JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia berpeluang menciptakan 9 juta lapangan kerja hijau dalam 10 tahun ke depan seiring transformasi ekonomi rendah karbon. Bahkan, perkiraan paling konservatif pun Indonesia berpotensi menciptakan 5,3 juta lapangan baru dalam satu dekade ke depan.
Potensi ini tidak hanya terbatas pada sektor energi terbarukan, seperti target 100 Gigawatt dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), tetapi juga mencakup sektor pemeliharaan, produksi, dan jasa lingkungan lainnya.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) akan menerjemahkan dokumen peta jalan pengembangan tenaga kerja hijau Indonesia yang telah disusun ke dalam aksi nyata.
Baca juga: Kebutuhan Terus Meningkat, Pemerintah Siapkan Peta Jalan Green Jobs
Langkah konkret yang diambil adalah pendetailan judul pekerjaan (job title) dan kompetensi spesifik yang dibutuhkan oleh industri agar proses pelatihan vokasi dapat berjalan efektif.
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli mengatakan, pihaknya telah menyiapkan berbagai modalitas untuk mendukung ekosistem green jobs di Indonesia, di antaranya, penyediaan balai latihan, standarisasi kompetensi dengan penyusunan kurikulum pelatihan dan penyediaan instruktur ahli, serta sertifikasi dan rekognisi agar keterampilan diakui oleh industri.
"Kami di Kemnaker menyiapkan modalitas mulai dari tempat pelatihan, dalam konteks itu adalah skill siap kerja terkait dengan green jobs ini sendiri. Kami siapkan dari awal karena semangatnya transisi energi itu semangatnya adalah no one left behind," ujar Yassierli dalam Indonesia’s Green Jobs Conference (IGJC), Rabu (2/9/2026).
Generasi muda masih kesulitan mencari pekerjaan atau sebesar 17,37 persen tingkat pengangguran terbuka (TPT) usia 15-24 tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan keseluruhan kelompok umur.
Di sisi lain, perusahaan juga kesulitan mencari pekerjaan yang tepat atau sebesar 54 persen perusahaan di Indonesia mengidentifikasi skill gap sebagai permasalahan utama bisnis mereka.
Baca juga: Lapangan Kerja Green Jobs Meningkat hingga 27 Persen
Sebesar 48 persen perusahaan di Indonesia menyatakan kesulitan untuk memperoleh talenta yang sesuai kebutuhan. Ia mewaspadai potensi risiko lapangan kerja hijau di Indonesia lebih banyak menyerap pekerja dari luar negeri karena permasalahan skill gap.
"Sekali lagi, let's look bagaimana green jobs ini menjadi opportunity kita untuk penciptaan lapangan kerja baru. Kita harus bekerja bersama gar jangan sampai mismatch ini membesar ketika semakin banyak disrupsi-disrupsi yang terjadi di tempat kerja," tutur Yassierli.
Kemnaker akan mengubah ekosistem pendidikan vokasi dari yang semula bersifat supply-driven (berorientasi pada ketersediaan program pelatihan) menjadi demand-driven (berorientasi pada kebutuhan nyata industri).
"Kami ingin memastikan bahwa apa yang kami latih adalah apa yang dibutuhkan pasar. Kami akan menetapkan beberapa balai (latihan kerja) sebagai pusat pengembangan kompetensi khusus pekerjaan hijau," ucapnya.
Untuk mendukung langkah ini, Kemnaker telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 6 triliun untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM), yang mencakup target pelatihan vokasi bagi 340.000 orang dan program magang bagi 150.000 orang.
Melalui berkolaborasi dengan World Bank, Kemnaker berencana membangun 15 pusat pelatihan vokasi baru pada tahun depan.
Untuk menjawab potensi energi terbarukan sebagian besar berada di luar Pulau Jawa, Kemnaker akan membangun fasilitas pelatihan di daerah-daerah target agar masyarakat lokal dapat terserap secara maksimal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya