Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap Potensi Bahaya Mikroplastik dari Gelas Kopi Sekali Pakai

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 15:15 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Gelas kertas sekali pakai yang sering digunakan untuk wadah kopi takeaway dan minuman lainnya ternyata melepaskan jutaan partikel mikroplastik saat terkena cairan panas. Hal ini ditemukan oleh para peneliti dari University of Queensland.

Melansir Phys, Sabtu (29/8/2026) tim peneliti dari lembaga riset kesehatan lingkungan UQ meneliti dua jenis gelas sekali pakai yakni gelas yang dilapisi bahan plastik biasa (polietilena) dan gelas yang dilapisi plastik ramah lingkungan atau dapat terurai (polylactic acid atau PLA).

Dr. Elvis Okoffo menjelaskan bahwa kedua jenis gelas tersebut sama-sama melepaskan partikel plastik. Namun, gelas yang dilapisi PLA melepaskan partikel 12 kali lebih banyak.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah ACS Food Science & Technology.

Baca juga: Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik

"Gelas kertas sekali pakai digunakan setiap hari oleh jutaan orang di seluruh dunia untuk minum kopi, teh, dan minuman panas lainnya," kata Okoffo.

"Gelas yang sebagian besar terbuat dari kertas bukan berarti bebas dari plastik, karena banyak di antaranya dilapisi lapisan plastik tipis agar tahan air dan bentuknya tetap kokoh.

Hasil penelitian kemudian menunjukkan bahwa gelas kertas berlapisan plastik melepaskan bahan plastik berukuran mikro dan nano dalam jumlah yang sangat banyak saat terkena air panas.

"Dalam eksperimen kami, gelas berlapisan PLA melepaskan total massa partikel sekitar 12 kali lebih tinggi dibanding gelas berlapisan PE," terang Okoffo.

Para peneliti mencatat ada sekitar 4,3 juta partikel nano per mililiter dari gelas berlapisan PLA, dibandingkan dengan 2,7 juta partikel per mililiter dari gelas berlapisan PE.

Partikel nano ini berukuran sangat kecil, sekitar seribu kali lebih tipis dibanding sehelai rambut manusia.

Dampak pada kesehatan masih perlu diteliti

Okoffo menjelaskan bahwa studi ini menambah bukti yang menunjukkan bahwa produk plastik baru yang digunakan untuk menyimpan dan menyiapkan makanan merupakan sumber paparan plastik yang cukup besar bagi tubuh manusia melalui makanan atau minuman, meskipun sering kali diabaikan.

"Ini bukan berarti orang-orang harus berhenti menggunakan gelas kertas, atau bahwa bahan PLA itu pasti berbahaya. Namun, dampak partikel plastik bagi kesehatan manusia masih belum jelas, dan kita tahu bahwa bahan kimia dalam plastik memang tidak ditujukan untuk dikonsumsi," ujarnya.

Okoffo juga menjelaskan bahan yang digunakan untuk wadah makanan dan minuman perlu dinilai bukan hanya dari seberapa ramah lingkungan bahannya, tetapi juga dari seberapa banyak partikel yang terlepas saat digunakan sehari-hari.

Studi ini pun mengisi celah penting tentang bagaimana gelas kertas sekali pakai berlapisan plastik dapat menyumbang paparan plastik harian kita.

Baca juga: Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter

Pengujian dan pelabelan produk

Okoffo mengatakan bahwa konsumen berhak mendapatkan informasi mengenai bahan yang digunakan sebagai lapisan gelas kertas. Ia juga mendesak para pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan panduan keselamatan atau peringatan pada label produk.

"Pembuat kebijakan dan pengatur regulasi perlu mempertimbangkan apakah pengujian pelepasan mikroplastik dan nanoplastik harus menjadi bagian dari penilaian keamanan wadah makanan, khususnya untuk produk yang dirancang bagi minuman panas," ujarnya.

Produsen produk juga dapat mempertimbangkan untuk mengembangkan lapisan gelas yang melepaskan lebih sedikit partikel plastik saat terkena cairan panas.

"Dengan menggabungkan desain produk yang lebih baik, pelabelan yang lebih jelas, serta kesadaran masyarakat, kita dapat membantu membatasi jumlah plastik yang masuk ke dalam tubuh maupun lingkungan kita," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau