"Saya justru berpikir bahwa apa yang kita lihat ini terjadi karena tubuh kita tidak mampu menyesuaikan diri. Tampaknya kita terbiasa hidup dengan batas kadar CO2 udara tertentu, yang mana batas tersebut kini kemungkinan telah terlampaui," kata Dr. Bierwirth.
"Kondisi normal selama ini menjaga keseimbangan yang sangat sensitif antara jumlah CO2 di udara, tingkat keasaman (pH) darah, laju pernapasan kita, serta kadar bikarbonat di dalam darah. Namun, temuan ini menunjukkan bahwa kemungkinan sedang terjadi perubahan fungsi tubuh secara bertahap pada masyarakat luas. Hal inilah yang perlu kita pantau sebagai bagian dari kebijakan perubahan iklim di masa depan," tambahnya.
Para peneliti menyarankan agar pengukuran komposisi udara di atmosfer dilakukan bersamaan dengan pemantauan penanda biologis pada masyarakat. Menelusuri keduanya secara berdampingan dengan indikator iklim yang ada dapat membantu para ilmuwan memahami bagaimana perubahan lingkungan yang lambat memengaruhi biologis manusia dalam hitungan dekade.
Menekan emisi CO2 tetap menjadi hal yang sangat penting untuk membatasi pemanasan global. Temuan ini juga membuka kemungkinan bahwa mengurangi emisi dapat memiliki peran tambahan dalam melindungi kesehatan manusia untuk jangka panjang.
Para peneliti berpendapat bahwa potensi dampak kesehatan dari kenaikan CO2 harus dipertimbangkan dalam diskusi kebijakan iklim di masa depan, berdampingan dengan dampak lingkungannya yang sudah kita ketahui selama ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya