Konsep tersebut mencakup otomasi, konektivitas, manajemen energi terpadu, keamanan siber, analitik data dan machine learning, serta pemantauan berkelanjutan. Elemen yang dikelola pun tidak hanya kelistrikan, tetapi dapat mencakup pencahayaan, HVAC, air, limbah, transportasi, serta utilitas lain.
Dorongan terhadap efisiensi energi juga semakin kuat melalui Permen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Manajemen Energi.
Baca juga: Pemerintah Tetapkan Standar Bangunan Gedung Cerdas dan Hijau
Beleid tersebut mewajibkan sektor bangunan dengan konsumsi energi minimal 500 setara ton minyak per tahun untuk menerapkan manajemen energi, termasuk melalui manajer energi, audit energi, program efisiensi, serta pelaporan.
Di tingkat daerah, Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 turut menetapkan parameter efisiensi energi dan air pada sejumlah kategori bangunan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa bangunan masa depan tidak lagi cukup dikelola berdasarkan perkiraan atau pemeriksaan manual semata. Pengelola membutuhkan visibilitas terhadap apa yang terjadi di dalam bangunan dan kemampuan untuk meresponsnya.
Kemampuan itu membutuhkan ekosistem teknologi yang dapat menghubungkan pemantauan, pengukuran, pengendalian, dan pengelolaan energi secara terintegrasi.
Di titik inilah teknologi seperti BMS dan sistem distribusi daya cerdas mengambil peran krusial.
Schneider Electric, misalnya, mengembangkan pendekatan yang menggabungkan digitalisasi dan elektrifikasi untuk membantu bangunan mengoptimalkan penggunaan energi sekaligus meningkatkan keandalan operasional.
Salah satu solusinya adalah Smart Panel. Solusi ini mengintegrasikan distribusi daya, proteksi, kontrol, monitoring, dan pengukuran energi dalam satu ekosistem terhubung.
Sejumlah perangkat, seperti MasterPacT MTZ Active dan PowerLogic Meter, memungkinkan kondisi sistem kelistrikan serta konsumsi energi dipantau secara lebih terukur. Sementara itu, perangkat lain, seperti EasyLogic Active Harmonic Filter, dapat membantu menjaga kualitas daya agar peralatan bekerja secara lebih optimal.
Baca juga: Berkunjung ke Pabrik Pintar Schneider Electric di Batam, Kolaborasi Manusia dan AI
Pada sisi HVAC, Altivar HVAC dapat mengatur kecepatan motor berdasarkan kebutuhan beban secara real-time sehingga sistem tidak perlu terus bekerja pada kapasitas maksimum ketika kebutuhan aktual lebih rendah.
Sementara itu, UPS berperan menjaga kontinuitas pasokan listrik bagi infrastruktur kritis ketika terjadi gangguan.
Nilai dari perangkat tersebut bukan semata-mata terletak pada fungsi masing-masing, melainkan pada kemampuannya bekerja sebagai bagian dari ekosistem pengelolaan energi dan bangunan yang lebih terintegrasi.
Lebih dari itu, Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia Reza Syarif menilai bahwa efisiensi energi tidak sekadar berarti mengurangi konsumsi listrik.
"Efisiensi energi bukan sekadar mengurangi konsumsi listrik, melainkan memastikan energi digunakan secara tepat tanpa mengorbankan keandalan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna," kata Reza.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan Schneider Electric terhadap bangunan masa depan yang bertumpu pada empat aspek sebagai bagian dari bangunan masa depan, yakni hyper-efficient, resilient, sustainable, dan people-centric.
Baca juga: 3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Hyper-efficient berarti mengoptimalkan kinerja sistem dan alur kerja. Resilient berarti memastikan bangunan tetap dapat beroperasi ketika menghadapi gangguan dan mampu pulih dengan cepat.
Sementara itu, sustainable tidak hanya berkaitan dengan penggunaan sumber daya yang lebih hemat, tetapi juga bagaimana masa pakai aset diperpanjang dan biaya dikelola secara bijak.
Adapun people-centric memastikan teknologi pada akhirnya memberikan manfaat kepada manusia yang menggunakan bangunan tersebut.
Keempat aspek itu menunjukkan bahwa teknologi bukan tujuan akhir.
Bangunan yang memasang banyak perangkat digital belum tentu otomatis menjadi berkelanjutan. Teknologi baru memberikan nilai ketika data yang dihasilkan dapat membantu pengelola memahami kondisi bangunan, mengambil keputusan, mengurangi risiko, mengoptimalkan energi, serta menjaga kenyamanan dan keselamatan penggunanya.
Pada akhirnya, perjalanan menuju bangunan berkelanjutan bukan hanya tentang mengganti peralatan lama dengan teknologi baru.
Transformasi juga membutuhkan perubahan cara berpikir, dari sekadar memperbaiki ketika terjadi kerusakan menjadi memahami kondisi aset,dari sekadar melihat jumlah konsumsi energi menjadi memahami penyebabnya, dan dari sekadar mengejar penghematan menjadi mengelola seluruh siklus hidup bangunan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya