JAKARTA, KOMPAS.com – Sebuah bangunan mungkin berhasil menekan konsumsi listrik. Namun, ketika sistem kelistrikan mengalami gangguan, penghematan tersebut bisa kehilangan makna jika aktivitas di dalam bangunan ikut terhenti.
Di sisi lain, penanganan gangguan membutuhkan waktu dan sumber daya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan bangunan tidak cukup diukur dari seberapa sedikit energi yang digunakan, tetapi juga dari seberapa andal sistem bekerja, seberapa cepat gangguan ditangani, serta seberapa baik aset dikelola sepanjang masa pakainya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian PT Robust Multilab Solusindo. Perusahaan ini bergerak di bidang desain, pengadaan, produksi, instalasi, serta pemeliharaan sistem dan furnitur laboratorium.
Elektrikal Manager PT Robust Multilab Solusindo Khodlin Mustofa mengatakan, terdapat tiga kebutuhan utama yang perlu diperhatikan dalam sistem kelistrikan, yakni efisiensi energi, keandalan sistem, dan kualitas daya.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting ketika sistem pengamanan listrik masih terpusat di satu lokasi.
“Dalam kondisi seperti itu, akses terhadap pengaman dapat menjadi kurang praktis ketika terjadi gangguan atau diperlukan penanganan cepat. Akibatnya, proses operasional berisiko ikut terganggu," ujar Mustofa saat dihubungi Kompas.com, Rabu (13/8/2026).
Persoalan semacam itu menunjukkan bahwa keberlanjutan bangunan tidak hanya berkaitan dengan berapa banyak listrik yang dikonsumsi.
Menurut Mustofa, sistem kelistrikan juga perlu mampu bekerja secara andal, aman, mudah dipantau, dan mendukung aktivitas di dalam bangunan dalam jangka panjang.
“Upaya meningkatkan aspek-aspek tersebut mungkin tidak selalu menghasilkan penghematan energi secara langsung. Namun, keandalan sistem, efisiensi operasional, dan pengelolaan aset tetap menjadi bagian penting dalam membangun gedung yang berkelanjutan,” jelas dia.
Sektor bangunan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Menurut data Architecture 2030, bangunan menyumbang hampir 40 persen emisi karbon global. Sementara itu, US Environmental Protection Agency mencatat sekitar 30 persen energi yang digunakan di dalam gedung masih terbuang sia-sia akibat pengelolaan yang belum optimal.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan energi pada bangunan bukan semata-mata terletak pada besarnya konsumsi, tetapi juga pada bagaimana energi dikelola dan bagaimana sistem merespons perubahan kondisi.
Karena itu, upaya menciptakan bangunan berkelanjutan tidak cukup hanya dengan menghitung berapa kilowatt-jam listrik yang berhasil dikurangi.
Gedung yang hemat energi tetap menghadapi persoalan jika sistem kelistrikannya tidak andal, asetnya cepat rusak, atau pengelola harus mengeluarkan biaya besar untuk mempertahankan operasionalnya.
Pengelolaan aset menjadi titik penting untuk menghubungkan efisiensi energi dengan keandalan bangunanPraktisi di bidang keandalan sistem tenaga listrik dan manajemen aset Ragil Handito menjelaskan, keberlanjutan sebuah bangunan perlu dilihat dari bagaimana berbagai aset di dalamnya dikelola sepanjang lifecycle.
Sebab, panel listrik, UPS, sistem HVAC, serta berbagai peralatan pendukung lain memiliki karakteristik, umur, kondisi, dan tingkat risiko yang berbeda.
Aset yang kondisinya menurun, misalnya, dapat bekerja kurang efisien. Pada saat yang sama, risiko gangguan meningkat dan biaya pemeliharaan dapat menjadi lebih besar.
"Keberlanjutan bukan cuma bagaimana kita menggunakan energi lebih sedikit. Namun, bagaimana kita memastikan aset tersebut bekerja secara optimal, aman, reliable, dan dapat memberikan manfaat untuk jangka panjang," tegas lulusan Master of Science dari Korea National University of Transportation itu.
Dengan demikian, efisiensi energi dan keandalan tidak perlu ditempatkan sebagai dua tujuan yang terpisah. Keduanya justru saling berkaitan.
Baca juga: Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Artinya, ketika aset bekerja secara optimal, energi yang digunakan dapat lebih terukur. Sebaliknya, ketika kondisi peralatan menurun, performanya dapat ikut turun sehingga membutuhkan energi lebih besar untuk menghasilkan keluaran yang sama.
Oleh sebab itu, pengelolaan aset menjadi titik penting untuk menghubungkan efisiensi energi dengan keandalan bangunan.
Untuk mengetahui kondisi aset secara lebih akurat, pengelola bangunan membutuhkan lebih dari sekadar inspeksi berkala. Pada bangunan dengan sistem yang kompleks, data dapat membantu melihat berbagai parameter secara kontinu, mulai dari tegangan, arus, beban, suhu, power factor, hingga konsumsi energi.
Besarnya potensi data tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan. Sekitar 95,5 persen data yang dikumpulkan di industri konstruksi dan engineering masih belum digunakan untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Namun, Ragil menekankan bahwa digitalisasi bukan sekadar memasang sensor atau membuat dashboard. Hal terpenting adalah penggunaan data untuk mengambil keputusan.
Baca juga: UE Tindak Tegas 27 Negara Anggota Soal Aturan Bangunan Ramah Lingkungan
Misalnya, ketika konsumsi energi meningkat 10 persen, sistem seharusnya tidak berhenti pada informasi bahwa konsumsi telah naik. Pengelola perlu mencari tahu penyebabnya.
“Apakah terjadi perubahan okupansi? Apakah jam operasional berubah? Apakah sistem HVAC bekerja lebih berat? Atau, terdapat peralatan yang performanya mulai menurun?” Ragil mencontohkan.
Dengan kata lain, data konsumsi energi perlu dikaitkan dengan data kondisi aset dan data operasional.
"Data itu hanya alat, yang paling penting tetap decision-making," ujar Ragil.
Pendekatan berbasis data juga memungkinkan perubahan pola pemeliharaan. Jika sebelumnya peralatan diperbaiki setelah mengalami kerusakan, pengelola kemudian dapat beralih ke preventive maintenance berdasarkan jadwal. Tahap berikutnya adalah condition-based maintenance, yakni menentukan tindakan berdasarkan kondisi aktual aset.
Dengan data historis yang cukup, perubahan temperatur, getaran, pola beban, atau parameter kelistrikan tertentu dapat menjadi indikasi awal adanya penurunan kondisi. Dengan begitu, tim dapat melakukan inspeksi sebelum kerusakan benar-benar terjadi.
Tujuan akhirnya bukan membuat sistem pemeliharaan menjadi semakin rumit, melainkan membuat keputusan pemeliharaan menjadi lebih tepat dan sesuai pada waktunya.
Pendekatan berbasis data tersebut pada akhirnya perlu ditopang oleh perangkat yang mampu mengumpulkan, mengukur, dan mengendalikan kondisi sistem secara aktual.
Gambaran mengenai penerapannya dapat dilihat dari pengalaman PT Robust Multilab Solusindo dalam mengelola sistem kelistrikan pada laboratorium dan pabrik.
Baca juga: SIG Gandeng BRIN Kembangkan Material Bangunan Rendah Emisi
Untuk menjawab kebutuhan terhadap sistem yang lebih andal, Robust menggunakan sejumlah perangkat Schneider Electric, antara lain perangkat pengaman listrik, kontaktor, serta perangkat pengukuran daya, seperti PowerLogic Meter. Produk yang digunakan juga mencakup beberapa perangkat pengaman, seperti CVS dan NSX.
Teknisi PT Robust Multilab Solusindo mengecek sistem kelistrikan secara berkala untuk memastikan keandalan operasional.Menurut Mustofa, solusi tersebut dipilih karena kebutuhan terhadap sistem pengamanan listrik yang lebih andal sekaligus mudah diperoleh dan didukung dalam proses pemeliharaan.
"Produk Schneider juga membantu mengamankan instalasi dari kebakaran,” kata Mustofa.
Perlindungan tersebut, lanjut dia, memang tidak secara langsung berdampak pada efisiensi. Namun, ketika kebakaran dapat dicegah, potensi kerugian besar akibat kerusakan instalasi, terhentinya operasional, dan biaya pemulihan juga dapat diminimalkan.
Setelah penerapan solusi cerdas tersebut, perubahan yang paling terasa berada pada sisi operasional. Sistem menjadi lebih mudah dioperasikan, gangguan listrik lebih jarang terjadi, dan proses troubleshooting dapat dilakukan lebih cepat.
Baca juga: Pengelolaan Terukur dan Berkelanjutan, UOB Plaza Raih Sertifikat Bangunan Hijau GBCI
Mustofa juga menilai bahwa kemudahan tersebut berdampak pada efisiensi operasional karena sistem tidak membutuhkan pengawasan khusus secara terus-menerus.
Hal serupa juga terlihat dalam implementasi Building Management System (BMS) di SMC RS Telogorejo, Semarang, Jawa Tengah.
Rumah sakit tersebut mengimplementasikan BMS melalui platform EcoStruxure Building Operation dari Schneider Electric untuk mengintegrasikan pemantauan sejumlah utilitas kritis, termasuk HVAC, sistem kelistrikan, dan UPS, dalam satu command center terpusat.
Pendekatan itu menggantikan pengelolaan yang sebelumnya lebih manual dengan pemantauan secara real-time, peringatan otomatis, dan pemeliharaan yang lebih proaktif.
Dampaknya terlihat dari sejumlah indikator. Total pengeluaran listrik SMC RS Telogorejo, misalnya, turun 5 persen pada 2025. Capaian tersebut sekaligus membalikkan tren kenaikan biaya listrik yang sebelumnya mencapai sekitar 9 persen per tahun.
Pemantauan real-time dilakukan SMC RS Telogorejo untuk memastikan sistem kelistrikan berjalan optimal. Di sisi operasional, waktu respons teknis terhadap anomali menjadi 60 persen lebih cepat berkat peringatan otomatis. Rumah sakit juga mencapai 100 persen kepatuhan terhadap standar suhu dan kelembapan di ruang operasi.
Rangkaian capaian tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi dapat memberikan dampak yang lebih luas daripada sekadar menyediakan data.
Baca juga: Studi KPMG: Sistem AI Mampu Pangkas Energi Bangunan Hingga 30 Persen
Di rumah sakit, efisiensi tidak boleh dicapai denganmengorbankan keandalan layanan. Sebaliknya, sistem harus mampu mengoptimalkan penggunaan energi sekaligus memastikan ruang kritis tetap berada pada kondisi yang dibutuhkan.
Teknologi cerdas pun dapat berperan sebagai penghubung antara efisiensi dan ketahanan operasional.
Kebutuhan tersebut semakin relevan ketika bangunan memasuki era pengelolaan energi berbasis data.
Di Indonesia, arah tersebut juga didukung regulasi. Peraturan Menteri (Permen) Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 10 Tahun 2023 mengenai Bangunan Gedung Cerdas mendefinisikan bangunan gedung cerdas (BGC) sebagai bangunan gedung hijau yang memiliki sistem manajemen gedung pintar yang terintegrasi dan otomatis.
Konsep tersebut mencakup otomasi, konektivitas, manajemen energi terpadu, keamanan siber, analitik data dan machine learning, serta pemantauan berkelanjutan. Elemen yang dikelola pun tidak hanya kelistrikan, tetapi dapat mencakup pencahayaan, HVAC, air, limbah, transportasi, serta utilitas lain.
Dorongan terhadap efisiensi energi juga semakin kuat melalui Permen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Manajemen Energi.
Baca juga: Pemerintah Tetapkan Standar Bangunan Gedung Cerdas dan Hijau
Beleid tersebut mewajibkan sektor bangunan dengan konsumsi energi minimal 500 setara ton minyak per tahun untuk menerapkan manajemen energi, termasuk melalui manajer energi, audit energi, program efisiensi, serta pelaporan.
Di tingkat daerah, Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 turut menetapkan parameter efisiensi energi dan air pada sejumlah kategori bangunan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa bangunan masa depan tidak lagi cukup dikelola berdasarkan perkiraan atau pemeriksaan manual semata. Pengelola membutuhkan visibilitas terhadap apa yang terjadi di dalam bangunan dan kemampuan untuk meresponsnya.
Kemampuan itu membutuhkan ekosistem teknologi yang dapat menghubungkan pemantauan, pengukuran, pengendalian, dan pengelolaan energi secara terintegrasi.
Di titik inilah teknologi seperti BMS dan sistem distribusi daya cerdas mengambil peran krusial.
Schneider Electric, misalnya, mengembangkan pendekatan yang menggabungkan digitalisasi dan elektrifikasi untuk membantu bangunan mengoptimalkan penggunaan energi sekaligus meningkatkan keandalan operasional.
Salah satu solusinya adalah Smart Panel. Solusi ini mengintegrasikan distribusi daya, proteksi, kontrol, monitoring, dan pengukuran energi dalam satu ekosistem terhubung.
Sejumlah perangkat, seperti MasterPacT MTZ Active dan PowerLogic Meter, memungkinkan kondisi sistem kelistrikan serta konsumsi energi dipantau secara lebih terukur. Sementara itu, perangkat lain, seperti EasyLogic Active Harmonic Filter, dapat membantu menjaga kualitas daya agar peralatan bekerja secara lebih optimal.
Baca juga: Berkunjung ke Pabrik Pintar Schneider Electric di Batam, Kolaborasi Manusia dan AI
Pada sisi HVAC, Altivar HVAC dapat mengatur kecepatan motor berdasarkan kebutuhan beban secara real-time sehingga sistem tidak perlu terus bekerja pada kapasitas maksimum ketika kebutuhan aktual lebih rendah.
Sementara itu, UPS berperan menjaga kontinuitas pasokan listrik bagi infrastruktur kritis ketika terjadi gangguan.
Nilai dari perangkat tersebut bukan semata-mata terletak pada fungsi masing-masing, melainkan pada kemampuannya bekerja sebagai bagian dari ekosistem pengelolaan energi dan bangunan yang lebih terintegrasi.
Pemanfaatan berbagai solusi Schneider Electric di SMC RS Telogorejo. Lebih dari itu, Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia Reza Syarif menilai bahwa efisiensi energi tidak sekadar berarti mengurangi konsumsi listrik.
"Efisiensi energi bukan sekadar mengurangi konsumsi listrik, melainkan memastikan energi digunakan secara tepat tanpa mengorbankan keandalan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna," kata Reza.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan Schneider Electric terhadap bangunan masa depan yang bertumpu pada empat aspek sebagai bagian dari bangunan masa depan, yakni hyper-efficient, resilient, sustainable, dan people-centric.
Baca juga: 3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Hyper-efficient berarti mengoptimalkan kinerja sistem dan alur kerja. Resilient berarti memastikan bangunan tetap dapat beroperasi ketika menghadapi gangguan dan mampu pulih dengan cepat.
Sementara itu, sustainable tidak hanya berkaitan dengan penggunaan sumber daya yang lebih hemat, tetapi juga bagaimana masa pakai aset diperpanjang dan biaya dikelola secara bijak.
Adapun people-centric memastikan teknologi pada akhirnya memberikan manfaat kepada manusia yang menggunakan bangunan tersebut.
Keempat aspek itu menunjukkan bahwa teknologi bukan tujuan akhir.
Bangunan yang memasang banyak perangkat digital belum tentu otomatis menjadi berkelanjutan. Teknologi baru memberikan nilai ketika data yang dihasilkan dapat membantu pengelola memahami kondisi bangunan, mengambil keputusan, mengurangi risiko, mengoptimalkan energi, serta menjaga kenyamanan dan keselamatan penggunanya.
Pada akhirnya, perjalanan menuju bangunan berkelanjutan bukan hanya tentang mengganti peralatan lama dengan teknologi baru.
Transformasi juga membutuhkan perubahan cara berpikir, dari sekadar memperbaiki ketika terjadi kerusakan menjadi memahami kondisi aset,dari sekadar melihat jumlah konsumsi energi menjadi memahami penyebabnya, dan dari sekadar mengejar penghematan menjadi mengelola seluruh siklus hidup bangunan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya