KOMPAS.com - Karyawan yang menyuarakan aksi iklim kemungkinan akan diuntungkan dan merasakan manfaat bagi karier mereka selama kepedulian itu sejalan dengan tujuan bisnis perusahaan.
Sebaliknya, aksi yang murni didorong oleh idealisme lingkungan sering kali tidak diakui.
Hal tersebut terungkap dalam sebuah penelitian terbaru dari University of Bath dan Leuphana University of Lüneburg.
Melansir Phys, Kamis (3/9/2026) dipublikasikan dalam jurnal Human Relations, studi ini meneliti aksi iklim di kalangan karyawan perusahaan jasa profesional multinasional, yang sebagian besar berprofesi sebagai konsultan manajemen.
Baca juga: Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Penelitian ini menemukan bahwa organisasi cenderung memberi penghargaan pada inisiatif lingkungan jika hal tersebut memberikan keuntungan komersial, seperti menarik klien baru, memperluas layanan keberlanjutan, atau meningkatkan reputasi perusahaan.
Karyawan yang tergerak terutama oleh tujuan lingkungan atau sosial sering kali kurang mendapatkan apresiasi dan upaya mereka bisa dikesampingkan.
Beberapa karyawan mengaku memisahkan aksi iklim ini dari pekerjaan utama mereka, melakukannya di waktu luang, atau bahkan menyembunyikan keterlibatan mereka dari manajer karena khawatir dianggap mengganggu pekerjaan klien.
"Banyak perusahaan mendorong karyawannya untuk menyuarakan isu iklim dan keberlanjutan. Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa tidak semua bentuk aksi direspons secara sama," kata Dr. Stefanie Gustafsson dari University of Bath's School of Management.
"Karyawan paling berpeluang mendapat penghargaan karier saat aksi mereka berkaitan langsung dengan prioritas bisnis. Sementara itu, aksi yang murni didorong oleh idealisme sering kali kurang dihargai, padahal membutuhkan komitmen pribadi yang besar," terangnya lagi.
Studi yang berdasarkan 58 wawancara dengan para profesional yang tergabung dalam kelompok aksi iklim internal ini menunjukkan bahwa cara perusahaan memberi penghargaan terhadap aksi iklim dapat menjelaskan mengapa upaya keberlanjutan di tempat kerja sering kali hanya menghasilkan perbaikan kecil, bukan perubahan yang benar-benar mendasar.
Aksi yang mendukung pencapaian pendapatan, reputasi, atau target strategis perusahaan jauh lebih mudah diterima dalam sistem organisasi. Sebaliknya, aksi yang mengkritik atau menantang kebiasaan lama perusahaan justru sulit mendapatkan dukungan.
"Temuan kami menunjukkan bahwa perusahaan memang telah membuka peluang karier baru yang berfokus pada keberlanjutan, tetapi sistem dasar yang menentukan hal apa yang layak diberi penghargaan sebenarnya belum banyak berubah," kata Dr. Katharina Hug dari Leuphana University of Lüneburg.
Baca juga: Studi: Penggunaan Media Sosial Internal Kantor Bisa Tekan Turnover Karyawan
Jika perusahaan ingin para karyawannya berkontribusi pada perubahan lingkungan yang nyata, mereka mungkin perlu merombak kembali cara mengevaluasi kinerja, penghargaan, dan kenaikan karier.
Para peneliti menyimpulkan bahwa aksi di tempat kerja dapat menjadi wadah penting bagi karyawan untuk mengasah keahlian di bidang keberlanjutan, membangun komunitas yang saling mendukung, serta merenungkan bagaimana karier mereka bisa bermanfaat bagi masyarakat.
Namun, selama perusahaan tidak memperluas kriteria penilaian dan penghargaan, aksi yang didorong oleh idealisme murni akan terus mengorbankan waktu pribadi dan perkembangan profesional karyawan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya