Penelitian ini juga membagi wilayah benua tersebut menjadi dua karena kondisinya berbeda. Di sekitar Antarktika Timur, es mencair terutama karena naiknya panas dari dasar lautan. Namun, di Antarktika Barat, yang terjadi justru sebaliknya.
Awan tebal yang membawa udara hangat dari wilayah subtropis memerangkap panas di lautan, sehingga mencairkan es dari atas. Dampak ini mencapai puncaknya pada musim panas tahun 2016 dan 2019.
Angin, awan, es laut, dan arus lautan saling memengaruhi dan memperkuat satu sama lain. Keterkaitan inilah yang menjelaskan mengapa perubahan es di Antarktika terjadi sangat tiba-tiba, bukan perlahan-lahan.
Es laut Antarktika tidak hanya berfungsi memantulkan cahaya. Saat es terbentuk, ia meninggalkan garam di dalam air di bawahnya. Air asin yang sangat dingin dan berat ini kemudian tenggelam ke dasar laut.
Proses tenggelamnya air ini menggerakkan sirkulasi arus laut global, seperti ban berjalan raksasa yang mengalirkan air, panas, dan karbon di seluruh samudra bumi.
Sekitar 40 persen gas karbon dioksida yang diserap laut dari emisi manusia masuk melalui kawasan selatan bumi ini, padahal wilayahnya kurang dari sepertiga luas permukaan laut dunia.
Peran ini sangat penting. Laut secara keseluruhan telah menyerap sekitar seperempat dari seluruh emisi yang dihasilkan manusia, dan jika Samudra Selatan melemah, lebih banyak karbon yang akan terlepas kembali ke udara. Berbagai studi telah menunjukkan bahwa pembersih karbon alami bumi kini mulai kewalahan.
Semakin sedikit es laut yang terbentuk, semakin sedikit air asin yang dihasilkan, dan semakin lambat pula proses tenggelamnya air tersebut.
Burung pelikan atau penguin kaisar membutuhkan es tebal yang stabil dari bulan April hingga Desember untuk membesarkan anak-anak mereka. Penurunan jumlah es yang parah pada tahun 2022 hingga 2024 menyebabkan anak-anak penguin tenggelam sebelum sempat menumbuhkan bulu kedap air.
Baca juga: PBB Sebut Kerja Sama Iklim Global Terancam, Ajak Negara untuk Bersatu
Udang krill, paus, dan industri perikanan juga sangat bergantung pada area pinggiran es ini. Bahkan, satu bongkahan es raksasa yang kandas saja bisa mengubah pola air laut di sekitarnya, seperti yang ditemukan para peneliti saat memantau bongkahan es raksasa A-68A.
Namun, dampak global yang dirasakan manusia mengalir melalui lautan, bukan lewat satwa liar. Lemahnya sirkulasi arus laut membuat pembagian panas menjadi tidak merata di seluruh samudra.
Air laut yang hangat menjangkau lapisan es di tepi pantai dan menghancurkan penahan alami yang menahan laju gletser menuju laut. Akibatnya, permukaan air laut meningkat di garis-garis pantai yang letaknya berjarak ribuan mil dari es yang mencair tersebut.
Apakah perubahan ini akan berlanjut masih menjadi pertanyaan. Es laut Antarktika memang sempat pulih mendekati rata-rata pada musim panas tahun 2026. Namun, para ilmuwan yang melihat pemulihan tersebut sangat berhati-hati dan belum berani menyimpulkan bahwa kondisi telah kembali normal seperti dulu.
Model komputer memang berhasil memprediksi penurunan es, tetapi gagal memperkirakan waktu, kecepatan, dan perbedaan kondisi per wilayahnya, membuat para ahli kini harus bekerja dengan sistem prediksi yang pernah meleset sebelumnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya