KOMPAS.com - Meskipun penanganan HIV di seluruh dunia sudah makin maju, ketimpangan akses terhadap pencegahan, tes, dan pengobatan masih mengancam keselamatan anak-anak serta remaja dari penularan dan kematian yang sebetulnya bisa dicegah, menurut UNICEF.
Melansir Down to Earth, Senin (31/8/2026) perkiraan terbaru dari UNICEF menunjukkan bahwa sekitar 660 anak tertular HIV setiap harinya pada tahun 2025, sementara sekitar 200 anak meninggal akibat penyakit terkait AIDS.
Kondisi ini sebagian besar disebabkan oleh kurangnya akses terhadap layanan pencegahan, perawatan, dan pengobatan.
Sekitar 93.000 anak di bawah usia 15 tahun tertular HIV pada tahun 2025, sehingga jumlah anak di kelompok usia ini yang hidup dengan HIV mencapai 1,26 juta jiwa. Hampir 87 persen di antaranya tinggal di wilayah Afrika Sub-Sahara, yang masih menjadi daerah dengan dampak terparah dari wabah ini.
Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, 560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan
Namun, data tersebut juga menunjukkan adanya kemajuan besar. Penularan baru HIV pada anak di bawah usia 15 tahun telah turun sekitar 69 persen sejak tahun 2010, sebagian besar berkat makin luasnya penanganan penularan ibu ke anak.
Kematian akibat AIDS pada kelompok usia ini juga turun sekitar 84 persen dari titik terparahnya pada tahun 2001.
Sayangnya, kemajuan ini berjalan lebih lambat pada remaja. Diperkirakan 74.000 anak dan remaja di bawah usia 20 tahun meninggal akibat AIDS pada tahun 2025. Sekitar 70 persen kematian ini terjadi pada anak di bawah usia 10 tahun.
Meski angka kematian anak kecil sudah turun drastis, kematian remaja usia 15–19 tahun baru turun sekitar 46 persen sejak puncak kasusnya di tahun 2007.
Dampak dari wabah ini tidak hanya dirasakan oleh anak-anak pengidap HIV. Diperkirakan 13,5 juta anak di bawah usia 18 tahun telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka akibat AIDS pada tahun 2025.
Jutaan anak lainnya ikut menanggung dampak buruk seperti risiko kemiskinan, kehilangan tempat tinggal, putus sekolah, diskriminasi, hingga kehilangan masa depan.
UNICEF menegaskan bahwa penanganan HIV harus berfokus pada pencegahan penularan dari ibu ke anak serta mempercepat penghentian penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B.
Baca juga: Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi
UNICEF juga mendesak agar ketimpangan pengobatan pada anak dan remaja segera diatasi lewat diagnosis sejak dini serta perawatan medis anak yang lebih baik, sambil terus menjaga capaian yang ada di tengah perubahan pendanaan kesehatan dunia.
Lembaga ini menyampaikan bahwa data yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk menemukan kekurangan pada layanan kesehatan, sehingga bantuan yang terbatas bisa disalurkan tepat sasaran kepada masyarakat yang paling membutuhkan.
Selain itu badan PBB ini bekerja sama dengan berbagai negara untuk memperkuat sistem kesehatan dan pendataan, serta mengidentifikasi kekurangan di tingkat nasional maupun daerah.
Mereka juga menekankan bahwa menjadikan anak-anak dan remaja sebagai fokus utama dalam penanganan HIV global adalah kunci untuk mengakhiri ancaman AIDS dan mewujudkan generasi yang bebas dari AIDS.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya