Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

NEPIO Berpotensi Terlalu Gemuk, ITB Ingatkan Birokrasi Bikin Capaian Target PLTN Bergerak Lambat

Kompas.com, 1 September 2026, 11:02 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Kesiapan dan struktur badan pelaksana, Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO), adalah salah satu faktor kunci untuk mencapai target pembangunan hingga 44 reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) hingga tahun 2060.

‎Pembangunan perdana PLTN direncanakan akan terealisasi pada tahun 2032 melalui pengoperasian unit pertama (First of a Kind - FOAK). Untuk tahap awal ini, teknologi yang dipilih adalah reaktor modular kecil atau Small Modular Reactor (SMR). Dua wilayah strategis telah dipetakan sebagai lokasi potensial, yaitu Bangka Belitung dan Kalimantan Barat.

‎Kendati target telah ditetapkan dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pembentukan NEPIO sebagai badan pelaksana masih menghadapi tantangan struktural. Diketahui, pembentukan NEPIO saat hanya perlu menunggu Keputusan Presiden (Keppres).

Baca juga: Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah Fondasi Tak Kasatmata Keselamatan PLTN

‎Wakil Ketua Pusat Sains, Inovasi, dan Teknologi Nuklir (PSTIN) Institut Teknologi Bandung (ITB), Sidik Permana khawatir struktur NEPIO akan dibentuk dengan terlalu 'gemuk'.

‎Saat ini, rancangan NEPIO melibatkan 11 kementerian dan 8 dari unsur pemangku kepentingan, dengan tim pelaksana di tingkat Direktur Jenderal (Dirjen). 

‎"Bahwa NEPIO itu terlalu gemuk, Pak. 11 kementerian wakil dan 8 anggota menteri. Eh tim pelaksananya di level dirjen. Haduh, dirjen juga orang sibuk jadi kapan berjalannya ya?," ujar Sidik dalam sebuah webinar, Selasa (31/8/2026).

‎Struktur yang melibatkan terlalu banyak pemangku kepentingan ini berisiko akan memperlambat gerak organisasi. Ia menggarisbawahi perlunya perampingan struktur NEPIO ke depannya agar terdapat pemisahan yang jelas antara implementor inti, pendukung, dan komplementer, sehingga organisasi bisa bergerak lebih lincah dan tidak terjebak dalam pusaran birokrasi.

‎"Jadi, saya harapkan juga nanti DEN (Dewan Energi Nasional) juga masuk di dewan pengarah ya kalau enggak salah di NEPIO, wah banyak lagi nanti seperti itu. Jadi mudah-mudahan nanti ini menjadi bagian penting dari reformasi kita ke level teknis.

‎Jadi, NEPIO itu bukan level birokrasi tapi sudah implementasi yang tentunya kita memerlukan SDM (sumber daya manusia) yang kuat," tutur Sidik.

‎Senada, Direktur PT. Kakiatna Enjiniring, Indarta Kuncoro Aji menyarankan agar struktur Nuclear Energy Program Implementing Organization (NEPIO) nantinya dirampingkan. Ia mengusulkan agar NEPIO dikelola dengan pendekatan business case, bukan sekadar birokrasi administratif.

‎"Kalau saran saya seperti mengikuti program 10.000 Megawatt-nya zaman Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Jadi ya sudah teman-teman PLN jadi NEPIO-nya, pelaksana. Nanti tim ad hoc-nya cukup ahli-ahli nuklir yang lain. Jadi enggak usah banyak gitu," ucapnya. 

Kesiapan teknis 

‎Pada fase persiapan, banyak konsultan dalam negeri serta pakar dari universitas ternama yang telah berpengalaman melakukan studi tapak. Namun, tantangan beratnya muncul pada aspek teknologi. Hingga saat ini, teknologi nuklir masih bergantung pada impor. 

‎Meski Indonesia memiliki kekayaan mineral yang melimpah, termasuk logam tanah jarang yang menjadi komponen vital teknologi nuklir, proses pengolahannya membutuhkan waktu lama dan kerja sama internasional yang kompleks.

Kepemilikan sumber daya alam tidak serta-merta menjamin kemudahan transfer teknologi jika tidak dibarengi dengan kesepakatan bisnis yang kuat.

‎Di sisi pembangunan, Indarto mencatat bahwa sektor teknik sipil (civil engineering) nasional sebenarnya sudah mumpuni untuk mendukung proyek PLTN. Namun, kendala finansial yang dialami sejumlah BUMN saat ini menjadi hambatan nyata.

Peringkat Dun & Bradstreet (DNB) yang rendah dapat memengaruhi kelulusan perusahaan dalam mengikuti tender proyek berskala internasional.‎

Baca juga: Perlombaan Nuklir Global, PLTN Turbin Gas Atasi Kendala Biaya dan Skala

‎Salah satu poin strategis yang ditekankan adalah pembentukan Technical Service Organization (TSO) lokal. Selama ini, Indonesia belum memiliki TSO mandiri dan masih bersandar pada pakar akademisi.

Keberadaan TSO lokal sangat penting agar Indonesia memiliki kedaulatan dalam menentukan jenis teknologi PLTN yang akan diadopsi, tanpa intervensi kepentingan dari pihak luar negeri.

‎"Kita perlu TSO yang mampu memberikan solusi teknis secara mandiri agar tidak terjadi konflik kepentingan saat memilih teknologi dari vendor asing," ujar Indarta.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau