Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan

Kompas.com, 7 September 2026, 12:37 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Karyawan yang menyuarakan aksi iklim kemungkinan akan diuntungkan dan merasakan manfaat bagi karier mereka selama kepedulian itu sejalan dengan tujuan bisnis perusahaan.

Sebaliknya, aksi yang murni didorong oleh idealisme lingkungan sering kali tidak diakui.

Hal tersebut terungkap dalam sebuah penelitian terbaru dari University of Bath dan Leuphana University of Lüneburg.

Melansir Phys, Kamis (3/9/2026) dipublikasikan dalam jurnal Human Relations, studi ini meneliti aksi iklim di kalangan karyawan perusahaan jasa profesional multinasional, yang sebagian besar berprofesi sebagai konsultan manajemen.

Baca juga: Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil

Penelitian ini menemukan bahwa organisasi cenderung memberi penghargaan pada inisiatif lingkungan jika hal tersebut memberikan keuntungan komersial, seperti menarik klien baru, memperluas layanan keberlanjutan, atau meningkatkan reputasi perusahaan.

Karyawan yang tergerak terutama oleh tujuan lingkungan atau sosial sering kali kurang mendapatkan apresiasi dan upaya mereka bisa dikesampingkan.

Beberapa karyawan mengaku memisahkan aksi iklim ini dari pekerjaan utama mereka, melakukannya di waktu luang, atau bahkan menyembunyikan keterlibatan mereka dari manajer karena khawatir dianggap mengganggu pekerjaan klien.

"Banyak perusahaan mendorong karyawannya untuk menyuarakan isu iklim dan keberlanjutan. Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa tidak semua bentuk aksi direspons secara sama," kata Dr. Stefanie Gustafsson dari University of Bath's School of Management.

"Karyawan paling berpeluang mendapat penghargaan karier saat aksi mereka berkaitan langsung dengan prioritas bisnis. Sementara itu, aksi yang murni didorong oleh idealisme sering kali kurang dihargai, padahal membutuhkan komitmen pribadi yang besar," terangnya lagi.

Studi yang berdasarkan 58 wawancara dengan para profesional yang tergabung dalam kelompok aksi iklim internal ini menunjukkan bahwa cara perusahaan memberi penghargaan terhadap aksi iklim dapat menjelaskan mengapa upaya keberlanjutan di tempat kerja sering kali hanya menghasilkan perbaikan kecil, bukan perubahan yang benar-benar mendasar.

Aksi yang mendukung pencapaian pendapatan, reputasi, atau target strategis perusahaan jauh lebih mudah diterima dalam sistem organisasi. Sebaliknya, aksi yang mengkritik atau menantang kebiasaan lama perusahaan justru sulit mendapatkan dukungan.

"Temuan kami menunjukkan bahwa perusahaan memang telah membuka peluang karier baru yang berfokus pada keberlanjutan, tetapi sistem dasar yang menentukan hal apa yang layak diberi penghargaan sebenarnya belum banyak berubah," kata Dr. Katharina Hug dari Leuphana University of Lüneburg.

Baca juga: Studi: Penggunaan Media Sosial Internal Kantor Bisa Tekan Turnover Karyawan

Jika perusahaan ingin para karyawannya berkontribusi pada perubahan lingkungan yang nyata, mereka mungkin perlu merombak kembali cara mengevaluasi kinerja, penghargaan, dan kenaikan karier.

Para peneliti menyimpulkan bahwa aksi di tempat kerja dapat menjadi wadah penting bagi karyawan untuk mengasah keahlian di bidang keberlanjutan, membangun komunitas yang saling mendukung, serta merenungkan bagaimana karier mereka bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Namun, selama perusahaan tidak memperluas kriteria penilaian dan penghargaan, aksi yang didorong oleh idealisme murni akan terus mengorbankan waktu pribadi dan perkembangan profesional karyawan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau