Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

UNICEF: 660 Anak Terinfeksi HIV Setiap Hari Selama 2025

Kompas.com, 2 September 2026, 15:02 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Meskipun penanganan HIV di seluruh dunia sudah makin maju, ketimpangan akses terhadap pencegahan, tes, dan pengobatan masih mengancam keselamatan anak-anak serta remaja dari penularan dan kematian yang sebetulnya bisa dicegah, menurut UNICEF.

Melansir Down to Earth, Senin (31/8/2026) perkiraan terbaru dari UNICEF menunjukkan bahwa sekitar 660 anak tertular HIV setiap harinya pada tahun 2025, sementara sekitar 200 anak meninggal akibat penyakit terkait AIDS.

Kondisi ini sebagian besar disebabkan oleh kurangnya akses terhadap layanan pencegahan, perawatan, dan pengobatan.

Sekitar 93.000 anak di bawah usia 15 tahun tertular HIV pada tahun 2025, sehingga jumlah anak di kelompok usia ini yang hidup dengan HIV mencapai 1,26 juta jiwa. Hampir 87 persen di antaranya tinggal di wilayah Afrika Sub-Sahara, yang masih menjadi daerah dengan dampak terparah dari wabah ini.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, 560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan

Namun, data tersebut juga menunjukkan adanya kemajuan besar. Penularan baru HIV pada anak di bawah usia 15 tahun telah turun sekitar 69 persen sejak tahun 2010, sebagian besar berkat makin luasnya penanganan penularan ibu ke anak.

Kematian akibat AIDS pada kelompok usia ini juga turun sekitar 84 persen dari titik terparahnya pada tahun 2001.

Sayangnya, kemajuan ini berjalan lebih lambat pada remaja. Diperkirakan 74.000 anak dan remaja di bawah usia 20 tahun meninggal akibat AIDS pada tahun 2025. Sekitar 70 persen kematian ini terjadi pada anak di bawah usia 10 tahun.

Meski angka kematian anak kecil sudah turun drastis, kematian remaja usia 15–19 tahun baru turun sekitar 46 persen sejak puncak kasusnya di tahun 2007.

Fokus penanganan HIV

Dampak dari wabah ini tidak hanya dirasakan oleh anak-anak pengidap HIV. Diperkirakan 13,5 juta anak di bawah usia 18 tahun telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka akibat AIDS pada tahun 2025.

Jutaan anak lainnya ikut menanggung dampak buruk seperti risiko kemiskinan, kehilangan tempat tinggal, putus sekolah, diskriminasi, hingga kehilangan masa depan.

UNICEF menegaskan bahwa penanganan HIV harus berfokus pada pencegahan penularan dari ibu ke anak serta mempercepat penghentian penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B.

Baca juga: Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi

UNICEF juga mendesak agar ketimpangan pengobatan pada anak dan remaja segera diatasi lewat diagnosis sejak dini serta perawatan medis anak yang lebih baik, sambil terus menjaga capaian yang ada di tengah perubahan pendanaan kesehatan dunia.

Lembaga ini menyampaikan bahwa data yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk menemukan kekurangan pada layanan kesehatan, sehingga bantuan yang terbatas bisa disalurkan tepat sasaran kepada masyarakat yang paling membutuhkan.

Selain itu badan PBB ini bekerja sama dengan berbagai negara untuk memperkuat sistem kesehatan dan pendataan, serta mengidentifikasi kekurangan di tingkat nasional maupun daerah.

Mereka juga menekankan bahwa menjadikan anak-anak dan remaja sebagai fokus utama dalam penanganan HIV global adalah kunci untuk mengakhiri ancaman AIDS dan mewujudkan generasi yang bebas dari AIDS.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau