Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia

Kompas.com, 4 September 2026, 16:11 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Aturan anti-deforestasi Uni Eropa diperkirakan bakal memengaruhi industri kopi dalam skala yang jauh lebih luas, menurut riset terbaru dari organisasi nirlaba Trase.

Melansir ESG News, Kamis (3/9/2/2026) Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EUDR) mewajibkan perusahaan yang menjual komoditas tertentu di pasar Eropa untuk membuktikan bahwa produk mereka bebas dari deforestasi.

Para pengimpor juga wajib melacak asal-usul komoditas hingga ke lahan tepat kopi tersebut ditanam.

Bagi pemasok kopi skala besar, menerapkan standar ketat ini hanya pada pengiriman ke Eropa justru terbukti lebih rumit dan mahal dibanding menerapkan standar yang sama untuk seluruh pengiriman ke seluruh dunia.

Trase menemukan, perusahaan yang melayani pasar Eropa sekaligus pasar negara lain pada akhirnya berpeluang menerapkan aturan pelacakan Uni Eropa ini ke seluruh rantai pasok kopi mereka.

"Bagi perusahaan-perusahaan tersebut, menerapkan sistem pelacakan ke seluruh rantai pasok mereka bisa jadi cara yang paling hemat biaya. Ini artinya undang-undang anti-deforestasi ini bisa berdampak jauh lebih besar daripada sekadar wilayah Uni Eropa sendiri," kata Trase.

Baca juga: Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi

Memicu kritik berbagai pihak

Regulasi Anti-Deforestasi Uni Eropa (EUDR) sempat memicu kritik dari para produsen, pedagang, dan pemerintah yang mengkhawatirkan nasib petani kecil.

Salah satu kekhawatirannya adalah eksportir akan memisah rantai pasok mereka di mana kopi yang mudah dilacak dikirim ke Eropa, sementara kopi dari petani di daerah terpencil yang minim dokumen akan dialihkan ke negara lain.

Hasil seperti itu bisa membuat petani kecil kehilangan akses ke salah satu pasar kopi paling bernilai di dunia.

Namun, analisis Trase menunjukkan bahwa pemisahan rantai pasok semacam itu sebenarnya tidak selalu menguntungkan secara bisnis.

"Kenyataan bahwa banyak perusahaan mengirim kopi ke Uni Eropa sekaligus ke pasar negara lain menunjukkan bahwa standar yang sama justru lebih mudah diterapkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut di luar Eropa," sebut laporan itu.

Temuan ini bukan berarti risiko bagi petani kecil hilang begitu saja. Para petani dan koperasi tetap harus menanggung biaya serta beban administrasi untuk pendataan lokasi lahan, pelacakan, dan pengumpulan data rantai pasok.

Meskipun demikian, jika para pedagang besar menerapkan standar ini secara meluas, hal itu bisa mendorong pembentukan sistem pelacakan di seluruh wilayah penghasil kopi, bukan hanya terbatas pada pengiriman ke Uni Eropa.

Aturan EUDR ubah rantai pasok global

Bagi perusahaan multinasional, temuan ini mengubah kepatuhan aturan EUDR dari yang tadinya sekadar urusan impor Eropa menjadi keputusan tata kelola rantai pasok global secara menyeluruh.

Perusahaan harus membandingkan mana yang lebih murah yakni memisahkan produk yang memenuhi syarat aturan dengan produk biasa, atau menerapkan satu standar pelacakan yang sama di seluruh jaringan pasokan dunia mereka.

Baca juga: 60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau