Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Sebabkan 560 Juta Anak Terpapar Panas Ekstrem, Bagaimana di Indonesia?

Kompas.com, 3 September 2026, 15:43 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebanyak 560 juta anak berusia 0-9 tahun di seluruh dunia saat ini mengalami setidaknya satu bulan tambahan (30 hari atau lebih) tekanan panas ekstrem (heat stress) setiap tahun akibat krisis iklim yang disebabkan aktivitas manusia. 

‎Namun, paparan heat stress tersebut tidak dialami secara merata oleh semua kelompok usia. Anak-anak yang memiliki kontribusi sangat kecil terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) historis, justru menanggung beban terberat.

‎Analisis dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) dalam artikel "Age-specific exposure to human-induced increases in humid heat" mengungkapkan, ketimpangan antargenerasi yang sangat mencolok. 

‎Kendati mengalami ancaman yang sama, paparan panas ekstrem pada anak-anak kini hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan orang dewasa berusia 60-69 tahun, yang mencapai 190 juta orang atau 30 persen dari populasi.

‎Menurut penulis utama studi dan peneliti PhD di VUB, Rosa Pietroiusti, anak-anak terpapar panas ekstrem lebih banyak karena kelompok usia ini umumnya menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan.

‎"Krisis iklim telah menyebabkan ratusan juta anak menderita akibat panas berbahaya di seluruh dunia, yang menimbulkan risiko serius bagi kesehatan mereka. Anak-anak di negara berkembang menghadapi paparan ekstrem iklim yang tidak proporsional saat ini maupun masa depan, meskipun kontribusi mereka terhadap emisi gas rumah kaca paling sedikit dalam sejarah," ujar Rosa dalam keterangan tertulis, Kamis (3/9/2026).

‎Di sisi lain, banyak anak yang memiliki hanya sedikit cara untuk melindungi diri dari paparan panas ekstrem. Kemiskinan, perumahaan tidak memadai, akses terbatas terhadap pendinginan, dan sistem perawatan kesehatan yang kewalahan berkontribusi memposisikan anak-anak dalam kondisi rentan terhadap paparan panas ekstrem.

‎Diketahui, krisis iklim meningkatkan frekuensi, intensitas, dan durasi kondisi panas ekstrem — entah kering maupun lembap — di seluruh dunia. Dalam konteks kesehatan terkait panas, stres panas mengacu pada kondisi lingkungan — seperti suhu, kelembapan, radiasi matahari, dan angin — serta faktor pribadi — seperti aktivitas dan pakaian — yang memberikan beban termal bersih pada tubuh. Paparan stres panas dapat menyebabkan berbagai dampak kesehatan yang merugikan pada manusia, terutama pada kelompok rentan dan populasi yang menghadapi hambatan struktural dalam beradaptasi terhadap panas.

‎Panas yang berlebihan mengganggu kemampuan tubuh untuk melakukan termoregulasi, memperparah penyakit kardiovaskular dan pernapasan yang sudah ada sebelumnya, serta meningkatkan risiko serangan panas (heat stroke), gagal ginjal, dan kerusakan paru-paru (10). Ketika suhu tinggi terjadi bersamaan dengan kelembapan tinggi, pendinginan melalui penguapan keringat menjadi kurang efektif, sehingga meningkatkan risiko penumpukan panas yang berbahaya. Kerentanan terhadap stres panas bervariasi berdasarkan usia.

‎Nasib negara berkembang

‎Berdasarkan temuan dari VUB, peningkatan terbesar dalam tekanan panas lembap (humid heat) akibat perubahan iklim terjadi di wilayah tropis dan negara-negara berkembang atau miskin. Dengan peningkatan populasi lebih muda beriringan dengan semakin banyak anak-anak yang terdampak tekanan panas.

‎Sebagai negara berkembang, Indonesia termasuk dalam wilayah dengan jumlah hari tekanan panas atribusi tertinggi di dunia, bahkan mencapai 90 hingga 150 hari per tahun. Di bawah skenario proyeksi perubahan iklim pada pemanasan global 1,5 derajat Celcius dan 2 derajat Celcius – yang sangat mungkin terlampaui jika negara-negara melanjutkan kebijakan saat ini, jumlah anak yang terdampak oleh tambahan satu bulan panas berbahaya diperkirakan akan meningkat masing-masing menjadi 620 juta (49 persen) dan 650 juta (59 persen) anak usia 0–9 tahun. 

‎Pada suhu 1,5 derajat Celcius, sekitar 4 persen anak usia 0-9 tahun (51 juta anak) diproyeksikan mengalami 150 hari atau lebih tekanan panas atribusi per tahun, meningkat dari 3 persen (40 juta anak) pada kondisi saat ini. Pada suhu 2 derajat Celcius, angka ini melonjak menjadi 10 persen (115 juta anak). 

‎VUB menggarisbawahi bahwa humid heat lebih berbahaya dibandingkan panas kering karena menghambat kemampuan tubuh untuk berkeringat dan mendinginkan diri, yang menyebabkan tingkat tekanan panas yang berbahaya. Anak-anak sangat rentan terhadap panas ekstrem karena tubuh mereka memanas lebih cepat ketimbang orang dewasa. Anak-anak juga berkeringat kurang efisien dan mereka bergantung pada perawatan orang dewasa.

‎Kepanasan dapat menyebabkan risiko kesehatan yang parah. Ini termasuk dehidrasi dan sengatan panas yang berbahaya, serta berdampak pada pembelajaran dan perkembangan kognitif.  

‎Mengacu pada temuan tersebut, perlu kebijakan mitigasi dan adaptasi krisis iklim untuk melindungi anak-anak dari risiko kesehatan akibat panas.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
LSM/Figur
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
Pemerintah
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Pemerintah
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau