Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Tegaskan Pentingnya Peran Antarktika Bagi Iklim Global

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 09:54 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

Penelitian ini juga membagi wilayah benua tersebut menjadi dua karena kondisinya berbeda. Di sekitar Antarktika Timur, es mencair terutama karena naiknya panas dari dasar lautan. Namun, di Antarktika Barat, yang terjadi justru sebaliknya.

Awan tebal yang membawa udara hangat dari wilayah subtropis memerangkap panas di lautan, sehingga mencairkan es dari atas. Dampak ini mencapai puncaknya pada musim panas tahun 2016 dan 2019.

Angin, awan, es laut, dan arus lautan saling memengaruhi dan memperkuat satu sama lain. Keterkaitan inilah yang menjelaskan mengapa perubahan es di Antarktika terjadi sangat tiba-tiba, bukan perlahan-lahan.

Penyerapan panas dan karbon mulai terhenti

Es laut Antarktika tidak hanya berfungsi memantulkan cahaya. Saat es terbentuk, ia meninggalkan garam di dalam air di bawahnya. Air asin yang sangat dingin dan berat ini kemudian tenggelam ke dasar laut.

Proses tenggelamnya air ini menggerakkan sirkulasi arus laut global, seperti ban berjalan raksasa yang mengalirkan air, panas, dan karbon di seluruh samudra bumi.

Sekitar 40 persen gas karbon dioksida yang diserap laut dari emisi manusia masuk melalui kawasan selatan bumi ini, padahal wilayahnya kurang dari sepertiga luas permukaan laut dunia.

Peran ini sangat penting. Laut secara keseluruhan telah menyerap sekitar seperempat dari seluruh emisi yang dihasilkan manusia, dan jika Samudra Selatan melemah, lebih banyak karbon yang akan terlepas kembali ke udara. Berbagai studi telah menunjukkan bahwa pembersih karbon alami bumi kini mulai kewalahan.

Semakin sedikit es laut yang terbentuk, semakin sedikit air asin yang dihasilkan, dan semakin lambat pula proses tenggelamnya air tersebut.

Pantai yang jauh merasakan dampaknya

Burung pelikan atau penguin kaisar membutuhkan es tebal yang stabil dari bulan April hingga Desember untuk membesarkan anak-anak mereka. Penurunan jumlah es yang parah pada tahun 2022 hingga 2024 menyebabkan anak-anak penguin tenggelam sebelum sempat menumbuhkan bulu kedap air.

Baca juga: PBB Sebut Kerja Sama Iklim Global Terancam, Ajak Negara untuk Bersatu

Udang krill, paus, dan industri perikanan juga sangat bergantung pada area pinggiran es ini. Bahkan, satu bongkahan es raksasa yang kandas saja bisa mengubah pola air laut di sekitarnya, seperti yang ditemukan para peneliti saat memantau bongkahan es raksasa A-68A.

Namun, dampak global yang dirasakan manusia mengalir melalui lautan, bukan lewat satwa liar. Lemahnya sirkulasi arus laut membuat pembagian panas menjadi tidak merata di seluruh samudra.

Air laut yang hangat menjangkau lapisan es di tepi pantai dan menghancurkan penahan alami yang menahan laju gletser menuju laut. Akibatnya, permukaan air laut meningkat di garis-garis pantai yang letaknya berjarak ribuan mil dari es yang mencair tersebut.

Apakah perubahan ini akan berlanjut masih menjadi pertanyaan. Es laut Antarktika memang sempat pulih mendekati rata-rata pada musim panas tahun 2026. Namun, para ilmuwan yang melihat pemulihan tersebut sangat berhati-hati dan belum berani menyimpulkan bahwa kondisi telah kembali normal seperti dulu.

Model komputer memang berhasil memprediksi penurunan es, tetapi gagal memperkirakan waktu, kecepatan, dan perbedaan kondisi per wilayahnya, membuat para ahli kini harus bekerja dengan sistem prediksi yang pernah meleset sebelumnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau