KOMPAS.com - Setiap tahun, pemerintah dan organisasi non-pemerintah menghabiskan dana tak sedikit untuk kampanye yang dirancang agar orang-orang mau bertindak menghadapi perubahan iklim.
Namun, strategi mana yang paling ampuh? Apakah kampanye harus mengandalkan rasa takut atau pesan positif, mengedepankan fakta atau menyentuh emosi, serta berfokus pada kata-kata atau gambar?
Melansir Phys, Selasa (1/9/2026) tim peneliti dari Consumer Decision and Sustainable Behavior Lab UNIGE telah melakukan penelitian berskala besar yang pertama untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Para peneliti menganalisis dan menggabungkan temuan dari 71 studi yang menguji dampak strategi komunikasi iklim tertentu, dengan mengumpulkan data dari total 216.000 peserta.
Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam Journal of Environmental Psychology.
Baca juga: 70 Persen Anak Muda Pilih Perusahaan yang Peduli Lingkungan
Strategi-strategi yang diteliti mencakup 15 pendekatan berbeda, mulai dari menyajikan informasi berbasis fakta untuk mengisi kekurangan pengetahuan, hingga menggugah emosi, contohnya dengan membangkitkan rasa kagum pada keindahan alam.
Ada juga pendekatan yang dirancang untuk mempermudah pengambilan keputusan dengan menyoroti dampak tertentu dari perubahan iklim, seperti akibatnya pada kesehatan atau keuangan.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa hampir semua strategi ini berpotensi memberikan dampak positif pada niat dan perilaku masyarakat, serta pada dukungan mereka terhadap kebijakan iklim," jelas Tobias Brosch, direktur laboratorium yang memimpin penelitian ini.
Namun strategi yang menekankan tanggung jawab individu dan kelompok misalnya saja seperti pesan 'keberhasilan ini sangat bergantung pada diri Anda' justru berisiko memicu penolakan atau sikap defensif dari masyarakat.
Namun, tidak semua strategi yang berhasil memiliki tingkat efektivitas yang sama.
Kampanye yang memicu respons emosional yang kuat terutama melalui penyampaian cerita atau dengan membangkitkan rasa kagum pada keindahan alam jauh lebih efektif daripada sekadar menyajikan fakta dan bukti ilmiah.
Baca juga: Pelajar Diajak Lebih Peduli Lingkungan Lewat Industri Populer
Pesan yang menyentuh sisi moral, etika, atau bahkan agama yang menekankan hubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri dan wajib kita jaga juga memberikan hasil yang lebih baik.
Para peneliti juga menemukan bahwa pesan akan jauh lebih efektif jika dilengkapi dengan gambar atau visual.
"Di luar perbedaan tersebut, kenyataan bahwa hampir semua strategi ini memberikan dampak positif adalah hal yang menggembirakan," kata Brosch.
"Ini sangat menyemangati karena sebagian besar studi yang diteliti hanya mengukur efek dari pesan yang dilihat orang sebanyak satu kali saja. Padahal kita tahu bahwa pesan yang disampaikan berulang kali bisa memperkuat dampaknya.
Di saat bukti ilmiah sudah sangat jelas dan tantangannya adalah mengubah pengetahuan menjadi aksi nyata, masih ada ruang yang sangat luas untuk memperbaiki cara kita berkomunikasi tentang iklim," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya