Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Cukup Hanya Hemat Energi, Teknologi Cerdas Kini Jadi Kunci Efisiensi Bangunan Berkelanjutan

Kompas.com, 30 Agustus 2026, 19:10 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Konsep tersebut mencakup otomasi, konektivitas, manajemen energi terpadu, keamanan siber, analitik data dan machine learning, serta pemantauan berkelanjutan. Elemen yang dikelola pun tidak hanya kelistrikan, tetapi dapat mencakup pencahayaan, HVAC, air, limbah, transportasi, serta utilitas lain.

Dorongan terhadap efisiensi energi juga semakin kuat melalui Permen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Manajemen Energi.

Baca juga: Pemerintah Tetapkan Standar Bangunan Gedung Cerdas dan Hijau

Beleid tersebut mewajibkan sektor bangunan dengan konsumsi energi minimal 500 setara ton minyak per tahun untuk menerapkan manajemen energi, termasuk melalui manajer energi, audit energi, program efisiensi, serta pelaporan.

Di tingkat daerah, Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 turut menetapkan parameter efisiensi energi dan air pada sejumlah kategori bangunan.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa bangunan masa depan tidak lagi cukup dikelola berdasarkan perkiraan atau pemeriksaan manual semata. Pengelola membutuhkan visibilitas terhadap apa yang terjadi di dalam bangunan dan kemampuan untuk meresponsnya.

Kemampuan itu membutuhkan ekosistem teknologi yang dapat menghubungkan pemantauan, pengukuran, pengendalian, dan pengelolaan energi secara terintegrasi.

Di titik inilah teknologi seperti BMS dan sistem distribusi daya cerdas mengambil peran krusial.

Schneider Electric, misalnya, mengembangkan pendekatan yang menggabungkan digitalisasi dan elektrifikasi untuk membantu bangunan mengoptimalkan penggunaan energi sekaligus meningkatkan keandalan operasional.

Salah satu solusinya adalah Smart Panel. Solusi ini mengintegrasikan distribusi daya, proteksi, kontrol, monitoring, dan pengukuran energi dalam satu ekosistem terhubung.

Sejumlah perangkat, seperti MasterPacT MTZ Active dan PowerLogic Meter, memungkinkan kondisi sistem kelistrikan serta konsumsi energi dipantau secara lebih terukur. Sementara itu, perangkat lain, seperti EasyLogic Active Harmonic Filter, dapat membantu menjaga kualitas daya agar peralatan bekerja secara lebih optimal.

Baca juga: Berkunjung ke Pabrik Pintar Schneider Electric di Batam, Kolaborasi Manusia dan AI

Pada sisi HVAC, Altivar HVAC dapat mengatur kecepatan motor berdasarkan kebutuhan beban secara real-time sehingga sistem tidak perlu terus bekerja pada kapasitas maksimum ketika kebutuhan aktual lebih rendah.

Sementara itu, UPS berperan menjaga kontinuitas pasokan listrik bagi infrastruktur kritis ketika terjadi gangguan.

Nilai dari perangkat tersebut bukan semata-mata terletak pada fungsi masing-masing, melainkan pada kemampuannya bekerja sebagai bagian dari ekosistem pengelolaan energi dan bangunan yang lebih terintegrasi.

Lebih dari itu, Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia Reza Syarif menilai bahwa efisiensi energi tidak sekadar berarti mengurangi konsumsi listrik.

"Efisiensi energi bukan sekadar mengurangi konsumsi listrik, melainkan memastikan energi digunakan secara tepat tanpa mengorbankan keandalan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna," kata Reza.

Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan Schneider Electric terhadap bangunan masa depan yang bertumpu pada empat aspek sebagai bagian dari bangunan masa depan, yakni hyper-efficient, resilient, sustainable, dan people-centric.

Baca juga: 3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI

Hyper-efficient berarti mengoptimalkan kinerja sistem dan alur kerja. Resilient berarti memastikan bangunan tetap dapat beroperasi ketika menghadapi gangguan dan mampu pulih dengan cepat.

Sementara itu, sustainable tidak hanya berkaitan dengan penggunaan sumber daya yang lebih hemat, tetapi juga bagaimana masa pakai aset diperpanjang dan biaya dikelola secara bijak.

Adapun people-centric memastikan teknologi pada akhirnya memberikan manfaat kepada manusia yang menggunakan bangunan tersebut.

Keempat aspek itu menunjukkan bahwa teknologi bukan tujuan akhir.

Bangunan yang memasang banyak perangkat digital belum tentu otomatis menjadi berkelanjutan. Teknologi baru memberikan nilai ketika data yang dihasilkan dapat membantu pengelola memahami kondisi bangunan, mengambil keputusan, mengurangi risiko, mengoptimalkan energi, serta menjaga kenyamanan dan keselamatan penggunanya.

Pada akhirnya, perjalanan menuju bangunan berkelanjutan bukan hanya tentang mengganti peralatan lama dengan teknologi baru.

Transformasi juga membutuhkan perubahan cara berpikir, dari sekadar memperbaiki ketika terjadi kerusakan menjadi memahami kondisi aset,dari sekadar melihat jumlah konsumsi energi menjadi memahami penyebabnya, dan dari sekadar mengejar penghematan menjadi mengelola seluruh siklus hidup bangunan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau