Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

ESG Perlu Jadi Strategi Jangka Panjang Industri Properti

Kompas.com, 3 September 2026, 15:36 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) di Industri properti (real estate) perlu menjadi strategi inti bisnis untuk menciptakan nilai jangka panjang.

Di tengah krisis energi global, biaya operasional bangunan seperti listrik, udara, hingga pemeliharaan, menjadi beban yang signifikan.

‎Presiden IS2P, Satrio Prakoso mengatakan, bangunan yang tidak efisien akan mengalami pembengkakan biaya yang secara langsung menggerus profitabilitas perusahaan.

Baca juga: Dorong Industri Hijau, Pabrik Farmasi Ini Pasang PLTS Atap Guna Tekan Emisi Karbon

‎"Kita harus membayar tagihan listrik, tagihan udara, biaya pemeliharaan. Apalagi, krisis energi akibat Selat Hormuz yang akan sangat berdampak ya, mempengaruhi harga energi ya, padahal bangunan itu lebih banyak menggunakan energi listrik ya, tapi di luar bangunan dia sangat terdampak," ujar Satrio dalam acara Signify Innovation Day 2026; Terangi Masa Depan, Rabu (2/9/2026).

‎Selain biaya operasional, ESG pada industri real estate juga akan mempengaruhi ekspektasi investor dan penjual (tenant), tekanan regulasi, serta risiko fisik akibat perubahan iklim.

Saat ini, pertimbangan investor untuk berinvestasi tidak hanya profitabilitas murni. Investor telah menjadikan ESG sebagai bagian integral dari proses uji tuntas.

‎Dari sisi pasar, terutama pada sektor perkantoran dan komersial, penyewa dari perusahaan multinasional kini mulai menjadikan sertifikasi hijau sebagai syarat mutlak (deal breaker).

Tanpa sertifikasi yang diakui, pengelola perusahaan berisiko kehilangan calon penyewa besar yang memiliki komitmen berkomitmen global.‎

‎"Kadang-kadang orang bertanya ya, apa sih, kenapa sih Indonesia tidak terlalu memaksa begitu ya terkait dengan ESG? Mereka dalam proses waktu itu, ya mungkin lebih lambat. Tapi kalau dari saya lihat, itu bukan penggerak utama. Penggerak kunci yang terjadi adalah benar-benar didorong oleh pasar, bukan didorong oleh regulator," tutur Satrio.

Baca juga: Jejak Karbon Fast Fashion Bisa Dikurangi di Seluruh Siklus, Begini Caranya

‎Di sisi lain, Indonesia akan menerapkan standar Pernyataan Standar Pengungkapan Keberlanjutan (PSPK/IFRS) 1 dan PSPK 2 dalam pelaporan perusahaan mulai 1 Januari 2027.

Tren regulasi tentang Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) juga bergerak ke arah yang semakin ketat, bahkan tidak melonggar. Jadi, di depannya, industri real estate akan semakin ditekan untuk mematuhi ESG.

‎Kendati urgensi ESG sudah sangat jelas, Satrio mengakui adanya hambatan rill di lapangan. Salah satu tantangan terbesar adalah Strategy Execution Gap, di mana perusahaan memiliki target Net Zero Emission (NZE) tanpa disertai peta jalan yang jelas untuk mencapainya.

Audit energi

‎Selain itu, ketersediaan data sering menjadi batu sandungan. Banyak pemilik gedung hanya mengetahui total tagihan listrik bulanan tanpa memiliki data granular mengenai penggunaan energi untuk sistem pencahayaan atau pendingin ruangan (HVAC).

Padahal, diagnosis yang akurat memerlukan data yang mendalam melalui audit energi atau udara sebagai langkah awal intervensi. Dengan audit energi, pengelola gedung dapat mendiagnosis masalah secara granular dan menentukan prioritas untuk efisiensi.

‎Menurut Satrio, langkah kecil seperti penempatan lampu ke sistem LED merupakan 'low hanging Fruit' yang memberikan dampak signifikan dengan biaya investasi yang relatif rendah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau