Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir

Kompas.com, 4 September 2026, 10:02 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Gelombang panas laut dapat berdampak buruk bagi kesehatan anak-anak yang tinggal di pemukiman pesisir negara berkembang.

Hal ini terungkap dalam penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari Penn State dan University of North Carolina at Chapel Hill.

Gelombang panas laut sendiri merupakan yaitu kondisi saat suhu air laut menjadi jauh lebih panas dari biasanya.

Melansir Phys, Selasa (1/9/2026) studi yang baru saja diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini menemukan bahwa paparan gelombang panas laut berkaitan erat dengan meningkatnya risiko anak-anak mengalami gizi buruk akut, tubuh terlalu kurus, stunting, hingga kematian.

Masyarakat pesisir bergantung pada hasil laut

Penulis pendamping studi, Brian Thiede, profesor sosiologi pedesaan dan demografi di Penn State, menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena iklim pesisir sangat bergantung pada hasil laut.

Baca juga: UNICEF: 660 Anak Terinfeksi HIV Setiap Hari Selama 2025

Ikan merupakan sumber protein dan gizi penting bagi masyarakat pesisir. Gelombang panas laut dapat merusak pasokan ikan karena mengubah wilayah jelajah ikan, menurunkan kualitas gizi ikan, hingga menyebabkan kematian massal pada ikan.

"Gangguan pada ekosistem laut ini bisa berdampak langsung pada pasokan makanan, serta menimbulkan dampak turunan dengan menekan penghasilan nelayan dan menaikkan harga pangan bagi konsumen," ujarnya.

"Faktor-faktor ini dapat memengaruhi kemampuan keluarga untuk membeli makanan atau memenuhi kebutuhan penting lainnya, seperti layanan kesehatan," kata Thiede lagi.

Thiede menambahkan bahwa temuan ini mempertegas bahwa perubahan iklim telah merusak banyak sistem di bumi yang sangat krusial bagi kesehatan dan kelangsungan hidup manusia, termasuk masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dan pangan mereka pada laut.

"Para peneliti dan pembuat kebijakan harus memberikan perhatian lebih pada masyarakat pesisir dan membedakan secara jelas risiko yang dihadapi warga pesisir dibanding warga di pedalaman. Masyarakat pesisir menghadapi risiko iklim yang sangat khas akibat kondisi lingkungan dan mata pencaharian mereka," terang Thiede.

Risiko gelombang panas makin meningkat

Menurut para peneliti, gelombang panas laut kini makin sering terjadi dan kondisinya makin parah seiring perubahan iklim global. Gelombang panas ini dapat memicu berbagai perubahan lingkungan lainnya yang berdampak langsung pada kehidupan manusia, dengan masyarakat pesisir di negara-negara berkembang menjadi kelompok yang paling rentan.

Thiede menyampaikan bahwa perhatian terhadap dampak kesehatan akibat gelombang panas laut ini sangat penting karena beberapa alasan, salah satunya adalah kenyataan bahwa sebagian besar penduduk dunia memang tinggal di kawasan sekitar pesisir.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, 560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan

"Suhu lautan meningkat dengan sangat cepat, membuat gelombang panas ini makin sering terjadi dan makin parah. Selain itu, kondisi kesehatan yang buruk memiliki dampak luas dan beruntun, mulai dari ancaman nyata seperti penyakit dan kematian, hingga dampak buruk pada pendidikan dan pekerjaan yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi di negara-negara miskin," papar Thiede lagi.

Dalam studi ini, para peneliti menggabungkan data kesehatan serta tingkat kelangsungan hidup anak-anak dan perempuan dari lebih dari 9.800 wilayah pesisir di 36 negara berkembang, dengan data suhu permukaan laut global.

Selanjutnya, mereka melacak gelombang panas laut yang terjadi di perairan dekat pemukiman warga pada bulan-bulan dan tahun-tahun sebelum kesehatan mereka diperiksa.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau