"Ketika ekosistem laut rusak, dampaknya merembet ke seluruh lapisan masyarakat. Kami melihat makin banyak bukti bahwa perubahan ini dapat memicu kecemasan lingkungan, rasa duka, dan gangguan mental lainnya, terutama bagi mereka yang merasa memiliki ikatan batin yang kuat dengan laut," paparnya.
Para penulis menyatakan bahwa pemerintah dan lembaga kesehatan masyarakat harus bersiap menghadapi gelombang panas laut, sama seperti saat mereka bersiap menghadapi gelombang panas di darat.
Baca juga: Efek Domino El Niño Ancam Kelangsungan Ekosistem Laut Pasifik
Langkah-langkah tersebut dapat mencakup penggunaan prakiraan gelombang panas laut dalam perencanaan kesehatan masyarakat, memperhitungkan dampak kesehatan manusia saat mengambil keputusan tata kelola pesisir dan laut, serta memperkuat kerja sama antara ilmuwan laut, lembaga kesehatan, dan pengelola sumber daya alam.
Dr. Falkenberg mengatakan bahwa bersiap sebelum keadaan darurat terjadi dapat membuat masyarakat lebih tangguh saat gelombang panas laut menjadi makin parah.
"Menyadari dampak kesehatan ini adalah langkah pertama untuk melindungi masyarakat dengan lebih baik," ujarnya.
"Jika kita baru bertindak setelah bencana terjadi, dampak yang kita rasakan akan jauh lebih berat dibanding jika kita bertindak secara proaktif. Dengan memahami hubungan antara kesehatan laut dan kesehatan manusia, kita dapat membuat kebijakan yang lebih baik untuk melindungi masyarakat sekaligus ekosistem laut yang mereka andalkan," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya