KOMPAS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, bauran energi baru terbarukan (EBT) mencapai 17,3 persen pada triwulan semester (TW) II tahun 2026.
Capaian tersebut masih berada dalam rentang target rencana strategis Kementerian ESDM yang ditetapkan sebesar 17-21 persen. Padahal, bauran EBT di dalam pasokan energi nasional sempat menyentuh angka 18,3 persen pada TW I tahun ini.
Untuk kapasitas terpasang pemanfaatan EBT terus mengalami kenaikan, mulai dari 12,04 gigawatt (GW) pada 2021, menjadi 16,32 GW di TW II tahun 2026.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengatakan, kenaikan kapasitas terpasang tersebut menunjukkan peningkatan investasi untuk EBT, meski tergolong landai.
Baca juga: Potensi EBT 3.687 GW, Pemerintah Dorong Proyek Energi Terbarukan di Daerah
"Nah, ini hal yang pasti kami perlu perhatikan sehingga bagaimana cara mencapai sesuai Renstra yang sudah dikeluarkan oleh Dewan Energi Nasional (DEN)," ujar Eniya dalam acara The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026, dikutip secara virtual, Jumat (4/9/2026).
Merujuk pada Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), bauran EBT harus terus ditingkatkan sebesar 30 persen hingga tahun 2034.
Dari total 17,3 persen bauran energi nasional TW II tahun 2026, pangsa kontribusi EBT terbagi 9,33 persen untuk listrik. Sisanya, sekitar 7,97 persen untuk non-listrik. Ketika ditinjau lebih lanjut, pembangkit listrik tenaga bio berkontribusi sebesar 4,19 persen.
Untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 2,69 persen, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) 1,84 persen, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 0,51 persen, pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) 0,06 persen, dan lainnya 0,06 persen.
Sementara itu, non-listrik diperuntukkan untuk FAME sebesar 5,01 persen, biomassa 2,82 persen, dan lainnya 0,13 persen.
Baca juga: Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
"Jadi, sumber energi di Indonesia yang paling mempunyai share terbanyak adalah bioenergi. Dan di sini kalau kita lihat PLTS masih sangat kecil, sehingga dalam tahun ini berbagai program kita luncurkan, berbagai regulasi kami persingkat untuk bagaimana kemudahan investasi ekosistemnya itu bisa terfasilitasi dengan baik," tutur Eniya.
Padahal, program PLTS berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) sudah lama diluncurkan. Meski baru-baru ini, sebagai langkah awal, pemerintah meluncurkan proyek pertama berkapasitas 5,3 GWp yang mencakup 14 proyek PLTS di enam provinsi.
Di sisi lain, peningkatan bauran EBT dilakukan dengan melonggarkan regulasi perizinan untuk menggenjot PLTP. Kementerian ESDM juga sudah membuka lelang sebanyak 14 lokasi untuk PLTP dengan target 732 megawatt (MW).
"Nah ini pembukaan lelang yang serentak ini kami berharap investasi panas bumi itu bisa turun, sehingga profit dari margin dari pengembang-pengembang ini juga bisa lebih naik ke dua digit lah begitu. Jadi kalau pembahasan di panas bumi seperti itu. Nah kita harapkan lelang ini juga bisa mencapai bauran energi yang lebih tinggi," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya