dari Schneider Electric untuk mengintegrasikan pemantauan sejumlah utilitas kritis, termasuk HVAC, sistem kelistrikan, dan UPS, dalam satu command center terpusat.
Pendekatan itu menggantikan pengelolaan yang sebelumnya lebih manual dengan pemantauan secara real-time, peringatan otomatis, dan pemeliharaan yang lebih proaktif.
Dampaknya terlihat dari sejumlah indikator. Total pengeluaran listrik SMC RS Telogorejo, misalnya, turun 5 persen pada 2025. Capaian tersebut sekaligus membalikkan tren kenaikan biaya listrik yang sebelumnya mencapai sekitar 9 persen per tahun.
Pemantauan real-time dilakukan SMC RS Telogorejo untuk memastikan sistem kelistrikan berjalan optimal. Di sisi operasional, waktu respons teknis terhadap anomali menjadi 60 persen lebih cepat berkat peringatan otomatis. Rumah sakit juga mencapai 100 persen kepatuhan terhadap standar suhu dan kelembapan di ruang operasi.
Rangkaian capaian tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi dapat memberikan dampak yang lebih luas daripada sekadar menyediakan data.
Baca juga: Studi KPMG: Sistem AI Mampu Pangkas Energi Bangunan Hingga 30 Persen
Di rumah sakit, efisiensi tidak boleh dicapai denganmengorbankan keandalan layanan. Sebaliknya, sistem harus mampu mengoptimalkan penggunaan energi sekaligus memastikan ruang kritis tetap berada pada kondisi yang dibutuhkan.
Teknologi cerdas pun dapat berperan sebagai penghubung antara efisiensi dan ketahanan operasional.
Kebutuhan tersebut semakin relevan ketika bangunan memasuki era pengelolaan energi berbasis data.
Di Indonesia, arah tersebut juga didukung regulasi. Peraturan Menteri (Permen) Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 10 Tahun 2023 mengenai Bangunan Gedung Cerdas mendefinisikan bangunan gedung cerdas (BGC) sebagai bangunan gedung hijau yang memiliki sistem manajemen gedung pintar yang terintegrasi dan otomatis.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya