KOMPAS.com - Laporan baru dari Apparel Impact Institute (Aii) memperkirakan bahwa emisi dari sektor fashion kembali meningkat selama dua tahun berturut-turut, dari 2023 hingga 2024 sehingga jejak karbonnya melonjak 13,8 persen hanya dalam waktu dua tahun.
Melansir Edie, Selasa (1/9/2026) dari tahun 2023 hingga 2024, emisi di sektor pakaian naik 6,2 persen menjadi sedikit di atas satu gigaton setara karbon dioksida (CO2). Kenaikan ini menyusul lonjakan sebesar 7,5 persen pada tahun sebelumnya.
Data terbaru ini diungkapkan dalam laporan tahunan Aii bertajuk Taking Stock of Progress Against the Roadmap to Net Zero 2026 yang terbit 1 September.
Laporan yang dipublikasikan setiap tahun ini memantau sejauh mana sektor pakaian telah berupaya mencapai target pemangkasan emisi sebesar 45 persen pada tahun 2030, dibandingkan dengan tingkat emisi pada tahun 2019.
Target ini bertujuan untuk menjaga agar dampak iklim dari industri fashion tetap terkendali dan sejalan dengan Kesepakatan Paris. Menurut laporan tersebut, hingga Juni tahun ini, lebih dari 700 perusahaan di industri pakaian telah berkomitmen atau memvalidasi target pemangkasan emisi mereka melalui Science-Based Targets initiative (SBTi).
Baca juga: Industri Pakaian Disebut Terlalu Lamban Kurangi Emisi Karbon
Angka ini meningkat dari sekitar 600 perusahaan pada tahun sebelumnya, dan jauh melesat dibanding sekitar 12 perusahaan pada tahun 2019.
Penyebab utama kenaikan emisi baru-baru ini adalah melonjaknya produksi bahan serat pakaian, menurut laporan tersebut. Laporan itu secara khusus menyoroti ketergantungan industri yang semakin tinggi pada bahan poliester berbahan dasar minyak bumi atau fosil.
"Oleh karena itu, mengurangi emisi di industri pakaian memerlukan tindakan di kedua sisi yakni menekan tingkat karbon dari produksi dan manufaktur bahan, sekaligus mengendalikan pertumbuhan jumlah produksi bahan yang bisa merusak semua kemajuan tersebut," tulis laporan tersebut.
Pasalnya, jika perusahaan-perusahaan pakaian terus berjalan dengan tren saat ini, total emisi diperkirakan akan melesat hingga 1,277 gigaton pada tahun 2030.
Aii mencatat bahwa bagian terbesar emisi (51 persen) berasal dari proses pembuatan dan penyelesaian bahan kain, yang menghasilkan 512,66 megaton CO2.
Produksi bahan baku dan pengolahan awal menyumbang 26 persen dari total jejak karbon, sementara pengolahan tahap menengah serta pembuatan dan perakitan produk akhir masing-masing menyumbang 14,5 persen dan 8,5 persen.
Penulis laporan menekankan bahwa hambatan-hambatan utama yang diidentifikasi sejak awal masih menjadi ganjalan besar bagi industri fashion.
Hambatan-hambatan tersebut meliputi terbatasnya akses pendanaan bagi produsen untuk berinvestasi pada solusi energi bersih, kurangnya insentif bagi merek pakaian untuk membeli dan berinvestasi berdasarkan target iklim jangka panjang.
Baca juga: Jejak Karbon Fast Fashion Bisa Dikurangi di Seluruh Siklus, Begini Caranya
Selain itu juga akses listrik terbarukan dan pemanas rendah karbon yang terbatas di negara-negara pusat manufaktur utama.
Hambatan lain adalah bahan ramah lingkungan yang lebih mahal atau kualitasnya masih di bawah bahan konvensional. Sementara bahan inovasi masa depan yang berpotensi bagus masih menghadapi kendala biaya tinggi dan kualitas yang sama.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya