KOMPAS.com - Meningkatnya kadar karbon dioksida (CO2) di udara mungkin sudah mulai memengaruhi kondisi biologis manusia. Penelitian terbaru menemukan adanya perubahan jangka panjang pada kandungan kimia darah yang sejalan dengan kenaikan CO2 di udara.
Hal ini memicu kekhawatiran bahwa indikator penting dalam darah bisa mendekati batas atas rentang sehatnya dalam beberapa dekade mendatang.
Temuan ini juga sangat penting bagi anak-anak dan remaja. Karena tubuh mereka masih berkembang, generasi muda diperkirakan akan mengalami paparan CO2 tingkat tinggi paling lama sepanjang hidup mereka.
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Air Quality, Atmosphere and Health, para ilmuwan dari The Kids Research Institute Australia, Curtin University, dan The Australian National University (ANU) meneliti data kesehatan penduduk AS selama lebih dari 20 tahun.
Melansir Science Daily, Sabtu (15/8/2026) mereka menemukan perubahan yang terus-menerus pada beberapa ukuran kandungan kimia darah yang secara konsisten mengikuti tren kenaikan CO2 di udara.
Baca juga: 135.793 Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Limbah B3, Pakar Ingatkan Risiko Pencemaran Air
Para peneliti menggunakan data dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional AS (NHANES), lalu menganalisis hasil tes darah dari sekitar 7.000 orang setiap dua tahun sekali antara tahun 1999 dan 2020.
Sejak tahun 1999, rata-rata kadar bikarbonat dalam darah naik sekitar 7 persen. Bikarbonat sendiri merupakan penanda dalam darah yang terikat erat dengan kadar karbon dioksida di dalam tubuh. Pada periode yang sama, rata-rata kadar kalsium dan fosfor justru menurun.
Tren perubahan biologis ini terjadi seiring melonjaknya kadar CO2 di udara dari sekitar 369 parts per million (ppm) pada tahun 2000 menjadi lebih dari 420 ppm saat ini.
Penulis studi, Associate Professor Alexander Larcombe, mengatakan hasil ini menunjukkan bahwa tubuh manusia kemungkinan sudah mulai menyesuaikan diri dengan perubahan komposisi udara di atmosfer.
"Apa yang kita lihat adalah pergeseran bertahap pada kandungan kimia darah yang meniru kenaikan karbon dioksida di udara yang memicu perubahan iklim," ujar Prof. Larcombe.
Bikarbonat sangat penting untuk mengatur keseimbangan asam-basa dalam tubuh. Ketika kadar CO2 meningkat, tubuh akan menahan lebih banyak bikarbonat agar pH darah tetap stabil. Meskipun penyesuaian ini membantu menjaga keseimbangan tersebut, mempertahankannya dalam jangka panjang dapat memengaruhi fungsi tubuh.
"Jika tren saat ini terus berlanjut, pemodelan menunjukkan bahwa rata-rata kadar bikarbonat bisa mendekati batas atas rentang sehat saat ini dalam waktu 50 tahun ke depan," kata Prof. Larcombe.
"Kadar kalsium dan fosfor juga bisa merosot hingga mendekati batas bawah rentang sehat pada akhir abad ini," terangnya lagi.
Manusia berevolusi ketika konsentrasi CO2 di udara berada pada kisaran 280 hingga 300 ppm. Selama dekade terakhir, kadar CO2 di udara melonjak rata-rata sekitar 2,6 ppm setiap tahunnya, sementara pada tahun 2024 saja terjadi kenaikan hingga 3,5 ppm.
Rekan penulis, Dr. Phil Bierwirth, ilmuwan ilmu bumi dan lingkungan dari ANU Emeritus Faculty, menegaskan bahwa penelitian ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Namun, ia menyampaikan bahwa perubahan yang konsisten pada sekelompok besar masyarakat ini sangat perlu mendapat perhatian.
Baca juga: Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
"Saya justru berpikir bahwa apa yang kita lihat ini terjadi karena tubuh kita tidak mampu menyesuaikan diri. Tampaknya kita terbiasa hidup dengan batas kadar CO2 udara tertentu, yang mana batas tersebut kini kemungkinan telah terlampaui," kata Dr. Bierwirth.
"Kondisi normal selama ini menjaga keseimbangan yang sangat sensitif antara jumlah CO2 di udara, tingkat keasaman (pH) darah, laju pernapasan kita, serta kadar bikarbonat di dalam darah. Namun, temuan ini menunjukkan bahwa kemungkinan sedang terjadi perubahan fungsi tubuh secara bertahap pada masyarakat luas. Hal inilah yang perlu kita pantau sebagai bagian dari kebijakan perubahan iklim di masa depan," tambahnya.
Para peneliti menyarankan agar pengukuran komposisi udara di atmosfer dilakukan bersamaan dengan pemantauan penanda biologis pada masyarakat. Menelusuri keduanya secara berdampingan dengan indikator iklim yang ada dapat membantu para ilmuwan memahami bagaimana perubahan lingkungan yang lambat memengaruhi biologis manusia dalam hitungan dekade.
Menekan emisi CO2 tetap menjadi hal yang sangat penting untuk membatasi pemanasan global. Temuan ini juga membuka kemungkinan bahwa mengurangi emisi dapat memiliki peran tambahan dalam melindungi kesehatan manusia untuk jangka panjang.
Para peneliti berpendapat bahwa potensi dampak kesehatan dari kenaikan CO2 harus dipertimbangkan dalam diskusi kebijakan iklim di masa depan, berdampingan dengan dampak lingkungannya yang sudah kita ketahui selama ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya